Human Error pada Peristiwa Tenggelamnya Kapal Imigran di Perairan Selatan Jawa Timur

Ditulis oleh :
Ilham Doni Tamara [2508.100.113],
I Ketut Agus Indra Bayu [2508.100.076],
Rachmawan Aryano [2508.100.140],
A. Fachrur Rosi M. [2508.100.111]
Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability
 
 
Ilustrasi Tenggelamnya Kapal Titanic karya Willy Stower (1912)

 

Peristiwa tenggelamnya kapal yang mengangkut para imigran dari Timur Tengah terjadi pada Hari Sabtu, 17 Desember 2011 di laut selatan Jawa, tepatnya 20 mil dari bibir Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek, jawa Timur. Peristiwa ini menimbulkan cukup banyak korban jiwa. Dari 215 orang yang diangkut kapal, hanya 48 orang yang selamat, sedangkan 97 orang ditemukan tewas dan sisanya tidak ditemukan. Penyebab utama dari peristiwa ini adalah pecahnya kapal yang dihantam gelombang besar. Kapal kayu yang seharusnya berkapasitas 100 orang ini disebutkan pecah oleh hantaman ombak besar di wilayah laut selatan jawa. Sementara itu, penumpang yang diangkut merupakan para imigran gelap yang berasal dari Timur Tengah dan bertujuan untuk melakukan perjalanan via laut ke Australia untuk mendapatkan suaka politik. Pengangkutan imigran asal Timur Tengah ke Australia sebenarnya sudah sering terjadi, namun baru kali ini terjadi kecelakaan yang menewaskan banyak korban jiwa.

Pada dasarnya banyak hal yang menyebabkan kecelakaan kapal ini terjadi. Tidak hanya cuaca ekstrim yang menyebabkan timbulnya gelombang besar, tetapi juga kondisi kapal yang ternyata cukup memprihatinkan. Menurut Bonar dalam tulisannya di tahun 2011 menyampaikan bahwa kapal yang digunakan merupakan sebuah kapal motor bertuliskan “Barokah”. KM barokah tersebut berukuran panjang 4-5 meter dan lebar 4-5 meter. Disebutkan oleh Masyhari (2011) bahwa kondisi kapal memang sudah tidak layak pakai. Hal ini disebabkan karena kapal yang berbahan fiber tersebut hanya untuk sekali pakai. Selain itu, kapal berjenis ini memang dibuat dari bahan yang rentan rusak, sehingga setelah dipakai untuk mengantar jarak jauh akan ditenggelamkan. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa para penumpang/penyedia kapal membeli kapal yang sudah dalam kondisi rusak. Selain kondisi alam dan kapal yang kurang bersahabat, penyebab paling utama timbulnya peristiwa tersebut adalah overload. Kapal yang seharusnya hanya berkapasitas 100 orang, digunakan untuk mengangkut 215 orang. Hal ini tentu juga menstimulus timbulnya kemungkinan kecelakaan, terutama akibat muatan yang terlalu berat sehingga kapal menjadi tidak seimbang.

Kronologi Kejadian

Peristiwa bermula ketika rombongan imigran gelap dari timur tengah yang berangkat berlayar melalui laut selatan jawa. Diangkut oleh kapal motor “Barokah”, rombongan imigran yang telah terlebih dahulu menempuh perjalanan darat dari Jakarta, akhirnya menempuh jalur laut untuk menuju Australia dari pantai Popoh, Tulungagung, Jawa Timur. kapal motor yang berbahan fiber itu dinaiki oleh 215 orang termasuk Anak Buah Kapal (ABK), padahal seharusnya kapasitas kapal hanya 100 orang. Setelah menempuh perjalanan ke timur, tepatnya 20 mil di selatan Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, kapal mendadak oleng akibat dihantam gelombang besar yang timbul karena cuaca buruk. Sebenarnya sudah ada instruksi dari ABK untuk memiringkan posisi kapal ke kiri (arah yang berlawanan dengan gelombang), namun karena kekuatan gelombang yang sangat besar, ditambah dengan jumlah penumpang yang terlalu banyak dan dalam kondisi panik, akhirnya kapal pun oleng, terbalik, dan akhirnya pecah akibat kelebihan muatan dan hempasan gelombang besar sebelum akhirnya tenggelam. Para penumpang pun berhamburan di permukaan laut, termasuk ABK yang sempat mengenakan pelampung di badannya. Urut-urutan kejadian tersebut secara lebih jelas ditunjukkan oleh gambar berikut ;

