Analisis Human Error di Perlintasan Kereta Api Stasiun Gubeng Menggunakan Metode SHERPA

Ditulis oleh Choirunisa Dhara P (2511100121) Mahasiswa Jurusan Teknik Industri ITS

Kereta api merupakan salah satu moda transportasi massal yang sangat diminati masyarakat. Selain harganya yang terjangkau, jaringan jalan rel antar kota sangat mendukung keberadaan kereta api sebagai angkutan massal yang efektif dan efisien. Di Indonesia sendiri kereta api sangat tinggi peminatnya. Tingginya peminat transportasi kereta api terutama di pulau Jawa ditandai dengan jumlah penumpang kereta api yang mencapai 15 juta penumpang per tahun (BPS 2014). Namun dibalik tingginya permintaan atas layanan kereta api di Indonesia, masih belum diimbangi dengan jaminan keselamatan baik bagi penumpang, awak kereta maupun area perlintasan kereta. Sejumlah kecelakaan kereta api menjadi bukti lemahnya pengamanan dan jaminan keselamatan terhadap perkeretaapian di Indonesia.

Untuk kecelakaan kereta api yang melintas di jalur jalan raya dinilai sudah cukup memprihatinkan. Kurun waktu 2004 hingga data sementara 2012 kecelakaan diperlintasan kereta api sudah memakan korban sebanyak 322 luka-luka dan meninggal. Beberapa kasus kecelakaan ini terjadi pada perlintasan yang sudah memiliki palang pintu dengan penjaga perlintasan yang telah mendapat sertifikat dari Ditjen Perkeretaapian serta perlintasan yang telah terpasang warning devices pada perlintasan yang tidak berpenjaga. Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai dari kelalaian manusia (human error), kurang sempurnanya fasilitas pengamanan kereta api seperti palang pintu, hingga masalah kerusakan teknis kereta karena rendahnya kualitas perawatan.

as

Dalam pengamatan terhadap salah satu perlintasan kereta api di Surabaya yaitu di pertigaan belakang stasiun Gubeng Surabaya puncak kepadatan transportasi terjadi pada pukul 06.30-08.00 dan 16.00-18.00. Pada jam-jam tersebutlah yang diperkirakan seringnya terjadi kecelakaan sehingga menarik penelitian mengenai apa saja penyebabnya dan bagaimana rekomendasi perbaikan yang bisa dilakukan. Dari hasil pengamatan penyebab kecelakaan dibagi menjadi dua pelaku yaitu dilakukan oleh pengguna jalan dan petugas perlintasan. Dengan menggunakan metode SHERPA berikut adalah solusi-solusi yang direkomendasikan untuk menghindari terjadinya kecelakaan di perlintasan kereta api

sadsda sda

Dari dua tabel di atas, ada baiknya menerapkan rekomendasi perbaikan untuk menghindari kecelakaan di perlintasan kereta api, atau minimal yang memiliki probabilitas error paling tinggi seperti pengguna jalan yang sering tidak mengurangi kecepatan pada perlintasan kereta api sehingga perlu ada penambahan rambu di area perlintasan.

Referensi :

RIKANG, R.W RAYMUNDUS. 2014.  BPS: Kereta Api Semakin Digemari Masyarakat, Retrived from Tempo.co : http://www.tempo.co/read/news/2014/06/03/092582060/BPS-Kereta-Api-Semakin-Digemari-Masyarakat

Anonim, 2014. Jumlah Penumpang Kereta Api, 2006-2014 (Ribu Orang), Retrived from BPS : http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=17&notab=16

Findiastuti, Weny; Wignjosoebroto, Sritomo ; Dewi, Dyah Santhi. Analisa Human Error Dalam Kasus Kecelakaan Di Persilangan Kereta Api. <http://personal.its.ac.id/files/pub/2834-m_sritomo-ie-Makalah%20Ergonomi%20Human%20Errors.pdf&gt;

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Human Reliability and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s