Apa Itu Cognitive Load Theory (CLT)?

Ditulis oleh Handy Febri Satoto (2512204002)_Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri – ITS

Cognitive Loscreen-shot-2013-01-12-at-1-30-25-pmad Theory (CLT) atau Teori Beban Kognitif merupakan skema teori untuk model pembelajaran. CLT didasarkan pada gagasan kapasitas memori bekerja yang terbatas dan kapasitas memori jangka panjang yang luas. Sejak mula tahun 1980-an, teori beban kognitif (CLT) telah menjadi sebuah teori dan diakui secara luas untuk diterapkan dalam bidang pengajaran dan pembelajaran. Pada dekade pertama difokuskan oleh penelitian tentang metode pembelajaran untuk mengurangi beban kognitif extraneous yang disebabkan oleh desain suboptimal tugas belajar. Beberapa tahun kemudian fokus penelitian telah dikembangkan ke beberapa arah, seperti peran dari tingkat keahlian peserta didik berkaitan dengan prinsip-prinsip instruksional, atau metode untuk mendorong beban kognitif germane yang diperlukan untuk proses belajar yang relevan.

CLT membedakan antara tiga jenis beban kognitif yang terjadi dalam memori kerja selama belajar, yaitu:

  1. Beban kognitif intrinsik, didefinisikan sebagai kompleksitas intrinsik dari informasi yang harus dipelajari. Sebagai contohnya belajar bagaimana membangun kalimat dalam bahasa asing karena memerlukan pemahaman cara berbicara dan urutan membuat sebuah kalimat.
  2. Beban kognitif extraneous, dikarenakan tidak sesuainya presentasi dari materi pembelajaran sehingga informasi dari satu sumber perlu dijaga dalam memori kerja untuk mengintegrasikan dengan informasi dari sumber lain
  3. Beban kognitif germane. Beban kognitif germane diperkenalkan setelah ditemukan bahwa variasi jenis contoh bekerja meningkatkan beban kognitif, tetapi pada saat yang sama mendukung pembangunan skemata.

Prinsip desain pembelajaran yang berasal dari CLT

1.      Prinsip untuk mengurangi beban extraneous

Pada tahun-tahun pertama penelitian CLT, difokuskan pada metode untuk mengurangi beban kognitif extraneous. Berikut penjelasan mengenai efek contoh kerja, efek split-attention, efek modalitas, dan efek redundansi.

  • Efek contoh kerja mempelajari contoh bekerja daripada memecahkan masalah konvensional, karena dapat fokus pada masalah dan menentukan langkah-langkah solusi yang efisien.
  • Efek split-attention menunjukkan bahwa berbagai sumber informasi visual harus disajikan secara terpadu, jika semua sumber informasi merupakan prasyarat bagi pemahaman.
  • Efek modalitas terjadi ketika beberapa sumber informasi yang diperlukan untuk dipahami.
  • Efek redundansi menunjukkan bahwa menghindari penyajian berbagai sumber informasi yang mengulangi informasi yang sama dalam bentuk yang berbeda.

2.      Prinsip untuk mendorong beban germane

Metode desain instruksional yang selanjutnya adalah untuk meningkatkan beban kognitif germane, khususnya berkaitan dengan pembelajaran contoh kerja

3.      Prinsip untuk menyesuaikan beban intrinsik

Pendekatan ini lebih bermanfaat untuk hasil belajar bila dibandingkan dengan menyajikan informasi sekaligus di kedua fase. Kedua frase tersebut adalah penyajian informasi dalam unsur terisolasi yang dapat diproses secara serial dan informasi yang disajikan sekaligus, termasuk hubungan antara unsur-unsur.

Referensi:

Hollender, N., Hofmann, C., Deneke, M., & Schmitz, B. (2010). Integrating cognitive load theory and concepts of human–computer interaction. Computers in Human Behavior, 26(6), 1278-1288.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s