Diagram alur terjadinya peristiwa tenggelamnya kapal imigran

            Dilihat dari penyebab dan urutan kejadian tersebut, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa peristiwa ini murni merupakan kecelakaan yang merupakan hasil keteledoran manusia sendiri. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa kapal yang seharusnya hanya muat untuk 100 orang dipaksakan untuk mengangkut lebih dari 200 orang. Parahnya, kapal yang digunakan dalam kondisi sudah tidak layak digunakan. Kedua hal tersebut menjadi kesalahan utama yang menjadi penyebab terbesar terjadinya kecelakaan disamping faktor alam yang memang kurang bersahabat. Kelebihan muatan tersebut yang akhirnya menimbulkan efek domino. Beban yang berlebihan menyebabkan kapal semakin tenggelam, sehingga jarak antara tepi kapal menjadi lebih dekat dengan permukaan air laut. Hal ini membuat posisi kapal yang akhirnya kurang stabil dalam menahan tekanan dari luar, seperti gelombang tersebut. Padahal  seperti diketahui bahwa gelombak di laut selatan jawa cenderung sangat besar. Dengan kondisi tersebut diperparah dengan cuaca yang memburuk, membuat tekanan gelombang menjadi lebih besar karena angin berhembus lebih kencang. Menurut beberapa pihak, arah arus mengarah ke timur, sementara angin berhembus kencang ke utara yang memicu timbulnya ombak besar dari arah selatan yang tepat mengena bagian pinggir kapal. Tekanan penumpang dari dalam akibat panik ditambah tekanan gelombang laut dari luar semakin menambah ketidakstabilan kapal, sehingga memicu kapal untuk terbalik dan akhirnya pecah.

            Pengangkutan penumpang imigran tersebut memang dilakukan secara ilegal dan tidak terencana dengan baik. Selain penyediaan kapal yang kurang memadai, para ABK dan pihak yang memberangkatkan juga kurang bisa membaca cuaca yang kemungkinan terjadi. Secara teknis, ketidaksiapan teknis memang dinilai wajar. Namun, hal yang menjadi ketidakwajaran adalah jumlah penumpang yang terlalu dipaksakan. Salah satu pertimbangan yang diambil adalah masalah biaya. Menurut keterangan Bonar (2011), untuk sekali penyeberangan umumnya dipatok biaya sebesar US$10.000. dengan demikian, jika dikonversi ke dalam rupiah dan dibagi merata ke seluruh jumlah penumpang maka satu penumpang hanya akan membayar kurang lebih sebesar Rp 400.000. oleh karena itu, semakin banyak jumlah penumpangnya maka ongkos per individu akan semakin murah. Secara umum, persiapan dalam hal teknis inilah yang kurang diperhatikan oleh pihak yang memberangkatkan.

Analisis Kejadian

Pengangkutan imigran gelap memang sudah sangat sering terjadi, namun kecelakaan yang menewaskan banyak korban baru sekali ini terjadi. Hal ini perlu mendapat perhatian, selain terkait penyelundupan imigran yang dilakukan, juga perlu diperhatikan terkait persiapan teknis yang perlu diperhatikan dalam proses penyeberangan/perjalanan laut secara umum. Perlu ada standar yang diterapkan guna menjamin keselamatan dan antisipasi jika terjadi bencana di tengah laut, sehingga probabilitas kecelakaan kapal, terutama kapal-kapal motor pribadi, dapat dikurangi.

Jika diamati lebih lanjut, terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan dalam prosesi penyeberangan dari pantai Jawa Timur tersebut. Setidaknya terdapat 6 kesalahan yang dilakukan, antara lain ;

  1. Kelebihan Muatan

Overload menjadi kesalahan terbesar yang juga merupakan faktor utama timbulnya kecelakaan. Kapasitas maksimum kapal yang digunakan adalah 100 orang, sementara penumpang yang diangkut melebihi angka 200 orang. Artinya, penumpang yang diangkut melebihi 2 kali lipat dari kapasitas angkutnya. Hal ini tentu menjadi kesalahan yang fatal mengingat desain kapal tidak mampu menyesuaikan dengan jumlah penumpang, sehingga stabilitas kapal pun berkurang saat digunakan. Selain itu, jumlah penumpang yang terlalu padat di dalam kapal juga akan menimbulkan suasana yang tidak nyaman. Hal ini akan membuat kurangnya konsentrasi penumpang dan cenderung menimbulkan emosi dan menambah tingkat stres dari para penumpang. Oleh karena itu, sedikit gangguan atau bahaya akan dengan cepat membuat para penumpang menjadi panik. Hal inilah yang akhirnya memicu semakin tidak stabilnya kapal karena saat ada dorongan gelombang dari luar kapal, maka penumpang yang panik pun juga akan saling mendorong untuk menyelamatkan diri. Hal ini menimbulkan goncangan yang terjadi pada kapal menjadi lebih besar. Panik ini juga yang membuat instruksi dari ABK tidak dihiraukan. Dorongan dari dalam dan luar kapal yang semakin besar inilah yang akhirnya membuat kapal pecah dan tenggelam.

