Studi Human Error dalam Kecelakaan Lalu Lintas

Ditulis oleh : Yangestha Swary Siliwangi [2508100127], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

(sumber : konsultasisyariah.com)

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki jumlah kendaraan sangat padat. Dirjen Perhubungan Darat Soerojo Ali Moeso dalam Antara News (14/2/2012) mengatakan bahwa pertumbuhan kendaraan roda empat di Indonesia sangat pesat yaitu mencapai 7% per tahunnya, dibandingkan pertumbuhan jalan itu sendiri yang hanya 1% tiap tahunnya. Hal inilah yang memicu meningkatnya risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas, dimana dikatakan dalam Antara News bahwa tiap tahunnya di Indonesia mencapai 30.000 kasus kecelakaan lalu lintas. Pada pertengahan Februari Markas Besar Kepolisian RI (2012) mencatat terdapat sebanyak 1.547 korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2012.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dalam Viva News (19/3/2012) mencatat sebagian besar kecelakaan yang memakan korban jiwa di awal tahun 2012 diakibatkan oleh kelalaian pengemudi. Pernyataan ini dibuktikan dengan adanya data kecelakaan lalu lintas dalam Viva News (19/3/2012) bahwa pada dua bulan pertama di tahun 2012 terdapat sebanyak 634 dari 654 kecelakaan karena faktor pengemudi, dan sebanyak 261 kejadian disebabkan karena pengemudi lengah. Salah satu contoh kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh faktor pengemudi adalah kasus kecelakaan yang terjadi di Tugu Tani yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia. Kecelakaan tersebut terjadi dinyatakan dalam Viva News (19/3/2012) adalah dikarenakan pengemudi berada di bawah pengaruh alkohol dan narkoba pada saat mengendarai mobil. Faktor ketidaktertiban pengemudi tersebut merupakan salah satu contoh faktor human error.

 Apakah Human Error itu?

            Peters dalam Widyati (2007) mendefinisikan human error sebagai suatu penyimpangan dari suatu performansi standard yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan. Human error merupakan suatu bentuk kesalahan atau kegagalan yang terjadi ketika seseorang sedang berada dalam proses pencapaian suatu tujuan. Dalam kasus kecelakaan lalu lintas, dikatakan oleh Yakub dalam Viva News (19/3/2012) bahwa kondisi pengemudi selain hilangnya konsentrasi yang menyebabkan kecelakaan adalah keadaan mengantuk, mabuk, lelah, tidak terampil, tidak tertib, atau menggunakan selular saat berkendara. Kondisi-kondisi tersebut merupakan contoh human error.

Apa sajakah penyebab Human Error?

            Human error dapat terjadi dikarenakan berbagai faktor. Penyebab terjadinya human error tidak selalu seutuhnya berasal dari diri manusia itu sendiri. Human error bisa saja terjadi karena dipengaruhi oleh situasi atau kondisi yang terjadi di sekitarnya. Menurut Widyati (2007) ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya human error. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Desain sistem yang tidak memadai
  2. Situasi kerja yang buruk
  3. Tingginya kompleksitas pekerjaan
  4. Karakteristik perilaku manusia
  5. Kelelahan fisik dan mental
  6. Lingkungan fisik kerja
  7. Kebijakan organisasi perusahaan.

Seperti apa contoh kondisi nyata yang menggambarkan faktor-faktor penyebab human error tersebut?

            Hitapriya Suprayitno Pakar Transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dalam Suara Pasuruan (2012) menyebutkan bahwa sekitar 70% dari semua kasus kecelakaan, lebih dikarenakan faktor human error. Faktor-faktor penyebab human error itu sendiri dapat disebabkan berbagai macam kondisi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Contoh-contoh kondisi nyata yang menggambarkan beberapa dari faktor-faktor penyebab human error tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Desain sistem yang tidak memadai

Dalam kasus kecelakaan yang melibatkan Saiful Jamil, mobil Avanza yang dikendarai tidak dibekali perangkat keselamatan yang memadai. Padahal, dewasa ini telah banyak dimunculkan fitur-fitur keselamatan seperti ABS (Antilock Brake System), EBD (Electronic Brake Distribution), dan Brake Assist, dan kebanyakan manusia mengabaikannya dengan alasan ‘harga’. Tidak adanya fitur tersebut pada mobil adalah untuk menekan harga jual. Kurangnya pengetahuan pengemudi mengenai fitur-fitur keselamatan tersebut bisa jadi merupakan salah satu contoh human error yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

