Standar Evakuasi: Prosedur, Waktu, Personil, Jalur, dan Fasilitas

Dirangkum dan ditulis oleh Nurul Hudaningsih (2512204003)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri – ITS

Secara Nasional, aturan tentang prosedure evakuasi bencana alam telah ada. Sebagian aturan tersebut terdapat pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor  13   Tahun 2010. Dalam aturan tersebut telah dipparkan bagaimana strategi dan mekanisme evakuasi korban bencana alam. Bahkan teratur secara rinci personil yang terlibat, mekanisme prosedur, standar waktu pencarian dan pertolongan.  Sedangkan aturan terkait standarisasi peralatan penanggulangan bencana terdapat pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2009.

Untuk kecelakaan kerja, dilampirkan prosedur Keselamatan Kerja di ADIDAS Group.

Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor  13   Tahun 2010  Tentang Pedoman Pencarian, Pertolongan Dan Evakuasi

 KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A.  Kebijakan

  1. Pencarian,  pertolongan  dan  evakuasi  korban  bencana dilaksanakan  secara  terpadu  dan  terkoordinasi  yang  melibatkan seluruh potensi pemerintah, swasta dan masyarakat.
  2. Pelaksanaan pencarian, pertolongan dan evakuasi korban bencana dilakukan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang  menghargai  budaya,  adat  istiadat,  kearifan  lokal  dan pengetahuan masyarakat setempat;
  3. Peranserta  lembaga  internasional  dan  lembaga  asing  non pemerintah bersifat komplementer.

B.  Strategi

  1. Membentuk  posko  kedaruratan  dan  penetapan  Organisasi Komando Penanganan Darurat.
  2. Memobilisasi potensi sumber daya.
  3. Memberdayakan masyarakat.
  4. Mengkoordinasikan  peran  serta  lembaga  usaha,  lembaga internasional  dan  lembaga  asing  non  pemerintah  dalam pencarian, pertolongan dan evakuasi korban bencana

ORGANISASI PELAKSANA

  1. Pelaksana  pencarian,  pertolongan,  dan  evakuasi  korban  bencana adalah TRC Penanggulangan Bencana;
  2. TRC  Penanggulangan  Bencana  merupakan  bagian  dari  Tim Penanggulangan  Bencana  Saat  Tanggap  Darurat,  yang  terdiri  dari unsur BNPB/BPBD, BASARNAS/Kantor SAR, Departemen Teknis/Dinas , TNI dan POLRI.
  3. TRC  Penanggulangan  Bencana  Nasional  diangkat  dan  diberhentikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana;
  4. TRC  Penanggulangan  Bencana  Provinsi  diangkat  dan  diberhentikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi;
  5. TRC  Penanggulangan  Bencana  Kabupaten/Kota  diangkat  dan diberhentikan  oleh  Kepala  Badan  Penanggulangan  Bencana  Daerah Kabupaten/Kota;
  6. Berdasarkan Struktur Organisasi Komando Tanggap Darurat Bencana, TRC berada di bawah Bidang Operasi, yang terdiri dari Seksi TRC, Sub Seksi  Pencarian,  Sub  Seksi  Pertolongan,  dan  Sub  Seksi  Evakuasi. (Lampiran 1)
  7. Lembaga  internasional  dan  lembaga  asing  non  pemerintah  dapat berperan  dalam  Pencarian,  Pertolongan,  dan  Evakuasi,  dengan persetujuan  Kepala  BNPB,  setelah  berkoordinasi  dengan instansi/lembaga  terkait  dan  dalam  operasinya  berada  di  bawah komando Komandan Tanggap Darurat Bencana.

