BERBAGAI RESIKO KECELAKAAN PADA PROSES PENGELASAN

Ditulis oleh Indra Taqy (2511100068) Mahasiswa Jurusan Teknik Industri ITS

Keamanan las merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam bidang pengelasan maupun pemotongan serta pekerjaan yang melibatkan dua elemen tersebut. Perawatan dan pemeliharaan sangat penting untuk menghindari kecelakaan, seperti misalnya pandangan tukang las yang terhalang kacamata las dan pekerja lain yang melewati proses pengelasan juga harus dapat menghindar dari percikan dan sinar las. Tempat kerja harus ditata supaya pipa-pipa gas, kabel kabel listrik, alat-alat perakit tidak mengganggu jalan atau tugas tugas rutin. Selain dari aspek lingkungan kerja, aspek fisik dari pekerja pengelasan juga harus diperhatikan sebagai aspek penting pada keselamatan kerja. Untuk perlindungan mata dan muka maka para pekerja las harus menggunakan kacamata las, topeng las, helm, pelindung telinga dan pelindung pernafasan. Sepatu boot dan pakaian pelindung las juga harus dikenakan untuk melindungi pekerja dari percikan, dan radiasi panas.

       Berikut merupakan human error dan kecelakaan kerja yang dapat terjadi pada tiap proses pengelasan :

Capture

Pada saat bekerja, pekerja las sering mengabaikan beberapa prosedur standar yang harus dilakukan dalam melakukan pekerjaan las sehari-hari. Prosedur standar seperti pemeriksaan tabung CO2, pengaturan besar kecilnya tegangan, dan penggunaan alat pelindung diri saat sedang bekerja. Kesalahan-kesalahan kerja ini akan sangat berpengaruh pada nilai probabilitas terjadinya kecelakaan kerja yang mungkin terjadi pada UKM Las Bintang Jaya ini.

inrotech_oss_350_220_3

Setelah penelitian pada UKM Las Bintang Jaya dan telah melakukan analisis terhadap metode SHERPA  telah didapatkan berbagai solusi atas pemasalahan yang dihadapi oleh UKM Las Bintang Jaya dalam pelaksanaan keselamatan kerja dari operator.

Dalam perhitungan dan analisis dari metode SHERPA didapatkan error yang paling berat yang dapat terjadi adalah tidak memindahkan logam pada hand pallet, Tabung CO2 tidak diperiksa dan Tidak memindahkan tabung pada alat angkut. Masing-masing dari permasalahan tersebut memiliki frekuensi terjadi yang tinggi disertai akibat konsekuensi dari kelalian yang juga tinggi dan probabilitas terjadinya error yang tinggi. Oleh karena itu harus dilakukan pembenahan dalam metode kerja yang harus dilakukan oleh operator las. Penyelesaian tersebut dapat berupa penyediaan hand pallet di area kerja pemberian tanda pengingat pada tabung CO2 serta penyediaan alat angkut tersedia di area kerja dan dekat dengan tabung.

Terdapat bermacam – macam bahaya yang dapat terjadi ketika proses pengelasan berlangsung. Bahaya yang terjadi ketika proses pengelasan berlangsung, antara lain disebabkan karena adanya kesalahan dari pekerja, dalam hal ini merupakan pekerja pada UKM Las Bintang Jaya. Metode SHERPA, yang digunakan dalam membantu melakukan analisa human error yang terjadi pada proses pengelasan, dapat membantu memberikan solusi-solusi atas human error yang mungkin terjadi pada proses pengelasan.

Referensi :

Wiryosumarto H, Okumura T., Teknologi Pengelasan Logam, Pradnya Paramita, Jakarta, 1991

O’Brien, R.L.,”Welding Handbook, Volume 2 – Welding Processes”, American Welding Society, Miami, 8th Edition, 1991

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Human Reliability and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s