Perilaku dan Risiko Berkendara di Negara-Negara ASEAN

Ditulis oleh Danang Setiawan (2512204902)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri – ITS

Picture25Negara berkembang memiliki kendala dalam mengimplementasikan keselamatan kerja secara sepenuhnya, salah satunya adalah implementasi pada sektor transportasi. Kerugian akibat kecelakaan kerja di transportasi darat, di negara-negara ASEAN diestimasikan mencapai  14 Trilliun USD per tahun atau 2,1% dari  GNP per tahun. Tingginya tingkat kecelakaan diakibatkan karena ketidakseimbangan antara pertumbuhan kebutuhan dan penggunaan sarana transportasi dengan tingkat pemahaman dan fasilitas transportasi yang tersedia.

Indonesia, salah satu negara berkembang di kawasan ASEAN, memiliki rata-rata jumlah kecelakaan transportasi darat mencapai 16.548 kasus per tahun. Indonesia memiliki 63.318.522 kendaraan bermotor terdaftar pada tahun 2007, dimana 73% dari total adalah sepeda motor. Dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, sepeda motor memiliki risiko kecelakaan tertinggi. Di Indonesia, 61% kecelakaan transportasi darat merupakan kecelakaan sepeda motor, akibat dari lemahnya kesadaran dan kedisiplinan dalam mematuhi aturan berkendara.

Tingginya laju pertumbuhan penduduk, jumlah kendaraan dan GDP mengakibatkan tingginya tingkat permintaan terhadap sarana transportasi darat. Namun, di beberapa negara ASEAN, infrastruktur jalan, peraturan dan pendidikan berkendara seringkali tidak mengikuti pertumbuhan tersebut. Peningkatan tingkat penggunaan kendaraan bermotor memberikan pengaruh positif pada penurunan tingkat risiko trasportasi (Gambar 1). Al Haji (2005), membandingkan antara tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor dan risiko di negara-negara ASEAN dengan Swedia sebagai negara industri yang telah sukses menerapkan kebijakan trasportasi. Singapura, Brunei dan Malaysia memiliki risiko kecelakaan lebih rendah dengan penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Picture26

Gambar. Risiko Kecelakaan dan Tingkat Penggunaan Kendaraan Bermotor di ASEAN (Al Haji, 2005)

Di Indonesia, tingginya tingkat kecelakaan transportasi darat diakibatkan karena rendahnya pemahaman dan kedisiplinan untuk menerapkan keamanan berkendara. Dibandingkan dengan negara ASEAN dengan tingkat risiko yang lebih rendah, seperti Malaysia dan Singapura, penggunaan sarana pengaman kendaraan bermotor di Indonesia masih sangat rendah, khususnya pada pengguna sepeda motor. Setelah melakukan penelitian terhadap negara-negara ASEAN, El Haji (2005) merumuskan 3 (enam) tahap untuk mengurangi tingkat risiko berkendara di negara-negara tersebut, diantaranya:

  1. Memberikan pemahaman ke masyarakat untuk berganti dari penggunaan sarana transportasi berisiko tingi (sepeda motor) dengan sarana transportasi berisiko rendah (transportasi publik).
  2. Memberikan perhatian kepada tingkat pemahaman masyarakat dalam berkendara yang aman, serta diimbangi dengan penyediaan peraturan dan jalan yang standar.
  3. Penyediaan sarana pengaman berkendara harus memperhatikan kondisi wilayah yang bersangkutan. Helm didesain dengan memperhatikan beberapa hal, seperti: kenyamanan ketika digunakan, berkualitas, ringan, dan sesuai dengan cuaca di wilayah.

Sumber:

Al Haji, G., (2005), Road Safety in Southeast Asia: Factors Affecting Motorcycle Safety, ICTCT extra workshop.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Perilaku dan Risiko Berkendara di Negara-Negara ASEAN

  1. Mandra Ayi Restika Maulidya (2510100040) says:

    Artikel diatas sangat informatif, mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga keamanan saat berkendara, baik itu menggunakan transportasi pribadi maupun umum. Tidak dapat dipungkiri di negara kita ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas akibat kurang sadarnya perilaku manusia dalam memperhatikan keselamatan dirinya masing-masing. Faktor umum yang menyebabkan kecelakaan ialah human error. Human error sering terjadi pada saat berkendara. Misalnya, mengantuk saat menyetir kendaraan, merasa jenuh karena adanya macet yang berkepanjangan, dan lain lain. Tanpa disadari hal-hal tersebut dapat membahayakan diri pengendara. Banyak orang mati sia-sia setiap tahunnya. Untuk mencegah hal tersebut, pemerintah seharusnya memberikan akses jalan yang memiliki fasilitas agar pengendara yang mengantuk menjadi tersadar jika ia sedang menyetir, seperti polisi tidur kejut, perbanyak rest area, serta himbauan tentang tidak menyetir saat mengantuk. Akhir-akhir ini saya melihat dan mendukung program kepolisian lalu lintas tentang anak sekolahan yang banyak membawa kendaraan pribadi. Slogan yang bertuliskan “Save our student” bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada para siswa tentang pentingnya memiliki SIM dan melatih diri berkendara dengan baik. Memang kebanyakan korban kecelakaan yang terjadi ialah anak sekolah yang belum memiliki ijin mengemudi. Tidak segan-segan polisi menilang anak sekolah yang berkendara terlihat dari seragam yang dipakainya. Tetapi tidak berselang lama, program tersebut sudah meredup. Makin banyak lagi siswa yang berkendara dengan kendaraan pribadi. Kurang tegasnya pemerintah dalam menerapkan program yang dijalankan. Padahal hal tersebut jika diterapkan sangat bagus, serta dapat menyelamatkan generasi penerus bangsa dari kecelakaan yang hingga akhirnya mati sia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s