MEKANISME PENCARIAN, PERTOLONGAN, DAN EVAKUASI

A.  Umum

  1. Mekanisme pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban bencana diselenggarakan  dibawah  komando  Komandan  Penanganan Darurat  melalui  tahapan  rencana  operasi,  permintaan, pengerahan/mobilisasi  sumber  daya  yang  didukung  dengan kemudahan akses sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan  yang  berlaku.  Dalam  pelaksanaan  dilapangan penyelenggaraan  pencarian,  pertolongan,  dan  evakuasi  korban bencana sesuai dengan jenis, lokasi, dan tingkatan bencana.
  2. Dalam upaya memudahkan pencarian, pertolongan dan evakuasi korban bencana dan harta benda, Kepala BNPB/BPBD mempunyai kewenangan :
  3. Tim Pencarian,  Pertolongan  dan Evakuasi  merupakan bagian dari Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana, yang terdiri atas:
  4. Tujuan Pencarian, Pertolongan dan Evakuasi :
  1. a.  Menyingkirkan  dan/atau  memusnahkan  barang  atau  benda dilokasi   bencana  yang  dapat  membahayakan  jiwa  dan  dapat mengganggu proses penyelamatan;
  2. Memerintahkan  orang  untuk  keluar  dari  suatu  lokasi  atau melarang orang untuk memasuki suatu lokasi;
  3. Mengisolasi  atau  menutup  suatu  lokasi  baik  milik  publik maupun pribadi; dan
  4. Memerintahkan  kepada  pimpinan  instansi/lembaga  terkait untuk  mematikan  aliran  listrik,  gas,  atau  menutup/membuka pintu air.
  1. a.  Tim  pencarian  terdiri  atas  tenaga  terlatih  dalam  bidang pencarian korban bencana dan tenaga medis;   serta melibatkan warga masyarakat setempat.
  2. Tim penolong terdiri atas tenaga terlatih dalam bidang medis, psikolog, dan pekerja sosial dibantu oleh tenaga relawan; serta warga masyarakat setempat.
  3. Tim  evakuasi  terdiri  atas  tenaga  terlatih  dalam  bidang evakuasi,  tenaga  medis,  pekerja  sosial,  dan  psikolog;  serta warga masyarakat setempat.
  1. Menemukan lokasi bencana, korban manusia, dan harta benda yang  hilang  atau  yang  dikhawatirkan  akan  hilang  akibat bencana.
  2. Menolong korban bencana yang sakit akibat bencana.
  3. Memindahkan  korban  dari  lokasi  bencana  ke  tempat  yang aman.

5.  Sasaran

  1. Lokasi  Bencana.  Dalam  Pencarian,  Pertolongan  dan  Evakuasi memerlukan kejelasan lokasi bencana, kondisi medan bencana dan tempat evakuasi.
  2. Korban  Bencana.  Dalam  hal  ini  di  prioritaskan  bagi  korban bencana  yang  masih  hidup,  luka-luka  dan  kelompok  rentan serta yang meninggal dunia.

B.  Mekanisme

1.  Pencarian

Kegiatan pencarian dilakukan dengan langkah-langkah :

  1. Tim  pencarian  menuju  lokasi  bencana  setelah  mendapat informasi  kejadian  bencana  dan  mendapat  komando  dari komandan tanggap darurat.
  2. Memetakan  kondisi  cuaca,  geografis,  topografis,  dan  keadaan awal akibat bencana;
  3. Menentukan  lokasi  bencana  dan  luas  dampak  bencana  serta mengadakan  pembagian  daerah  pencarian,  dengan  membuat batasan  lokasi  bencana  berdasarkan  klasifikasi  tiga  wilayah penanggulangan:

1)                  Ring  I  yaitu  daerah  tempat  terjadinya  bencana, kemungkinan ditemukan korban paling banyak dan bahaya, serta kemungkinan munculnya bencana susulan;

2)                  Ring II yaitu daerah sekitar terjadinya bencana yang masih dimungkinkan ditemukan korban;

3)                  Ring  III   yaitu  daerah  yang  relatif  aman  untuk  dijadikan tempat evakuasi sementara.

  1. Memetakan  kondisi   serta  jumlah  korban  :  korban  selamat, dan korban sakit. Pemetaan kondisi korban sakit menggunakan triase empat tingkat yaitu : (1) hijau, tidak gawat tidak darurat, (2) kuning, gawat tidak darurat, (3) merah, gawat darurat, (4) hitam, meninggal dunia. Untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan  perlu  dilakukan  identifikasi  korban  oleh  pihak yang  berwenang  ,  terutama  bagi  korban  bencana  tertentu. (Misalnya: terorisme, kegagalan teknologi, dan lain-lain).
  2. Mengidentifikasi  dan  mengantisipasi  kebutuhan  yang diperlukan dalam pertolongan dan evakuasi korban bencana.
  3. Mengidentifikasi sumberdaya lokal dan potensi risiko sekunder bagi keselamatan korban dan penolong.
  4. Melaporkan  kegiatan pencarian secara berkala per 3 jam atau per 6 jam atau sesuai kondisi. (Lampiran 2)

