Sudah Layakkah Keselamatan Para Pengontrol Lalu Lintas Udara?

Ditulis oleh Nurul Hudaningsih (2512204003)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri – ITS

3_air_transportion_pg_3_720Perkembangan jumlah penduduk dunia menuntut tersediannya sarana transportasi yang memadai. Berkembangnya aktivitas manusia di seluruh aspek kehidupan berkorelasi postif terhadap efisiensi waktu. Ketika darat dan laut telah dipenuhi orang, lalu lintas udara merupakan alternatif yang solutif.  Bagi orang-orang yang memiliki kesibukan, pesawat adalah solusi yang mampu mengefisiensikan waktu perjalan mereka. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo dalam rilis Pusat Komunikasi Publik Kemenhub yang diterima di Jakarta, jumlah penumpang pesawat yang menggunakan jasa maskapai domestik meningkat sebanyak 15 % selama tahun 2012 menjadi sebanyak 72,4 juta orang. (Antara News, 2013).

Peningkatan permintaan transportasi udara yang cukup besar tersebut perlu juga diimbangi dengan adanya jaminan keselamatan bagi seluruh penumpang maupun bagi awak pesawat. Namun jumlah kecelakaan pesawat masih sering terjadi baik di domestik maupun luar negeri. Salah satu kecelakaan hebat pada dunia penerbangan internasional adalah kecelakaan Swiss pada tahun 2008, dimana terdapat 2 pesawat yang mengalami kecelakaan di udara.

Kecelakaan udara dapat disebabkan oleh banyak hal. Human error dan kondisi patugas yang bersangkutan menjadi faktor pertama yang sering menyebabkan kecelakaan pesawat. Human error menjadi penyebab kecelakaan Adam Air penerbangan KI-574 pada tahun 2007 yang menewaskan 102 orang. Sedangkan pada kasus kecelakaan pesawat Swiss terjadi akibat adanya komunikasi yang tidak lancar antara pilot yang berada di dalam pesawat dengan petugas ATM (Air Traffic Management) yang memberikan instruksi yang berada di menara kordinasi. Data dari yang didapatkan bahwa industri penerbangan mengalami banyak kecelakaan akibat tingkat keandalan manusia, sedangkan posisi tertinggi adalah pada industri nuklir.

Tabel 1. Jumlah Kecelakaan Akibat Keandalan Manusia

Industry

Frequency

Nuclear power plant

113

Civil aviation and air traffic control

92

Offshore oil and gas

59

Marine

32

Railway

26

Nuclear reprocessing

21

Manufacturing

20

Chemical

19

Various

14

Post office

8

Engineering

4

Experimental

3

Non-nuclear power generation

2

Total

413

Sumber: CORE-DATA

Kirwan et all (2008), melakukan penelitian tentang tingkat kehandalan pada petugas ATM. Hal ini didasarkan pada tugas petugas ATM untuk memberikan instruksi kepada pilot selama di udara. Dirasa tugas ATM ini sangat berat karena jumlah pesawat yang perlu diberi instruksi tidak hanya satu buah serta dengan kondisi yang berbeda-beda. Hal ini menuntut petugas ATM untuk terus dalam kondisi siap siaga. Kirwan ingin melakukan pengembangan sebuah sistem yang dapat membantu kerja petugas ATM dalam memberikan instruksi penerbangan. Sistem tersebut disebut HRA (Formal Human Reliability Assessment).

Salah satu cara untuk menyelidiki keandalan manusia melalui simulasi real-time. Sulit untuk menyelidiki petugas  selama melakukan kerja nyata, karena ada risiko mengganggu pengendali dan benar-benar memicu kecelakaan. Sebaliknya, simulasi dengan kontroler nyata menawarkan lingkungan yang realistis tetapi lebih aman di mana untuk mengeksplorasi performansi dan kehandalan manusia. Ada kemungkinan untuk melihat kinerja manusia, untuk mendeteksi kesalahan, dan untuk melihat bagaimana mereka dikoreksi, dan bagaimana mereka mempengaruhi kinerja dan keandalan sistem. Hal ini juga memungkinkan untuk mengumpulkan data kesalahan petugas ATM.Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data human error petugas ATM selama melakukan tugas. Data yang telah terkumpul selanjutnya akan diolah secara statistik dan dilanjutkan dengan membuat sebuah sistem informasi HRA.

Data Human error yang cukup kuat dan valid telah diturunkan untuk tugas ATM komunikasi. Sekarang ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan kemampuan HRA fleksibel dan divalidasi untuk sistem ATM, untuk memastikan lanjutan transportasi udara yang aman selama beberapa dekade mendatang. Kemudahan untuk petugas ATM akan meningkatkan jeminan keamanan bagi pengguna transportasi udara dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Sumber :

  • Kirwan, Barry, et all. 2008. “Human error data collection as a precursor to the development of a human reliability assessment capability in air traffic management”. Reliability Engineering and System Safety 93 (2008) 217–233
  • http://www.antaranews.com , “Jumlah penumpang pesawat naik 15 persen”. Diakses pada 25 Mei 2013.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi, Artikel Human Reliability and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sudah Layakkah Keselamatan Para Pengontrol Lalu Lintas Udara?

