Kecelakaan Antar Kereta Api Di Pemalang Jawa Tengah

Ditulis oleh :
Dominggo Bayu [2508.100.025],
Andi Siregar [2508.100.109],
Gema Kharisma [2508.100.133],
Yangestha Swary S. [2508.100.127]
Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability
Hampir tiap tahun selalu saja ada setidaknya satu kejadian kecelakaan kereta api yang dibahas pada berbagai media berita. Agar tidak semakin bertambah korban jiwa maupun kerugian bagi negara di waktu mendatang, maka penting memahami penyebab kejadian tersebut. Melalui pendekatan teori keandalan manusia diupayakan suatu analisa pada kasus kecelakaan kereta api di Pemalang, Jawa Tengah. Hasilnya didapati bahwa selain kerusakan manusia, faktor manusia juga memiliki pengaruh yang signifikan.

Kejadian kecelakaan antar transportasi kereta telah sering terjadi. Hampir setiap tahun selalu terjadi kecelakaan kereta api. Entah itu kecelakaan tunggal, kecelakaan antar kereta api, ataupun kecelakaan antara kereta api dengan kendaraan lain ataupun dengan manusia. Yang paling sering terjadi adalah kecelekaan antar kereta atau kecelakaan kereta dengan transportasi yang lain. Dan tentu saja yang paling banyak memakan korban meninggal adalah kecelakaan antar kereta dengan kereta. Pada tahun 2010, terjadi kembali peristiwa yang sangat tidak kita inginkan untuk terjadi. Kecelakaan maut antar kereta terjadi di Stasiun Petarukan Pemalang,Jawa Tengah pada hari Sabtu tanggal 2 Juni dini hari[[i]]. Kecelakaan terjadi antara Kereta Api Argo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya dengan Kereta Api Senja Utama Jurusan Jakarta-Semarang. 

Kecelakaan terjadi saat dini hari dimana para penumpang masih dalam keadaan terlelap untuk beristirahat. Dan tepat ketika pukul 03.00 kecelakaan maut tersebut terjadi. Kereta Argo Anggrek menabrak Kereta Api Senja Utamadari belakang sehingga menyebabkan gerbong belakang Kereta Api Senja Utama hancur dan gerbong kedua dari belakang terbalik. Para penumpang yang berada di bagian gerbong depan masih sempat untuk melarikan diri, namun nahas banyak penumpang yang berada pada gerbong belakang menjadi korban tewas ditempat[[ii]]

Proses Terjadinya Kecelakaan Kereta Api

Pada tanggal 2 Juni dini hari Kereta Senja Utama Jakarta-Semarang memasuki Stasiun Patarukan Pemalang di Jawa Tengah, sesuai jadwal Kereta Senja Utama Jakarta-Semarang langsung menuju pada Spoor III. Pada saat bersamaan pada Spoor II Kereta Senja Utama Jakarta-Kediri hendak berangkat, maka Kereta Senja Utama Jakarta-Semarang menunggu keberangkatan Senja Utama Jakarta-Kediri. Pada pukul 02.44 sesuai jadwal Kereta Api Argo Anggrek akan memasuki Stasiun Patarukan, sudah sewajarnya Kereta Argo anggrek yang merupakan kereta eksekutif didahulukan terlebih dahulu. Maka Kereta Senja Utama Jakarta-Semarang menunggu Kereta Argo Anggrek untuk melintas terlebih dahulu. Petugas stasiun yang berada di tempat memberikan sinyal kepada Kereta Argo Anggrek untuk berpindah jalur pada Spoor I karena pada Spoor III telah ada Senja Utama Jakarta-Semarang. Dengan kecepatan tinggi Kereta Argo Anggrek memasuki Statsiun Patarukan, tetapi ternyata kereta tersebut tidak memasuki jalur Spoor I. Akhirnya kecelakaan pun tidak bisa dielakkan, Kereta Argo Anggrek menabrak Kereta Senja Utama Jakarta-Semarang dari belakang dan menyebabkan gerbong belakang hancur dan gerbong kedua dari belakang terguling[[iii]].

Fault Tree Analysis Kecelakaan Maut Kereta Api di Pamelang Jawa Tengah

Human Reliability Assessment

Diketahui probabilitas masing-masing error yang digambarkan pada Gambar 2 adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Probabilitas Error

Asumsi

ME1

0,001

HE1

0,01

HE2

0,01

HE3

0,01

HE4

0,01

HE5

0,01

Berdasarkan probabilitas yang telah diketahui sebelumnya, dapat dihitung minimal cut-sets dan imprtance measure untuk setiap kemungkinan error sebagai berikut:[[iv]]

Contoh perhitungan:

Minimal Cut-Sets         = HE1 x HE 4

= 0,01 x 0,01

= 0,0001

Importance Measure(untuk HE1 x HE4)        = P(x)/P(top-event)

= 0,0001/0,0016

= 0,0625

Tabel 2 Perhitungan Importance Measure

Minimal cut-sets Importance measure
(P(x)/P(top event))
ME1 0,001 0,625
HE1 x HE4 0,0001 0,0625
HE1 x HE5 0,0001 0,0625
HE2 x HE4 0,0001 0,0625
HE2 x HE5 0,0001 0,0625
HE3 x HE4 0,0001 0,0625
HE3 x HE5 0,0001 0,0625
Sum 0,0016

Analisis Interpretasi Hasil Perhitungan

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan terhadap error pada subbab sebelumnya, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kerusakan mesin atau KNOP dalam studi kasus ini memiliki tingkat kepentingan yang peling penting dibandingkan kemungkinan error yang lainnya yaitu sebesar 0,625
  2. Error yang terjadi pada manusia memiliki tingkat kepentingan yang sama satu sama lain yaitu sebesar 0,625. Hal ini menunjukkan bahwa error yang terjadi baik pada petugas pemberi tanda maupun masinis yang mengendarai kereta memiliki tingkat kepentingan yang sama

Referensi

[i] VIVAnews. Kronologi Tabrakan Maut Kereta di Pemalang. http://vlog.viva.co.id/news/read/180766-foto-kecelakaan-kereta-api-pemalang

[ii] Anonim. 2010. Tabrakan Maut KA di Pemalang, Sedikitnya 36 Korban Tewas. http://wartamerdeka.blogspot.com/2010/10/tabrakan-maut-ka-di-pemalang-sedikitnya.html

[iii] Victoria, Widya. 2010. Inilah Versi Resmi Kronologi Tragedi Pemalang. http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2010/10/04/5535/Inilah-Versi-Resmi-Kronologi-Tragedi-Pemalang-

[iv] Kirwan, Barry. 1994. A Guide practical Human Reliability Assessment. London: Taylor&Francis

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s