Analisis Human Error Pengendara Kendaraan Bermotor di Perlintasan Kereta Api (Studi Kasus Persilangan Kereta Api di Jalan Dupak, Depan Pusat Grosir Surabaya)

Ditulis oleh Arini Fitriya Izzati (2511100004) Mahasiswa Jurusan Teknik Industri ITS

Keselamatan perkeretaapian di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius dilihat dari tingginya angka kecelakaan kereta api yang terjadi setiap tahunnya. Data dari Ditjen Perhubungan Darat menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan kereta api disebabkan karena faktor human error. Pada tahun 1999, tercatat sebanyak 196 kecelakaan kereta api yang terjadi, dengan jumlah korban meninggal sebanyak 94 orang. Dari data tersebut, 96% merupakan kecelakaan kereta api yang diidentifikasikan sebagai akibat dari adanya human error. Sedangkan pada tahun 2000, tercatat sebanyak 126 kecelakaan kereta api dengan jumlah korban meninggal sebanyak 98 orang. Dari jumlah data yang didapatkan tersebut, 98% diantaranya diidentifikasikan sebagai akibat dari adanya human error.

Untuk menghindari ataupun mengurangi angka kecelakaan, hal yang perlu dilakukan adalah dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan manusia, atau membuat sistem yang lebih memberikan toleransi terhadap terjadinya kesalahan manusia (Baysari, 2008). Dalam tulisan ini, akan dilakukan analisis human error penyebab kecelakaan kereta api yang difokuskan pada operator kendaraan bermotor di perlintasan kereta api. Sehingga kemudian dapat dilakukan usaha pencegahan terhadap munculnya human error tersebut.

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Hardianto I. dan Eizora I. yang berjudul “Kajian Taksonomi Kecelakaan Kereta Api di Indonesia Menggunakan Human Factor Analysis and Classification System (HFACS)”, peristiwa tabrakan antara kereta api dengan kendaraan bermotor di perlintasan sebidang, menempati peringkat kedua terbanyak dalam kategori Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) yang terjadi dalam rentang tahun 2004 – 2010. Berikut merupakan grafik yang menunjukkan jumlah peristiwa dalam kategori PLH tahun 2004 – 2010 :

Capture

Berdasarkan grafik tersebut, jumlah tabrakan yang terjadi antara kereta api dengan kendaraan bermotor di perlintasan sebidang adalah sebesar 20% atau sebanyak 140 peristiwa dari jumlah total peristiwa yang termasuk kategori PLH pada rentang tahun 2004 – 2010. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa jumlah tabrakan yang terjadi antara kereta api dengan kendaraan bermotor di perlintasan sebidang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam terjadinya PLH pada rentang tahun 2004 – 2010.

Persilangan kereta api sebagai perpotongan antara jalan raya dan rel lintasan kereta api merupakan lokasi potensial terjadinya tabrakan antara kereta api dengan kendaraan lain. Adanya perpotongan yang sebidang antara lintasan kereta api dan jalan raya menimbulkan banyak konflik yang berpotensi mengakibatkan terjadinya kecelakaan kereta api yang serius, mengingat selalu ada saat-saat kereta api dan kendaraan bermotor harus melewati persilangan secara bersamaan (PJKA Bandung, 1986).

Salah satu hal yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kereta api dengan kendaraan lain di perlintasan sebidang adalah karena error yang dilakukan oleh pengendara kendaraan bermotor, yakni perilaku tidak disiplinnya pengendara, seperti menerobos palang perlintasan pada saat sirine telah dibunyikan, menerobos pintu perlintasan yang telah ditutup, berada di jalur yang tidak semestinya, dan berada di antara bagian terluar rel kereta api dengan pintu perlintasan, bahkan sampai pada aktivitas pengendara mengangkat pintu perlintasan agar dapat segera melintas. Selain perilaku tidak disiplinnya pengendara kendaraan bermotor, error yang terjadi di area perlintasan adalah pengendara tidak memeriksa tanda peringatan, tidak mengurangi kecepatan kendaraan, tanda peringatan tidak terdeteksi, tidak ada rambu-rambu lalu lintas, rambu-rambu lalu lintas tidak terdeteksi, dan pengendara tidak memeriksa rambu-rambu lalu lintas.

SDADSAsdadsad

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat diketahui bahwa selain error yang dilakukan oleh komponen manusia, juga terdapat error akibat komponen lingkungan, yakni rambu-rambu lalu lintas dan tanda peringatan di sistem persilangan kereta api. Hal ini dapat menjadi acuan dalam mengidentifikasi pemicu terjadinya human error di sistem persilangan kereta api.

