INTERAKSI MANUSIA DAN MESIN ATM

Ditulis oleh Wike Eriyandari (Mahasiswa Teknik Industri ITS)

wikeATM (Automated Teller Machine) adalah sebuah alat elektronik yang menyediakan jasa perbankan tanpa perlu dilayani oleh seorang “teller” manusia. ATM merupakan mesin yang menyediakan beberapa jasa perbankan untuk keperluan nasabah. Langkah untuk menggunakan mesin ATM yaitu pengguna memasukkan kartu ATM ke dalam mesin, kemudian menekan keypad atau touch-screen, memasukkan nomor PIN, memilih jasa yang diinginkan, kemudian jika transaksi sudah selesai langkah terakhir yaitu mengeluarkan kartu dari mesin. Pengguna dapat melakukan transfer uang, pengambilan uang, pembayaran tagihan, pengecekan saldo, dan pengisian pulsa.

Meskipun ATM menyediakan jasa yang sangat berguna untuk customer, namun masih sering membuat customer merasa frustasi ketika menggunakannya sehingga banyak perbaikan yang bisa dilakukan untuk desain interfacenya. Sebuah interface yang baik harus mampu menghubungkan pengguna dan mesin. Sehingga desain interface yang baik penting untuk usability mesin.

Sering terjadi masalah atau ketidaknyamanan ketika menggunakan ATM. Beberapa masalah diantaranya meliputi:

  • Ketidakmampuan melihat layar ATM dengan baik karena lokasi penempatan yang salah, misalnya terkena pantulan cahaya matahari. Hal ini akan mengakibatkan kesulitan dalam pembacaan menu ATM.
  • Salah memasukkan kartu ATM. Masalah ini biasanya terjadi pada pengguna ATM baru yang belum terbiasa dengan kartu dan mesin ATM.
  • Mendapat uang sesuai dengan keinginan. Beberapa ATM tidak menyediakan pilihan jumlah uang yang bisa ditarik sesuai dengan keinginan customer di awal pilihan jumlah penarikan. Pengguna harus menggunakan menu selanjutnya untuk mendapatkan uang sesuai dengan yang diinginkan.
  • Memahami pengoperasian ATM. Beberapa pengguna ATM menemui kesulitan dalam memahami instruksi pengoperasian ATM.
  • Pada beberapa mesin ATM,pilihan menu tidak segaris (lurus) dengan menu key yang berhubungan.

Preece (1994) menyebutkan ‘the best user interface design guidelines are guidelines in atrue sense: high level and widely applicable directly principles’. Berikut merupakan prinsip-prinsip yang dapat diaplikasikan:

  • Tahu siapa pengguna – Prinsip yang sulit untuk dicapai, khususnya untuk mendesain mesin yang dapat mengakomodir seluruh pengguna. ATM yang baik harus dibedakan berdasarkan siapa penggunanya dari remaja hingga orang tua.
  • Mengurangi beban kognitif – Menyangkut desain yang tidak mengharuskan user mengingat banyak detail. ATM seharusnya mudah untuk digunakan dan membuat user mudah mengingat bagaimana menggunakan sistem ATM.
  • Engineer for Error – Sebuah sistem harus didesain agar bisa mengakomodir user error yang tidak bisa dielakkan. Jika pengguna membuat error ketika menggunakan sistem maka sistem tersebut harus mampu untuk pulih. Engineering for Error termasuk mencegah pengguna untuk melakukan error, menyediakan pesan yang baik ketika terjadi error, dan ada aksi reversible untuk membantu pengguna memperbaiki
  • Mempertahankan konsistensi dan kejelasan – Akan ideal ketika ada desain interface ATM yang bersifat universal, atau setidaknya desain standar dalam setiap negara.

Contoh nyata dari adanya kesulitan pengoperasian ATM terjadi pada pengguna cacat dan orang tua. Beberapa masalah yang muncul diantaranya masalah interaksi antara pengguna dan mesin ATM dikarenakan ketidaksesuaian desain mesin ATM dengan pengguna, masalah display, keambiguan menu dalam mesin ATM, dll. Masalah tersebut muncul dikarenakan dalam proses perancangannya menggunakan orang dewasa sebagai bahan inputan untuk mendesain mesin ATM. Padahal dimensi mesin ATM harus sesuai dengan antropometri dari pengguna agar dapat meningkatkan usability dari mesin ATM itu sendiri.

Sebagai usulan langkah perbaikan yaitu dengan membangun ATM khusus untuk pengguna cacat dan orang tua. Tidak hanya dari segi desain, tapi juga dari segi display, kemudahan dalam penggunaan dan memperhatikan keterbatasan dari pengguna cacat dan orang tua, seperti keterbatasan orang tua untuk mengingat nomor PIN sehingga dalam perancangan ATM untuk orang tua bisa menggunakan sidik jari. Dan untuk perancangan ATM untuk pengguna cacat, misalnya untuk orang yang tidak bisa melihat bisa menggunakan voice guidance system. Sistem ini sudah dikembangkan di Jepang sejak 2007. Voice guidance system menyediakan informasi yang lengkap yang terkoneksi langsung dengan call center dan operator yang menangani transaksi untuk membantu pengguna ATM yang tidak bisa melihat untuk mengoperasikan dan mendapatkan jasa ATM yang diinginkan. Contoh lainnya yaitu bagi mereka yang cacat tangannya bisa memanfaatkan teknologi automatic speech recognition untuk memudahkan pengguna karena keterbatasan dalam menginput nomer PIN ke mesin ATM.

Referensi:

Curran, K and King, D, (no date), Investigating the Human Computer Interaction Problems with Automated Teller Machine (ATM) Navigation Menus, University of Ulster, Northern Ireland

NEC Corporation, 2008, Promoting Universal Design of Convenience Store ATMs, diakses pada 18 Desember 2014, < http://www.nec.co.jp/csr/en/report2008/contribution/con02.html&gt;

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s