  1. Galuh Pratiwi says:

    Saya telah membaca artikel serupa mengenai Åsa Ek (2006) yang mengusulkan pengukuran safety culture melalui questionnaire package dan interview. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana kondisi dari aspek safety culture dan hubungannya dengan organizational climate.Apabila dibandingkan, Kirwan dan Åsa Ek sama-sama melakukan pengumpulan data, dimana dengan simulasi real time Kirwan dapat melihat bagaimana petugas ATM dikoreksi dan bagaimana petugas tersebut mempengaruhi kinerja dan keandalan sistem. Sedangkan dengan questionnaire dan interview Åsa Ek dapat melihat faktor safety climate maupun organizational climate, serta korelasi antara keduanya. Åsa Ek menyimpulkan bahwa manajer pada ATCC maupun kantor ANS cenderung memiliki persepsi yang lebih positif terhadap hampir seluruh aspek pada safety culture dibandingkan dengan non-manajer. Namun, untuk organizational climate, hanya beberapa dimensi saja dimana manajer memiliki persepsi yang lebih positif dibandingkan dengan non-manajer. Korelasi positif antara aspek safety culture dan dimensi organizational climate terlihat pada kedua ATCC. Berbeda halnya dengan kantor ANS, yang memiliki sedikit korelasi positif antara kedua hal tersebut.

  2. Fitria Kurnia Putri says:

    2511100001_ Mata Kuliah Pilihan Human Reliability
    Artikel yang berjudul “Sudah Layakkah Keselamatan Para Pengontrol Lalu Lintas Udara?” menjabarkan lebih dalam terkait pentingnya keselamatan Air Traffic Management. Dalam dunia penerbangan Air Traffic Management dibagi menjadi beberapa departemen yakni air traffic control, aircraft flow management, flight information, dan alerting services. Sehingga untuk pengaturan lalu lintas udara sebaik nya kita sebut ATC. Keselamatan penerbangan bergantung pada seorang Air Traffic Control (ATC). Air Traffic Control bertugas untuk memberikan instruksi pada pilot selama di udara.
    Dalam artikel tersebut belum dijelaskan secara detail terkait kompetensi yang harus dimiliki serta tugas yang harus dijalankan oleh seorang ATC. Kompetensi yang harus dimiliki seorang ATC berupa kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris 100 kata per menit, kemampuan membuat keputusan yang cepat dan tepat mengenai penerbangan pesawat dalam hitungan detik. Tugas seorang Air Traffic Control yang tercantum di dalam Annex 2 (Rules of the Air) dan Annex 11 (Air Traffic Services) Konvensi Chicago 1944 adalah :
    a. mencegah tabrakan antar pesawat,
    b. mencegah tabrakan pesawat dengan penghalang penerbangan,
    c. mengatur arus lalu lintas udara yang aman, cepat dan teratur kepada pesawat terbang, baik yang berada di landasan atau yang sedang terbang / melintas dengan menggunakan jalur yang telah ditentukan
    Dalam sehari, seorang ATC harus mengontrol serta memonitor lebih dari satu jadwal penerbangan (pesawat) baik keberangkatan (deparature), maupun kedatangan (arrivals). Jumlah jadwal penerbangan di Bandar Udara bergantung pada jumlah permintaan. Di Indonesia sendiri pada tahun 2012 terjadi peningkatan jumlah penumpang pesawat sebesar 15%. Sehingga keselamatan seorang ATC harus diperhatikan mengingat jadwal penerbangan yang semakin padat. Karena keselamatan dan kesehatan seorang ATC memengaruhi jutaan nyawa orang lain.
    Beberapa tahun terakhir ini telah terjadi kecelakaan pesawat dikarenakan human error baik dari pilot maupun ATC, seperti tabrakan udara di India pada tahun 1996 yang melibatkan Kazakhstan Airlines dan Saudi Arabian Airlines hal ini dikarenakan kurang nya kompetensi ATC Crew dalam berbahasa Inggris serta kurang sigapnya seorang ATC, kecelakan pesawat Adam Air yang menewaskan 102 orang tahun 2007 dikarenakan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi kondisi darurat, kecelakaan pesawat Swiss tahun 2008 terjadi karena adanya komunikasi yang tidak lancar antara Pilot dengan ATC. Human error dapat terjadi dikarenakan keandalan seorang ATC yang cukup rendah, sehingga mengakibatkan human error tinggi alhasil terjadi kecelakaan udara.
    Keandalan pekerja dapat diukur dengan menggunakan Human Reliability Assesment (HRA). Tujuan dari human reliability assessment adalah identifikasi eror yang bisa terjadi (human error identification), memutuskan berapa sering human error terjadi (human error quatification), mengurangi tingkat keseringan terjadinya eror (human error reduction). HRA juga dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dan ketersediaan sistem dengan menurangi terjadinya guman eror (Kirwan, 1994).
    Dalam artikel tersebut, penulis mengambil contoh penelitian yang dilakukan oleh Kirwan et all (2008). Pada penelitiannya ia menggunakan metode Human Reliability Assesment (HRA) dalam melakukan pengembangan sistem yang dapat membantu kerja petugas ATC. Namun dalam artikel tersebut belum dijelaskan gambaran secara umum terkait hasil penelitian Kirwan, dan belum adanya gambar/tabel data statistic hasil penelitian. Selain dengan menggunakan Human Reliability Assesment, untuk mengukur keandalan ATC dapat didukung pula dengan menggunakan analisa beban kerja (workload analysis), analisa risiko (risk analysis). Dengan menggunakan analisa bebean kerja kita bisa lebih tau secara detail terkait utilitas seorang ATC sehingga kita dapat menentukan jumlah ATC yang dibutuhkan agar tidak terjadi stress kerja mengingat tanggungjawab ATC yang cukup tinggi, dengan menggunakan risk analysis kita bisa mengetahui risiko yang dapat terjadi terhadap setiap pengambilan keputusan oleh ATC, dengan menggunakan HRA kita mampu mengukur keandalan. Ketika HRA, didukung dengan menggunakan analisa beban kerja dan analisa risiko kita dapat meminimalisir terjadinya human error, karena keandalan manusia telah diukur dan di-improve.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s