Software Pelacak Gerakan Mata Untuk Mencegah Kecelakaan Bus

Ditulis  oleh HELIAWATI (2510100078)

Tahukah anda hampir setiap hari kecelakaan lalu lintas terjadi? Sebagian besar kecelakaan terjadi pada jalur darat. Dalam dua tahun terakhir ini, kecelakaan lalu lintas di Indonesia oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan tubercolosis/ TBC. Data WHO tahun 2011 menyebutkan, sebanyak 67 persen korban kecelakaan lalu lintas berada pada usia produktif, yakni 22-50 tahun. Terdapat sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya, dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Bahkan, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24 tahun.

Faktor risiko kecelakaan lalu lintas terdiri dari pengemudi, penumpang, pemakai jalan, kendaraan dan fasilitas jalanan (Bustan, 2007). Yang pertama adalah faktor manusia memberikan kontribusi terbesar sebagai penyebab kecelakaan yakni sebesar 91%. Faktor manusia terdiri dari pengemudi, penumpang dan pengguna jalan yang lain. Faktor pengemudi sendiri memberikan kontribusi sebesar 75-80% terhadap kecelakaan lalu lintas. Seorang pengemudi harus memiliki keterampilan mengemudi yang baik, kesehatan yang prima dan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Yang kedua adalah faktor kendaraan, kontribusi faktor kendaraan untuk menyebabkan kecelakaan adalah sebesar 5%. Faktor kendaraan yang sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus dan berbagai penyebab lainnya. Yang ketiga adalah faktor jalanan, faktor ini memberikan kontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas 3%. Faktor jalanan terdiri dari keadaan fisik jalanan dan kesediaan rambu-rambu lalu lintas. Keadaan jalan yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan lalu lintas adalah struktur jalanan (datar, mendaki, menurun, lurus, berkelok-kelok, mulus, berlubang dan berbatu). Yang keempat adalah faktor lingkungan faktor ini memberikan kontribusi pada kecelakaan lalu lintas sebesar 1%. Faktor tersebut adalah kondisi cuaca dan geografik seperti adanya kabut, hujan dan jalan licin dapat menjadi faktor risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas.

                Salah satu kecelakaan jalur darat adalah kecelakaan bus. Kecelakaan bus sering terjadi hampir setiap taunnya. Sepanjang tahun 2012, angka kecelakaan 7.817 kasus. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8.144 kasus. Artinya, jumlah kasus kecelakaan tahun 2012 mengalami penurunan hingga 3,66 persen atau 297 kasus. Hal ini diungkapkan Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno. “Situasi Kamtibnas di bidang lalu lintas, untuk kejadian laka lantas tahun 2011 sebanyak 8.144 kejadian, di 2012 menjadi 7.817 kejadian,” terangnya. Sementara untuk  korban meninggal juga mengalami penurunan sebanyak 104 orang tahun 2011, dari jumlah tahun 2011 korban meninggal sebanyak 1.005 orang dan tahun 2012 turun menjadi 901 orang. Demikian halnya jumlah korban luka ringan turun sebanyak 383 orang, atau sebesar 6,02 persen. Di tahun 2011 jumlah korban luka ringan mencapai 6.357 orang dan tahun 2012 ada 5.974 orang. Sedangkan, korban luka di tahun 2012 meningkat 0,45 persen atau 2,865 orang, jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 2,852 orang. “Kendaraan bermotor yang terlibat laka lantas tahun 2011 mencapai 12.046 unit, turun sebanyak 251 unit atau sebesar 2,08 persen dari tahun 2012, 11.795 unit. Kerugian materilnya naik sebesar 14,55 persen. Pada 2011, kerugian materiil mencapai Rp18.607.782.000, dan 2012 naik menjadi Rp21.316.260.000,” tutur Putut. Ia juga menambahkan, untuk penyelesaian perkara lalu lintas mengalami penurunan sebanyak 1.467 kasus atau sebesar 22,16 persen. Tahun 2011 penyelesaian sebesar 6.620 kasus, di tahun 2012 turun menjadi 5.153 kasus.

Kecelakaan bus sering terjadi akibat kondisi kendaraan yang kurang baik dan human error yang terjadi pada pengemudi bus. Kondisi kendaraan sebaiknya di cek terlebih dahulu sebelum bus dikendarai. Banyak terjadi, akibat kelalaian montir bus ataupun orang yang bertugas tidak mengecek kondisi rem bus. Akibatnya, rem menjadi blong dan susah dikendalikan ketika bus melaju cepat. Dan akhirnya terjadi kecelakaan yang menyebabkan beberapa korban jiwa meninggal, luka berat atau ringan. Kecelakaan juga terjadi akibat human error dari pengemudi, human error terdiri dari kelelahan mengemudi seperti sakit pinggang dan mengantuk. Kelelahan menurut Grandjean (2000) adalah sebagai keadaan kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja yang berbeda-beda pada setiap individu. Kelelahan dapat dikatakan kehilangan kesiapsiagaan. Berdasrkan survey yang sudah dilakukan pada sopir bus trayek Manado-Langowan di Terminal Karombasan, ada banyak tempat duduk sopir yang sudah tidak layak digunakan oleh sopir-sopir dan kendaraan yang mereka gunakan sudah tergolong tua. Hal ini dapat memicu terjadinya gangguan musculoskeletal seperti nyeri pinggang.