2.  Pertolongan

Kegiatan pertolongan dilakukan dengan langkah-langkah:

  1. Tim menyusun rencana pertolongan;
  2. Tim  penolong  menuju  lokasi  bencana  bersama  tim  pencarian dengan  terlebih  dahulu  mempelajari  batasan  klasifikasi  tiga wilayah  penanggulangan  yang  telah  ditetapkan  oleh  Tim Pencarian;
  3. Memberikan  pertolongan  pertama  kepada  korban  bencana  di tempat kejadian;
  4. Pengobatan  sementara  kepada  korban  bencana  di  tempat kejadian;
  5. Melakukan  rujukan  bagi  korban  yang  memerlukan  tindakan lebih lanjut;
  6. Melaporkan  kegiatan  pertolongan  secara  berkala  per  3  jam atau per 6 jam atau sesuai kondisi. (Lampiran 3)

3.  Evakuasi

Kegiatan evakuasi dilakukan dengan langkah-langkah:

  1. Tim  evakuasi  menuju  lokasi  bencana  bersama  tim  pencarian dan tim penolong;
  2. Memindahkan korban bencana keluar dari sumber bencana ke tempat yang lebih aman untuk mendapat tindakan selanjutnya;
  3. Memberikan  pengobatan  sementara  kepada  korban  bencana selama dalam perjalanan;
  4. Memberikan  dukungan  sosial  dan  psikologis  kepada  korban bencana;
  5. Melaporkan  kegiatan  evakuasi  secara  berkala  per  3  jam  atau per 6 jam atau sesuai kondisi. (Lampiran 4)

C.   Fasilitas

Fasilitas yang dibutuhkan dalam pencarian, pertolongan dan evakuasi terdiri atas perlengkapan tim dan perlengkapan pribadi. (lampiran 5)

BAB V

WAKTU PENCARIAN, PERTOLONGAN, DAN EVAKUASI

  1. Pencarian  dan  pertolongan  terhadap  korban  bencana  dihentikan  jika seluruh korban telah ditemukan, ditolong dan dievakuasi. Atau setelah jangka  waktu  7  (tujuh)  hari  sejak  dimulainya  pencarian,  tidak  ada tanda-tanda korban akan ditemukan.
  2. Penghentian pencarian dan pertolongan korban bencana, dapat dibuka kembali  dengan  pertimbangan  adanya  informasi  baru  mengenai indikasi keberadaan korban bencana.

Picture1

Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2009 Tentang Standarisasi Peralatan Penanggulangan Bencana

BAB II

STANDAR MINIMAL PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA

SESUAI JENIS BENCANA

  1. Standar Minimal Jenis Peralatan Penanggulangan Bencana.

Picture2

PANDUAN KESELAMATAN KERJA

ADIDAS GROUP

 

Secara Umum berikut adalah aturan keselamatan kerja Adidas Group.

Picture3Picture4

  1. Lebar tangga merupakan faktor penting dalam memastikan pekerja dapat mengosongkan lantai atas
  2. bangunan pabrik apabila terjadi kebakaran atau situasi darurat lainnya. Lebar yang disarankan untuk
  3. tangga bergantung pada:
  4. Jumlah total penghuni di dalam bangunan (semakin banyak orang, semakin besar lebar yang
  5. diperlukan)
  6. Jumlah  lantai  di  dalam  bangunan  (semakin  banyak  jumlah  lantai,  semakin  mudah  jumlah
  7. penghuni  yang  ada  untuk  meninggalkan  bangunan  melalui  lebar  stairwell  [ruang  kosong
  8. vertikal tempat tangga berada])
  9. Tabel  berikut  memuat  jumlah  orang  yang  dapat  dievakuasi  melalui  stairwell  dengan  lebar  yang
  10. dinyatakan.  Dianggap  di  tiap  lantai  bangunan  terdapat  penghuni  dalam  jumlah  yang  kurang-lebih
  11. sama. Selain itu diasumsikan juga bahwa lebar stairwell konstan di semua lantai bangunan.

Picture5 Picture6

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bnpb.go.id.

http://www.adidas-group.com

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Standar Evakuasi: Prosedur, Waktu, Personil, Jalur, dan Fasilitas

  1. inforiauco says:

    mantep klo semua pabrik di indonesia menerapkannya,
    kerja jadi nyaman dan aman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s