Analisis Faktor Kecelakaan Kereta Api Di Indonesia Menggunakan Human Factors Analysis and Classification System (HFACS)

Ditulis oleh Ida Sri Wardani (2512205206)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri – ITS

Perkeretaapian di Indonesia terus berkembang, mulai dari panjang rel, pertumbuhan jumlah gerbong, pertumbuhan jumlah stasiun, serta produksi angkutan penumpang dan barang. Dengan biaya yang relative lebih murah dan waktu yang lebih cepat untuk jarak menengah, kereta api juga masih menjadi pilihan baik dari kalangan ekonomi rendah, menengah, sampai atas. Pada penelitian yang dilakukan oleh Iridistiadi dan Izazaya (2012) ini, dilakukan studi untuk memahami berbagai faktor penyebab yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan. dengan pendekatan Human Factors Analysis and Classification System for Railroad Industry (HFACS-RR) dan 35 laporan investigasi kecelakaan dari KNKT. Hasil dari penelitian ini dipaparkan pada tabel 1 di bawah ini.

 Picture27

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 183 faktor yang berkaitan dengan terjadinya kecelakaan, yang masuk dalam kategori preconditions for operator acts (44%), organizational factors (27%), supervisory factors (18%), operator acts (10%), dan outside factors (1%). Penelitian ini membuktikan, walaupun masinis memegang peranan penting dalam menjalankan kereta api, kecelakaan dapat terjadi tidak semata-mata karena kesalahan masinis saja, tetapi terdapat faktor lain yang berkontribusi lebih besar seperti faktor organisasi,kondisi lingkungan, teknologi yang digunakan, maupun kondisi dari masinis yang terganggu akibat sistem kerja yang buruk. Dari hasil ini, dapat diketahui bahwa faktor manusia (sebagai operator dan bagian dari organisasi KAI) memiliki signifikansi yang besar terhadap faktor penyebab kecelakaan.

Keselamatan perkeretaapian di Indonesia masih membutuhkan perhatian serius, dilihat dari tingginya angka kecelakaan setiap tahunnya. Dalam tahun 2004-2010, terjadi lebih dari 700 Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH), di mana 75% merupakan peristiwa anjlok/terguling, 5% tabrakan antar KA, dan 20% tabrakan antara KA dengan kendaraan bermotor di persimpangan sebidang. Angka kecelakaan kereta api di Indonesia masih memprihatinkan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun belum dapat menjawab permasalahan yang sebenarnya terjadi. Ini disebabkan salah satunya karena faktor-faktor yang terkait dengan kecelakaan belum dapat tergali ataupun dipahami dengan baik. Sebagai contoh, penerapan jalur ganda tidak akan berpengaruh signifikan mengurangi angka terjadinya PLH apabila permasalahan utamanya terletak pada kelelahan dan kantuk yang dialami masinis. Dari contoh tersebut terlihat bahwa solusi yang bersifat parsial dan tidak memandang permasalahan secara sistematik belum tentu dapat secara signifikan mengurangi jumlah PLH. Untuk seluruh kejadian kecelakaan yang masuk dalam kategori PLH, sebagian besar faktor penyebab terkait kecelakaan masuk dalam level preconditions for operator acts. Dari level ini, faktor teknologi mendominasi karena seringnya terjadi kerusakan pada sarana maupun prasarana, meliputi sistem komunikasi, sistem persinyalan, kerusakan pada petunjuk kecepatan lokomotif, tidak berfungsinya sistem pengereman dan lain sebagainya.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlunya dilakukan beberapa upaya perbaikan yang menyeluruh dan komprehensif untuk meningkatkan keselamatan perkeretaapian di Indonesia, seperti peningkatan kualitas perawatan sarana dan prasarana serta penerapan manajemen kelelahan bagi seluruh operator kereta api. Perbaikan organisasi dan kelembagaan juga perlu dilakukan, agar tidak menjadi aspek yang dapat menyebabkan masinis maupun asisten masinis melakukan kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Perlu juga dilakukan peningkatan penyelerasan hubungan antara PT KAI sebagai operator perkeretaapian dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian sebagai regulator agar kinerja dan keselamatan perkeretaapian dapat meningkat dan dapat melayani masyarakat sepenuhnya.

Referensi

[1].  Direktorat Jenderal Perkeretaapian. (2011),Jumlah kecelakaan kereta api, diambil dari: http://perkeretaapian.dephub.go.id/index.php?-option=com content&view=article&id=61&Itemid-=62&ffe5d588932e0dd5fc957eca7f6225ad-=f12e20efb1d9675047c41d1c57afd366

[2].  Iristiadi dan Izazaya (2012), Kajian Taksonomi Kecelakaan Kereta Api Di Indonesia Menggunakan Human Factors Analysis And Classification System (HFACS), Prosiding InSINAS 2012, Indonesia.

[3].  Hidayat, T. (2012), Jalan Panjang Menuju Kebangkitan Perkeretaapian Indonesia; Reformasi dan Restrukturisasi Perkeretaapian (2nd ed.), Indonesia Railway Watch, Bandung.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s