                Untuk mengurangi kecelakaan bus yang disebabkan human error dari pengemudi bus, maka diciptakan sebuah aplikasi ergonomi yaitu sebuah alat untuk melacak gerakan mata untuk mencegah kecelakaan bus. helia1

Alat ini telah dipasang oleh lima perusahaan bus Eropa sebagai uji coba. Gerakan dan kedipan mata sopir bus akan dilacak dengan menggunakan komputer sebagai bagian dari uji coba untuk mencegah kecelakaan dalam perjalanan jarak jauh. Lima perusahaan bus di Eropa telah memasang produk ini sebagai uji coba yang dilakukan di seluruh Eropa. Sistem pengawas dengan memperhatikan gerakan mata telah digunakan oleh para petambang. Namun seorang pakar memperingatkan tidak jelas apakan alat itu dapat membantu upaya mencegah kecelakaan bus. Produk perusahaan Australia ini menggunakan kamera khusus yang dipasang di bus untuk mengawasi gerakan dan kedipan mata sopir. Bila sopir tertidur dan berlangsung kurang dari satu detik dan terjadi tanpa disadari sopir yang bersangkutan, alat ini akan menggetarkan kursinya. Alat ini juga memicu bunyi alarm di kursi sopir pendamping guna sebagai pengingat agar sopir utama perlu diganti. Teknologi yang telah dipatenkan ini menggunakan infra merah untuk mendeteksi mata sopir di kegelapan tanpa mengganggu aktivitas yang bersangkutan.helia2

Alat ini dapat melacak mata sopir yang menggunakan kacamata. Pejabat dari perusahaan Seeing Machines mengatakan sistem ini dapat mendeteksi risiko kecelakaan pada saat paling awal sebagai produk alternatif seperti sensor pada kemudi dan kamera pada garis batas jalan.

Salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas atau lakalantas adalah mengantuk. Mengantuk tergolong human error dan merupakan dampak dari keletihan, kekurangan oksigen, kekurangan darah, dll. Akibatnya pengemudi kehilangan konsentrasi dan kontrol atas kendaraannya sehingga terjadi kecelakaan fatal. Untuk mengatasi hal ini sangat dibutuhkan suatu alat keamanan aktif untuk memperingatkan pengemudi apabila pengemudi tersebut sudah mulai kehilangan konsentrasi karena mengantuk. Saat ini alat keselamatan aktif yang dapat mendeteksi kantuk umumnya menggunakan dua buah metode yaitu deteksi detak jantung dan deteksi kemiringan tubuh. Kelemahan terbesar metode deteksi kemiringan tubuh adalah adanya kemungkinan pengemudi mengantuk tapi tetap dalam posisi tegak. Sedangkan kelemahan dari meteode deteksi detak jantung adalah respon yang relatif lambat dan mahalnya alat-alat keselamatan yang menggunakan deteksi seperti ini. Alat yang direalisasikan adalah sebuah alat keselamatan aktif yang menggunakan metode deteksi kedipan mata. Pada alat ini kamera digital model CMUcam OV6620 Omnivision CMOS camera akan mendeteksi gerakan menutupnya kelopak mata dan memperhitungkan periode menutupnya bola mata sehingga alat ini dapat membedakan antara mata mengantuk dan mata berkedip serta membuat keputusan untuk mengeluarkan output yang dapat berfungsi untuk mengaktifkan alarm atau mengaktifkan sistem rem. Dari hasil realisasi uji coba yang dilakukan sistem bisa bekerja dengan baik pada kondisi pencahayaan yang relative konstan. Untuk kondisi perubahan intensitas pencahayaan yang cukup mencolok tingkat keberhasilan pendeteksian metode diatas masih belum memuaskan. Permasalahan utama yang dihadapi adalah variasi cahaya dari beberapa lingkungan yang berbeda dapat menyebabkan hasil yang berbeda pula.

Referensi :

  1. BBC. (2013, Desember 10). BBC Indonesia. Retrieved November 25, 2013, from http://www.bbc.co.uk/: http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131210_iptek_supir_mata.shtml
  2. Negara, B. I. (2011). Kecelakaan Lalu Lintas Menjadi Pembunuh Terbesar Ketiga. Retrieved Desember 2013, 25, from http://www.bin.go.id/awas/detil/197/4/21/03/2013/kecelakaan-lalu-lintas-menjadi-pembunuh-terbesar-ketiga
  3. Satibi, M. (2012, Desember 30). Catatan Kecelakaan Tahun 2012. Retrieved Desember 24, 2013, from Sindonews: http://metro.sindonews.com/read/2012/12/30/88/702019/catatan-kecelakaan-tahun-2012

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s