Pekerja Kantor vs Gejala Muskuloskeletal

Ditulis oleh Wisda Mulyasari (2511204201)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik industri – ITS

 Picture1Pernahkah anda mendengar tentang gejala muskuloskeletal? Jika anda pekerja kantor waspadailah gejala muskuloskeletal. Hal ini dikarenakan gejala muskuloskeletal paling banyak terjadi pada pekerja kantor. Berkembangnya pekerjaan berbasis komputer dan kantor, seperti pekerjaan layanan pelanggan menyebabkan tingginya prevalensi WMSDs di kalangan pengguna komputer antara 40 hingga 80% (Katz et al, 2000).

Jika anda mengalami rasa nyeri, rasa panas, rasa tidak nyaman, timbulnya kejang otot, timbulnya kekakuan otot, limitasi gerakan, kekakuan, terasa lemas, pembengkakan, memar pada bagian tubuh seperti tulang, otot, sendi dan ligamentum, waspadailah gejala tersebut karena bisa saja anda sedang mengalami gejala muskuloskeletal atau lebih dikenal dengan Work Related Musculoskeletal Disorder (WMSDs).

Biasanya gejala muskuloskeletal ini juga diikuti dengan ketidaknyamanan visual seperti kelelahan mata, blurriness, kekeringan, dan kesulitan fokus (Aaras et al, 2001). WMSDs paling banyak terjadi pada bagian ekstremitas atas dan leher dan menyumbang 30% dari kasus cedera total pada tahun 2005 (Rempel et al, 2006)

Bagaimana menghindari WMSDs ?

Untuk menghindari gejala muskuloskeletal ini, mulailah dengan mencari tahu faktor-faktor penyebabnya. Banyak faktor-faktor diidentifikasi sebagai penyebab WMSDs dan ketidaknyamanan visual seperti faktor organisasi kerja seperti beban kerja yang berlebihan, tuntutan kognitif, jam bekerja di depan komputer yang terlalu lama, postur tubuh canggung, stres psikologis, masalah psikososial dan fitur desain workstation kantor dan bangunan (Ijmker et al, 2007).

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pelatihan ergonomic office dikombinasikan dengan kursi yang dapat disesuaikan dan diselingi dengan istirahat kerja dapat mengurangi WMSDs dan gejala visual (Michelle M. Robertson et al, 2013)

Penelitian dilakukan kepada 22 pekerja wanita yang sehat. Peserta tersebut terdiri atas kelompok (ET) Ergonomic Trained, n = 11 dan (MT) Minimal Trained, n = 11. Mereka melakukan pekerjaan di laboratorium berbasis layanan pelanggan selama 19 hari yang terdiri dari 4 hari di mana peserta baik ET dan kelompok MT belajar komputer berbasis tugas customer service dan 15 hari eksperimen dimana lamanya eksperimen dalam 1 hari adalah 8 jam.

Eksperimen diawali dengan mendisain work station, terdapat dokumen, mouse dan keyboard dan sebuah kursi ergonomis adjustable. Workstation ini tertutup 3 bilik panel sehingga peserta secara visual terisolasi satu sama lain. Tugas yang diberikan pada eksperimen ini adalah berdasarkan aktivitas kerja Customer Service Representative (CSR) seperti penggunaan komputer dan telepon bersama-sama serta memasukkan data baik dari panggilan masuk pelanggan atau customer dalam bentuk fax. Ada tiga kategori tingkat kesulitan dalam menyelesaikan tugas entri data (Standard, Medium, dan High). Job indikator produktivitas diidentifikasi dari akurasi atau kualitas pekerjaan dan kuantitas kerja. Set-up eksperimen dilakukan dengan memberikan variasi gerakan duduk-berdiri selama beberapa waktu tertentu. Peserta juga mengisi survei mengenai gejala dasar muskuloskeletal setiap hari selama 15 hari.

Analisa statistik menunjukan bahwa peserta yang menerima pelatihan kantor ergonomi (ET) dapat meminimalkan ketidaknyamanan muskuloskeletal dan visual secara signifikan. Dengan memvariasikan postur tubuh, mereka dapat menghasilkan kinerja yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok (MT) dimana gejala yang ditunjukkan signifikan lebih tinggi.

Dengan penyediaan sebuah workstation duduk-berdiri yang dapat disesuaikan, peserta dengan efektif mampu menggunakan pengetahuan yang mereka dapat selama pelatihan dalam menyesuaikan workstation mereka secara tepat untuk mengurangi gejala, mengatur perilaku komputasi yang sehat dan meningkatkan kinerja mereka. Penelitian ini unik memberikan panduan untuk bidang keselamatan dan kesehatan kerja dan berkontribusi pada basis pengetahuan intervensi kantor ergonomis dan dapat disimpulkan bahwa pelatihan memainkan peran penting dalam mengurangi WMSDs.

Reference :

Michelle M. Robertson*, Vincent M. Ciriello, Angela M. Garabet. 2013. Office ergonomics training and a sit-stand workstation: Effects on musculoskeletal and visual symptoms and performance of office workers. Journal Applied Ergonomics 44 (2013) 73e85

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s