2.  Kondisi Kapal tidak layak pakai

Menurut keterangan nelayan setempat, kapal sejenis KM Barokah memang hanya digunakan untuk sekali pakai, setelah itu akan ditenggelamkan. Kesalahannya, KM tersebut digunakan lagi setelah dipakai sebelumnya. Parahnya, pemakaian kembali kapal tersebut justru digunakan untuk mengangkut jumlah yang lebih besar dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Hal inilah yang membuat kekuatan dan ketahanan kapal berkurang saat diterpa gelombang laut. Meskipun pada dasarnya kapal jenis ini didesain memiliki ketahanan terhadap gelombang, namun kondisi kapal dan jumlah penumpang yang diangkut membuat kapal tersebut rentan rusak saat diterpa gelombang yang mungkin tidak terlalu besar sekalipun. Perlengkapan kapal yang kurang memadai juga menjadi penyebab timbulnya banyak korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Seperti diketahui bahwa kapal-kapal motor pribadi pada umumnya tidak dilengkapi perlengkapan yang cukup dan memadai, seperti pelampung atau sekoci dalam mengantisipasi tenggelamnya kapal. Apalagi perjalanan dari Jawa ke Australia relatif jauh, sehingga memerlukan perlengkapan yang cukup.

3.  Kurangnya pengetahuan terhadap antisipasi bahaya

Minimnya pengetahuan penumpang atau ABK dalam mengantisipasi bahaya juga menjadi kesalahan yang cukup krusial, terutama mengakibatkan timbulnya banyak korban. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap bahaya dan antisipasinya, akan sedikit mengurangi kemungkinan timbulnya banyak korban yang meninggal. Pengetahuan yang harus dimiliki misalnya dalam menghadapi situasi panik akibat goncangan kapal, langkah penyelamatan di laut dan tanda emergensi yang mungkin bisa dilakukan. Dalam hal ini, yang fatal adalah para ABK yang seakan tidak bertanggungjawab dalam menyelamatkan penumpang, padahal menurut keterangan beberapa korban yang selamat, para ABK menggunakan alat keselamatan yang lebih baik berupa jaket pelampung. Hal ini menjadi perhatian terutama terkait kualifikasi yang harus dipenuhi seseorang dalam mengendalikan kapal.

4.  Kurangnya perencanaan

Dalam kaitannya dengan peristiwa ini, terlihat bahwa para penyedia kapal ataupun penanggung jawab pemberangkatan kurang memiliki perencanaan yang baik dalam prosesi pelayaran. Mulai dari tidak adanya pengecekan terhadap kondisi kapal, pengangkutan penumpang yang berlebihan, hingga pengetahuan terhadap kemungkinan cuaca. Minimal ketiga elemen tersebut sebenarnya harus disinkronkan dan menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan pemberangkatan. Jumlah penumpang yang diangkut harus disesuaikan dengan kapasitas dan ketahanan kapal. Kelebihan jumlah penumpang akan menyebabkan timbulnya suasana tidak nyaman dan mengurangi ketahanan kapal terhadap gelombang. Jadi jumlah penumpang yang akan diangkut harus benar-benar disesuaikan dengan keadaan fisik kapal. Selain itu, faktor eksternal, yang dalam hal ini merupakan faktor cuaca, juga harus diperhatikan karena faktor eksternal secara langsung maupun tidak akan berkontribusi dalam terjadinya kecelakaan.

