Efek Kelelahan Pada Kecelakaan Kerja

Ditulis Oleh : Bramantyo (Mahasiswa Teknik Industri ITS)

bram

Belakangan ini efek dari kelelahan (fatigue) telah menjadi faktor utama dari penyebab kecelakaan, terutama kecelakaan yang terjadi pada industri. Tingkat dari kelelahan seseorang bisa mempengaruhi performansi manusia dari tingkat sepele hingga sangat berbahaya. Kasus kelelahan yang biasanya terjadi adalah kelelahan akibat kurangnya jam tidur, dan kasus tersebut juga bisa menyebabkan kecelakaan yang sangat fatal dan berakibat korban jiwa berjatuhan, kerusakan pada lingkungan, atau biaya perbaikan yang sangat mahal. Pada tahun 1999 National Safety Council melaporkan bahwa 80% dari kecelakaan yang ada di industri berasal dari human error dan mengakibatkan kerugian sebesar 98.5 milyar dollar. Sebagai beberapa contoh kecelakaan yang diduga akibat dari human error yaitu, Chernobyl, Exxon Valdez, Davis-Besse, Staten Island Ferry, dan sebagainya. Peristiwa kecelakaan yang memakan banyak korban tersebut diindikasikan berasal dari kesalahan operator yang terlalu lelah akibat bekerja terlalu lama dan kekurangan waktu tidur. Kondisi operator yang kurang prima mengakibatkan reaksi yang salah terhadap suatu kejadian sehingga berakibat pada kecelakaan yang sangat fatal.

Walaupun “kelelahan” adalah istilah yang sudah lumrah dalam kehidupan sehari-hari kita, hal tersebut tidak bisa secara eksplisit didefinisikan atau diukur. Efek dari kelelahan terhadap performansi seseorang harus diukur secara tidak langsung melalui performance metrics, seperti contoh adalah reaction time atau lamanya seseorang bereaksi terhadap suatu kejadian. Ada banyak sekali sebab dan jenis dari fatigue, namun pada jurnal ini jenis fatigue yang dibahas adalah kelelahan akibat kurangnya waktu tidur. Human error adalah kontributor utama dari sebuah resiko, salah satu cara untuk menangani human error yaitu dengan melakukan human reliability analaysis (HRA). HRA ialah suatu cara yang fokus terhadap mengidentifikasi, memodelkan, dan mengkuantitatifkan probabilitas dari human error. Beberapa metode HRA yang akan dibahas pada jurnal ini yaitu THERP, ATHEANA, dan SPAR-H. Namun sebelum membahas tentang ketiga metode HRA tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari fatigue itu sendiri.

Fatigue adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami perasaan jenuh atau lelah. Berbeda dengan physical fatigue, mental fatigue hanya bisa didefinisikan ketika sudah diketahui akibatnya daripada sebabnya. Fatigue tidak hanya berasal dari aktivitas yang terlalu lama, tetapi juga bisa berasal dari faktor psikologis, sosioekonomis, dan lingkungan yang mempengaruhi tubuh dan pikiran seseorang. Grandjean menganalogikan fatigue dengan sebuah ember yang diisi secara terus menerus. Ember yang terus menerus diisi oleh pekerjaan yang berulang, lingkungan yang tidak bersahabat, intensitas dan lamanya suatu pekerjaan, serta faktor psikologis dan fisik, hanya bisa dikosongkan dengan cara beristirahat. Akerstedt juga menyatakan bahwa tidak ada definisi pasti dari fatigue. Fatigue umumnya didefinisikan sebagai berkurangnya kapasitas seseorang untuk bekerja dan berkurangnya efisiensi dalam bekerja, yang disertai dengan perasaan letih dan kelelahan. Sedangkan Kamus Oxford menyatakan bahwa human fatigue dapat diklasifikasikan kedalam 2 kategori; physical or physiological fatigue dan mental fatigue. Untuk physiological fatigue bisa didefinisikan sebagai (1) berkurangnya kekuatan seseorang, (2) hilangnya kapasitas bekerja, (3) bertambahnya sense of effort yang dibutuhkan untuk bekerja, atau (4) berkurangnya kekuatan otot. Fatigue juga tidak bisa diukur secara langsung, oleh karena itu fatigue hanya bisa dinilai berdasarkan perwujudannya seperti; rasa ngantuk yang berlebih, berkurangnya kemampuan fisik dan mental, rasa depresi, dan hilangnya motivasi.

Untuk melakukan HRA, 3 langkah dasar yang perlu diketahui adalah identifikasi, memodelkan, dan mengkuantitatifkan human error probability. Dalam mengidentifikasi masalah, analus harus menentukan jenis human error apa yang akan terjadi dan juga performance factor apa yang akan mempengaruhi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan task analysis; yaitu proses sistematis untuk menspesifikasikan langkah fungsional serta kemampuan yang harus dimiliki operator untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Agar seorang analis mampu mengidentifikasi semmua faktor yang bisa menyebabkan human error, mereka harus terbiasa dengan pekerjaan, lingkungan, dan tingkat kemahiran dari task yang akan diidentifikasi. Langkah selanjutnya yaitu memodelkan. Faktor yang mempengaruhi performansi manusia disebut performance shaping factor (PSF). Contoh dari PSF itu sendiri yaitu; kecepatan pekerjaan, gangguan, pekerjaan berulang, situasi darurat, kelelahan, ketidaknyamanan, dan temperatur tinggi.

Langkah terakhir yaitu melakukan perhitungan tentang human error probability menggunakan ketiga metode yang telah disebutkan: THERP, ATHEANA, dan SPAR-H. Masing-masing metode memiliki langkah dan kelebihannya sendiri, namun untuk keseluruhan metode HRA masih terdapat empat kekurangan utama. Empat kekurangan tersebut yaitu; (1) kurangnya data empiris untuk perkembangan model dan validasi, (2) kurangnya pengetahuan untuk memodelkan kebiasaan manusia, (3) perbedaan parameter yang digunakan, tergantung dari metode yang digunakan, (4) sangat bergantung pada expert judgement dalam mendefinisikan PSF.

Source:  Inclusion of fatigue effects in human reliability analysis. C.D. Griffith, S. Mahadevan.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Human Reliability and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s