Analisis Penyebab Human Error Pengendara Kendaraan Bermotor di Perlintasan Kereta Api

Terjadinya error yang dilakukan oleh pengendara kendaraan bermotor di perlintasan kereta api dapat disebabkan oleh beberapa hal, yakni karena design error, yaitu error yang terjadi karena kesalahan dalam pendesainan fasilitas. Design error dalam perlintasan kereta api ini misalnya adalah desain palang pintu yang tidak cukup kuat dan masih menyisakan rongga antara dua palang pintu yang bertautan sehingga memungkinkan pengendara untuk membuka palang pintu tersebut atau menerobos masuk melalui celah antara dua palang pintu yang tertutup. Selanjutnya, karena operator error, yaitu error yang terjadi karena kesalahan operator dan kondisi yang memungkinkan operator untuk melakukan error, termasuk kurangnya prosedur yang sesuai, tugas-tugas yang kompleks, kurangnya pelatihan, dan kecerobohan operator. Kesalahan operator kendaraan bermotor di perlintasan kereta api ini adalah perilaku operator yang termasuk dalam kategori perilaku tidak disiplinnya pengendara seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan kondisi yang memungkinkan operator untuk melakukan error adalah tidak terdeteksinya tanda peringatan, tidak adanya rambu-rambu lalu lintas, dan tidak terdeteksinya rambu-rambu lalu lintas oleh pengendara.

Perilaku tidak disiplinnya pengendara kendaraan bermotor di area perlintasan kereta api dapat disebabkan karena ketidaksabaran pengendara dan adanya faktor tekanan waktu, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota padat, dimana mereka memiliki aktivitas tinggi dan harus berhadapan dengan padatnya arus lalu lintas. Selain itu, pengendara kendaraan bermotor kurang memiliki kepekaan terhadap terjadinya kecelakaan di area perlintasan kereta api yang dapat disebabkan karena kesalahan dalam penilaian (error in judgement) berupa kesalahan dalam memperkirakan kecepatan kereta api dan kecepatan kendaraan bermotor serta kesalahan dalam memperkirakan jarak antara kendaraan dengan kereta api atau rel kereta. Faktor lainnya adalah kecenderungan mencari sensasi yang merupakan karakteristik kepribadian yang didefinisikan sebagai bentuk kebutuhan bervariasi, menginginkan sesuatu yang baru, serta keinginan untuk mengambil resiko fisik dan sosial demi pengalaman semacam itu, serta kurangnya pengalaman pribadi dengan seseorang yang pernah menjadi korban kecelakaan di perlintasan sebidang.

Solusi Mengurangi Human Error Pengendara Kendaraan Bermotor di Perlintasan Kereta Api

Error yang dilakukan oleh pengendara kendaraan bermotor di perlintasan kereta api dapat diminimalkan dengan cara menumbuhkan etos keselamatan dalam berlalu lintas. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan memberikan sosialisasi tentang potensi bahaya yang ada di perlintasan sebidang. Dari segi sarana dan prasarana, perlu dilakukan perbaikan dan pemaksimalan terhadap fungsi dari pintu perlintasan yang ada, flashing light sebagai lampu tanda peringatan, serta rambu-rambu peringatan yang terkadang tertutup reklame dan pepohonan sehingga tidak dapat terbaca oleh pengendara. Sehingga, solusi yang dilakukan bukan hanya ditujukan untuk faktor manusianya saja (pengendara kendaraan bermotor), namun juga dari segi lingkungan serta sarana dan prasarana di area perlintasan kereta api agar dapat mengurangi potensi terjadinya human error di area perlintasan kereta api yang dapat menimbulkan kecelakaan.

Referensi :

Baysari, MT., McIntosh, AS., & Wilson, JR. (2008), Understanding the Human Factors Contribution to Railway Accidents and Incidents in Australia, Accident Analysis and Prevention, Vol. 40, pp 1750 – 1757.

Findiastuti, W., Wignjosoebroto, S., & Dewi, D.S., Analisa Human Error dalam Kasus Kecelakaan di Persilangan Kereta Api (Studi Kasus Persilangan Kereta Api 25 Jemur Andayani – Surabaya).

Iridiastadi, H. & Izazaya, E. (2014). Kajian Taksonomi Kecelakaan Kereta Api di Indonesia Menggunakan Human Factors Analysis and Classification System (HFACS).

Iridiastadi, H., Wanurmarahayu, C., & Oemyati, A. (2013). Kajian Kecelakaan Kereta Api dengan Memanfaatkan Human Factors Analysis and Classification System (HFACS).

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Human Reliability and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s