5.  Lemahnya komunikasi

Lemahnya komunikasi juga bisa menjadi penyebab kecelakaan dan timbulnya banyak korban. Komunikasi dalam hal ini meliputi komunikasi antara penumpang dengan ABK, ABK dengan penyedia kapal, atau antar penumpang. Komunikasi antara penumpang dengan ABK sangat perlu mengingat selama perjalanan, ABK lah yang bertanggung jawab dalam memberikan arahan, informasi, atau instruksi bagi para penumpang, sehingga komunikasi antara keduanya menjadi sangat krusial. Komunikasi antara ABK dengan penyedia kapal juga cukup penting, terutama terkait kondisi kapal, bahan bakar, dan sistem kontrol kapal. Sementara itu, komunikasi antar penumpang juga penting guna menghindari konflik di dalam kapal dan mengurangi tingkat stres. Jika ditinjau ulang, kemungkinan penyebab lemahnya komunikasi adalah masalah bahasa. Seperti diketahui bahwa para penumpang umumnya merupakan imigran dari timur tengah yang berasal dari negara yang berbeda-beda, sedangkan para ABK semuanya berasal dari Indonesia. Hal inilah yang kemungkinan menimbulkan kesalahan persepsi antara penumpang dan ABK atau dihiraukannya instruksi ABK akibat ketidakpahaman bahasa.

6.  Mengangkut imigran gelap

Terlepas dari penyebab-penyebab kecelakaan yang terjadi, kesalahan fatal yang terjadi adalah kesalahan hukum yang muncul karena terjadi pengangkutan penumpang secara ilegal. Hal ini secara tidak langsung sebenarnya juga menjadi penyebab kecelakaan dimana tidak terjadi komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah setempat, sehingga pihak pemerintah pun tidak dapat memberikan jaminan yang lebih terhadap kapal tersebut. Dampaknya, pemerintah tidak akan tahu dan tidak memberikan asuransi saat kecelakaan tersebut terjadi.

Dari beberapa kesalahan tersebut seharusnya dapat dilakukan langkah antisipasi dan persiapan yang lebih agar tidak terjadi kesalahan yang sama untuk proses pelayaran yang lain di Indonesia. Hal ini juga sepatutnya menjadi perhatian lebih dari pemerintah dalam melakukan pengawasan, baik terhadap kualitas kapal beserta personelnya, serta pengawasan terhadap praktek-praktek ilegal.

Referensi

Faizal, Achmad., Kistyarini. 2012. 55 jenazah Imigran Gelap Dimakamkan Massal. Dalam http://regional.kompas.com/read/2012/03/23/14120350/55.Jenazah.Imigran.Gelap.Dimakamkan.Massal, diakses pada 3 Juni 2012

Hari, Bambang. 2011. Basarnas Perpanjang Pencarian Korban Tenggelam Trenggalek. Dalam http://www.kbr68h.com/berita/nasional/17063-basarnas-perpanjang-pencarian-korban-tenggelam-trenggalek, diakses pada 4 Juni 2012

Masyhari, Nanang. 2011. Detik-Detik Tenggelamnya Kapal Imigran. Dalam http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2011-12-19/121212/_Detik-detik_Tenggelamnya_Kapal_Imigran, diakses pada 3 Juni 2012

Masyhari, Nanang. 2011. Menguak Dibalik Tenggelamnya Kapal Imigran di Perairan Trenggalek. Dalam http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2011-12-  19/121239/Menguak_Dibalik_Tenggelamnya_Kapal_Imigran_di_Perairan_ Trenggalek, diakses pada 3 Juni 2012

Rachman, Yudi. 2011. SAR : Area Pencarian Korban Tenggelam Trenggalek Diperluas. Dalam http://www.kbr68h.com/berita/nasional/17060-sar-area-pencarian-korban-tenggelam-trenggalek-diperluas, diakses pada 4 Juni 2012

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Human Error pada Peristiwa Tenggelamnya Kapal Imigran di Perairan Selatan Jawa Timur

  1. 2509100010_Retno Widyaningrum says:

    Artikel yang ditulis telah menggambarkan secara jelas mengenai penyebab dari tenggelamnya kapal fiber yang mengangkut imigran gelap. Banyaknya kejadian tenggelamnya kapal-kapal fiber kecil maupun beser seperti pada artikel di atas memang kurang dipahami secara jelas oleh para pemilik kapal maupun penumpang kapal. Sehingga kejadian kelebihan muatan dalam beberapa kondisi sering terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai beban atau muatan kapal, interaksi gelombang laut dan kapal, serta kondisi kelayakan kapal. Sehingga artikel ini sangat bermanfaat untuk membantu memberikan informasi mengenai human error yang mungkin dilakukan oleh nelayan ataupun penyedia jasa penyebrangan kapal sehingga kecelakaan kapal akibat human error dapat diminimalisir.
    Educated articel…🙂

