Perhitungan Alokasi Fungsi Kerja Manusia-Mesin

Ditulis oleh Danang Setiawan (2512204902)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri – ITS

Picture1Alokasi fungsi kerja merupakan tahap penting dalam proses kerja yang melibatkan peran dari manusia dan mesin untuk mewujudkan sistem kerja lebih efektif, handal dan mampu mengefisiensi biaya. Alokasi fungsi kerja manusia-mesin perlu mempertimbangkan masing-masing kapabilitas, manusia dan mesin, baik dari segi keunggulan maupun kelemahan. Metode alokasi fungsi kerja yang telah ada dikembangkan berdasarkan analisis kualitatif dan kurang mempertimbangkan analisis kuantitatif. Penelitian yang dilakukan Zhang, dkk (2011) ditujukan untuk merumuskan metode perhitungan alokasi fungsi kerja manusia-mesin menggunakan metode pengambilan keputusan multi-atribut yang dapat menangkap ketidakpastian, yaitu metode UEWAA (uncertain extended weighted arithmetic averaging) dan ULHA (uncertain linguistic hybrid aggregation).

Perbandingan kemampuan kerja manusia dan mesin berguna dalam menentukan fungsi kerja mana yang sesuai dialokasikan pada manusia dan fungsi kerja mana yang sesuai untuk dialokasikan pada mesin. Kesesuaian alokasi kerja pada kedua pihak, manusia dan mesin, dapat meningkatkan performansi kerja secara keseluruhan. Mesin memiliki keunggulan dalam hal visualisasi data/informasi, penyimpanan, konsistensi, kecepatan dan akurasi (perhitungan), kemampun prediksi dan kemampuan bekerja di lingkungan keras. Sedangkan manusia memiliki keunggulan dalam fleksibilitas, penyelesaian masalah pada permasalahan kompleks dan emosi. Fungsi kerja dalam sistem manusia-mesin dapat diselesaikan melalui kooperasi atau integrasi antara manusia dengan mesin. Tingkat otomasi dibagi menjadi 10 tingkat, yang disusun dari sistem bekerja manual secara keseluruhan hingga sistem terotomasi penuh, dimana mesin dapat melakukan pengambilan keputusan tanpa intervensi dari manusia.

Penentuan alokasi fungsi kerja manusia mesin merupakan keputusan yang melibatkan beberapa atribut pengambilan keputusan. Implementasi metode penentuan alokasi fungsi kerja pada penelitian Zhang, dkk (2011) diterapkan pada cockpit pesawat untuk menentukan tingkat otomasi yang optimal. Langkah pertama, adalah perbandingan kemampuan kerja manusia dan mesin disesuaikan dengan fungsi kerja yang dievaluasi. Kemampuan manusia dan mesin yang telah diidentifikasi, selanjutnya dilakukan pembobotan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Di sisi lain dilakukan diagnosa kesalahan, dengan kategori minimum hingga maximum, untuk kemudian dianalisa pengaruh setiap fungsi kegagalan terhadap kemampuan kerja manusia dan mesin. Tahap akhir adalah perhitungan dengan metode UEWAA untuk mendapatkan hasil keseluruhan. Dari hasil perhitungan didapat bahwa tingkat otomasi optimum berada pada range 3 sampai 5 (sistem berjalan dengan persetujuan dari operator). Tahap selanjutnya adalah menentukan tingkat optimum dari range yang telah didapat. Perhitungan ini menggunakan metode UEWAA dan ULHA, sehingga didapat tingkat otomasi optimum berada pada tingkat 4, yaitu sistem menyediakan pilihan untuk operator melakukan keputusan.

Penggunaan metode di atas, yang didasarkan pada pengambilan keputusan multi-atribut, dapat memberikan keunggulan dari efektifitas analisa kuantitatif dan kualitatif. Sehingga metode ini efektif untuk menyelesaikan permasalahan pengambilan keputusan yang melibatkan ketidaktentuan nilai dari atribut. Penggunaan metode ini dalam periode kedepan yang didukung perkembangan teknologi, akan sangat membantu dalam menentukan tingkat otomasi suatu sistem.

Referensi:

An, Zhang., Zhili, Thang. dan Chao, Zhang., (2011), “Man-machine Function Allocation Based on Uncertain Linguistic Multiple Attribute Decision Making”, Chinese Journal of Aeronoutics, Vol. 24, Hal. 816-822.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Perhitungan Alokasi Fungsi Kerja Manusia-Mesin

  1. Artikel ini sangat informatif karena memberikan informasi mengenai pengukuran menggunakan metode tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam sistem manusia mesin, aktifitas mesin seolah dianggap sangat statis dan rigid, sementara manusia
    sebagai operator melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan atau memori yang telah tersimpan di otak saja. Manusia dalam berinteraksi dengan sistem kerja melakukan proses penyesuaian atau adaptasi sehingga dalam tahap awal cenderung mengalami beban kerja yang lebih besar, dan setelah adapatasi terjadi cenderung lebih rendah dan konstan. Hal ini menjadi bukti bahwa adaptasi merupakan salah satu mekanisme yang terjadi dalam sistem kerja yang bergerak secara bersama. Dua metode tersebut yaitu UEWAA dan ULHA dapat membuktikan penyesuaian porsi pekerjaan yang dilakukan oleh manusia dan mesin itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s