Pencahayaan yang Ergonomis di Rumah Sakit

Ditulis oleh Diah Rachmi D. (2509 100 002)_Mahasiswa Jurusan Teknik Industri ITS

lampuRumah sakit merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks untuk  menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Semakin luas pelayanan kesehatan dan fungsi rumah sakit tersebut, maka akan semakin komplek peralatan dan fasilitas yang dibutuhkan. Pengelola dari rumah sakit harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3), work load perawat dan dokter, serta aspek ergonomis dalam penataan ruang pasien maupun tempat kerja dokter dan perawat. Dengan mempelajari ilmu ergonomi maka kita dapat mengurangi resiko penyakit, meminimalkan biaya kesehatan, nyaman saat bekerja dan meningkatkan produktivitas dan kinerja serta memperoleh banyak keuntungan.

Salah satu aspek yang harus di perhatikan adalah suasana lingkungan dari rumah sakit. Suasana lingkungan kerja yang menyenangkan akan dapat mempengaruhi karyawan dalam pekerjaanya. Sedangkan pasien yang mengalami rasa sakit juga menginginkan kondisi yang mendukung keadaan mereka semakin membaik. Kondisi lingkungan kerja yang perlu diperhatikan antara lain: cahaya, temperature, kelembapan, sirkulasi udara, kebisingan, getara, bau-bauan, tata warna, dekorasi, music tempat kerja dan keamanan di tempat kerja.

Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan ruang. Pencahayaan di dalam ruang memungkinkan orang yang menempatinya dapat melihat benda dan melakukan aktivitas. Sebaliknya cahaya yang terlalu terang juga dapat mengganggu penglihatan. Dengan demikian intensitas cahaya perlu diatur untuk menghasilkan kesesuaian kebutuhan penglihatan di dalam ruang berdasarkan jenis aktivitas-aktivitasnya. Rumah sakit merupakan sarana pelayanan publik yang penting. Kualitas pelayanan dalam rumah sakit dapat ditingkatkan apabila didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas fisik. Ruang rawat inap merupakan salah satu wujud fasilitas fisik yang penting keberadaannya bagi pelayanan pasien. Tata pencahayaan dalam ruang.

2508100139_Aplikasi Ergonomi pada UMKM

Gambar 1 Sumber Cahaya Di Rumah Sakit

Pada rumah sakit intensitas pencahayaan untuk ruang pasien saat tidak tidur sebesar 100-200 lux dengan warna cahaya sedang, sementara pada saat tidur maksimum 50 lux, koridor minimal 60 lux, tangga minimal 100 lux, dan toilet minimal 100 lux. Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak menimbulkan silau dan intensitasnya sesuai dengan peruntukannya.

2508100139_Aplikasi Ergonomi pada UMKMGambar 2 Sumber Cahaya Di Koridor Rumah Sakit

Faktor yang mempengaruhi system penerangan:

  1. Intensitas penerangannya di bidang kerja
  2. Intensitas penerangan umumnya dalam ruangan
  3. Biaya instalasinya
  4. Biaya pemakaian energinya
  5. Biaya pemeliharaan instalasinya antara lain biaya penggantian ke lampu-lampu

2508100139_Aplikasi Ergonomi pada UMKMGambar 3 Pencahayaan di Rumah Sakit

Untuk suatu rumah rumah sakit, penerangan yang baik antara lain memberi keuntungan-keuntungan:

  1. Peningkatan pelayanan
  2. Peningkatan kecermatan
  3. Kesehatan yang lebih baik
  4. Suasana kerja yang lebih nyaman
  5. Keselamatan kerja yang lebih baik.

Sedangkan untuk kekurangan dari cahaya yang terlalu silau adalah:

  1. Cahaya menyilaukan yang tidak menyenangkan (discomfort glare). Cahaya menyilaukan terjadi jika cahaya berlebih mencapai mata. Cahaya ini mengganggu tetapi tidak seberapa mengganggu kegiatan visual, dapat meningkatkan kelelahan dan menyebabkan sakit kepala.
  2. Silau yang mengganggu (disability glare). Cahaya ini secara berkala mengganggu penglihatan dengan adanya penghamburan cahaya dalam lensa mata.

Sehingga pencahayaan yang baik perlu diperhatikan terutama pada fasilitas di tempat umum layaknya rumah sakit. Dikarenakan apabila hal tersebut tidak di perhatikan maka akan berakibat fatal pada kondisi lainnya.

Referensi:

Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pencahayaan Di Rumah Sakit, http://www.psppk-depkes.org/Buku/PEDOMAN%20PENCAHAYAAN%20DI%20RS.pdf, Terakhir diakses 23 Oktober 2012

Santosa. Adi, (2006), Pencahayaan Pada Interior Rumah Sakit, Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Departemen Kesehatan RI 1992. Standar Pelayanan Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pencahayaan yang Ergonomis di Rumah Sakit

  1. Moh Arif Shubhan A.H. (2510100145) Human Reliability Kelas A says:

    Memang benar pencahayaan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan human error. Kurangnya pencahayaan pada rumah sakit sangat mempengaruhi kinerja dari karyawannya dalam melakukan tugas yang seharusnya dilakukan. Contoh pada bagian apoteker, bila pencahayaan kurang maka bisa saja menyebabkan apoteker yang sedang menyiapkan obat sesuai resep dokter salah dalam mengambil jenis obat yang bisa menyebabkan kematian pada pasien. Atau bisa juga pada bagian operasi, bila pencahayaan kurang bisa menyebabkan malpraktek. Aspek pencahayaan untuk mengurangi human error tidak boleh diabaikan.

  2. Tyasiliah Septiana says:

    .
    Selain dari faktor intensitas cahaya, juga perlu diperhatikan sumber cahaya yang digunakan. misalnya menghindarkan penggunaan lampu neon karena radiasinya yang tidak baik untuk tubuh manusia. sebaliknya beralih menggunakan lampu LED yang lebih aman dan hemat listrik. Selain itu lampu LED juga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s