  2. Rahadiani Arumsari -2509100017-kelas Human Reliability says:

    Artikel mengenai human reliability ini sangat baik dalam penulisannya, karena diberikan gambaran kejadian awal, yang disusul oleh kronologi kejadian terjadinya kecelakaan beserta diagram alurnya dan juga analisis penyebab kejadian. Adanya artikel ini mengingatkan kepada pembaca website ini bahwa kesadaran dan konsentrasi manusia dalam beraktivitas kerja sangat penting dan tidak bisa diabaikan untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja. Seperti yang terjadi pada kecelakaan tenggelamnya kapal imigran ini yang disebabkan oleh beberapa hal, pertama murni human error yang dilakukan manusia, cuaca yang ekstrem dan karena kurangnya perencanaan persiapan . Human error yang pertama yaitu tetap memaksakan muatan penumpang yang diangkut oleh kapal, yang kedua yaitu penggunaan kapal yang memang sudah tidak layak dipakai dan yang terakhir yaitu mengangkut imigran gelap, human error ini berdasarkan type reason termasuk dalam type violations yaitu manusia mengetahui bahwa hal yang dilakukan salah, tetapi tetap melanggar sehingga jika terjadi kecelakaan tidak dapat dihindari lagi. Sedangkan faktor yang ketiga yaitu cuaca termasuk human error type 4c2 yaitu disebabkan oleh lingkungan atau cuaca yang mengalami masalah. Kurangnya perencanaan pada kapal sebelum memulai perjalanan juga menjadi faktor terjadinya kecelakaan ini, seharusnya pihak kapal melihat kondisi kapal sebelum digunakan dan kemungkinan cuaca yang terjadi saat kapal memulai perjalanan, klasifikasi human error ini termasuk type 2B karena kurangnya persiapan sehingga terjadi kecelakaan.
    Artikel ini secara keseluruhan menjelaskan pentingnya human reliability dalam melakukan aktivitas kerja bahwa hal-hal kecil yang mungkin diabaikan oleh pekerja (dalam hal ini adalah awak kapal) dapat mengakibatkan kecelakaan yang menewaskan banyak nyawa yang seharusnya tidak bersalah yang diakibatkan oleh kelalaian beberapa orang. Dengan mengikuti prosedur yang berlaku seperti pengecekan kondisi kapal sebelum berpergian, pengetahuan awak kapal terhadap cuaca, pengetahuan terhadap antisipasi bahaya dengan adanya alat keselamatan yang disediakan untuk penumpang dan kesadaran awak kapal yang tidak hanya mencari untung dengan memasukkan banyak penumpang pada kapal maka kecelakaan laut yang terjadi di Indonesia pasti akan mengalami penurunan sehingga artikel ini memberikan informasi dan pelajaran yang sangat baik bagi nelayan maupun jasa transportasi laut untuk meminimalisir faktor-faktor yang dapat menyebebkan kecelakaan sehingga menewaskan banyak orang dan menyebabkan kerugian yang besar. Terima Kasih.

  3. Hendro Prasetya Wibowo says:

    Artikel mengenai Human Error pada Peristiwa Tenggelamnya Kapal Imigran di Perairan Selatan Jawa Timur menjelaskan kronologis kejadian dan faktor-faktor penyebab kejadian. Terdapat rangkuman peristiwa diawal artikel yang bersambung pada kronologi kejadian yang dilengkapi dengan diagram alur peristiwa. Disimpulkan bahwa penyebab dari kecelakaan tersebut adalah hasil keteledoran manusia sendiri. Muatan kapal yang melebihi kapasitas dan kondisi kapal yang sudah tidak layak digunakan merupakan dua kesalahan utama yang menjadi penyebab terbesar ditambahkan dengan faktor-faktor lain. Kemudian pada bagian terakhir artikel terdapat analisis kejadian yang menjabarkan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan yaitu kelebihan muatan, kondisi kapal tidak layak pakai, kurangnya pengetahuan terhadap antisipasi bahaya, kurang perencanaan, lemahnya komunikasi, dan pengangkutan imigran gelap. Terdapat kekurangan pada bagian visualisasi gambar dari kejadian namun secara keseluruhan isi dari artikel dapat menjelaskan kronologis kejadian dan faktor-faktor penyebab kecelakaan secara lengkap.Semoga artikel ini dapat mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s