2.  Situasi kerja yang buruk

Dalam kasus kecelakaan mobil, situasi kerja yang buruk dapat digambarkan seperti kondisi jalanan terutama di kota yang padat akan kendaraan sehingga menyebabkan kemacetan. Kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di tengah kota yang sedang padat lalu lintas. Tidak sedikit pengendara sepeda motor yang oleng atau kehilangan keseimbangan saat berkendara di tengah kemacetan lalu lintas. Seperti yang terjadi di Jalan A. Yani Surabaya, dekat dengan jalur kereta api, juga merupakan daerah yang rawan terjadi kecelakaan. Didukung dengan kondisi jalan yang selalu ramai akan kendaraan, dan juga intensitas lewatnya kereta api di dekat jalan tersebut.

3.  Tingginya kompleksitas pekerjaan

Beberapa pengendara baik mobil maupun motor, terutama bagi yang baru belajar berkendara, bisa jadi merasa sedikit kesulitan saat berkendara. Pengendara mobil terkadang harus menyeimbangkan kopling dan gas pada saat terjebak di jalanan menanjak yang sedang macet. Jika terjadi kehilangan konsentrasi, pengendara dapat melakukan kesalahan dan kehilangan keseimbangan yang menyebabkan mobil mendadak maju menabrak kendaraan di depan atau malah mundur menabrak kendaraan di belakangnya.

4.  Karakteristik perilaku manusia

Sifat dan karakteristik manusia juga merupakan salah satu penyebab terjadinya human error. Pengendara yang tidak sabar cenderung melajukan kendaraannya lebih cepat dibandingkan pengendara yang lainnya. Apabila kelalaian terjadi pada saat pengendara sedang melajukan kendaraannya dalam kecepatan tinggi, hal ini dapat memperbesar risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas.

5.  Kelelahan fisik dan mental

Pengendara yang memiliki kondisi kesehatan tidak prima dapat dengan mudah melakukan kesalahan selama berkendara. Salah satu kondisi kesehatan yang buruk adalah mabuk. Dalam kasus kecelakaan maut di Tugu Tani yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia, adalah murni dikarenakan kondisi pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol dan narkoba. Kondisi seperti ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keandalan pengemudi dalam berkendara, dan menyebabkan pengemudi mudah melakukan kesalahan.

6.  Lingkungan fisik kerja

Mengatur posisi duduk dalam berkendara mobil termasuk salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Jika pengemudi terlalu rapat, terkadang akan kesusahan memindahkan kaki dari pedal gas ke pedal rem karena ruang gerak yang terbatas. Cuaca juga merupakan salah satu faktor lingkungan fisik kerja. Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang mempunyai suhu terik di siang hari. Hal ini dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya human error pada manusia yang sedang berkendara. Pengemudi bisa saja merasa silau karena teriknya matahari atau mungkin merasa pusing dan gerah dikarenakan suhunya yang panas. Pengemudi bisa saja menjadi tidak sabar dan tidak fokus dalam berkendara, sehingga memungkinkan pengemudi melakukan keselahan saat berkendara.

Referensi

Afriyanti, Desi. Ruqoyah, Siti. 2012. Pengemudi Lalai Dominasi Kecelakaan Awal 2012. http://metro.vivanews.com/news/read/297382-pengemudi-lalai-dominasi-kecelakaan-awal-2012

Anonim. 2012. Jumlah Korban Kecelakaan Lalu Lintas 1.547 Orang Tewas. Jakarta: http://www.pikiran-rakyat.com/node/176824

Maruli, Aditia. 2012. Kecelakaan Lalu Lintas Tiap Tahun Capai 30.000 Kasus. Solo: http://www.antaranews.com/berita/312709/kecelakaan-lalu-lintas-tiap-tahun-capai-30000-kasus

Ulfa, Ekamaria. 2012. Faktor Utama Penyebab Kecelakaan, Human Error Pengendara Motor. Pasuruan: http://www.suarapasuruan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1390:faktor-utama-penyebab-kecelakaan-human-error-pengendara-motor-&catid=27:lalulintas&Itemid=57

Widyati, F.Y., Syafei, M.Y., Pribadi, E. W. 2007. Analisis Human Error dan Human Reliability pada Pemasangan Resistor di Climatic Chamber dengan Metode THERP. Prosiding Seminar Nasional Ergonomi “Integrasi Ergonomi di Dalam Product Development”. Bandung, 26-28 Juli 2007.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Studi Human Error dalam Kecelakaan Lalu Lintas

  1. Nicola Riess (2509100095) says:

    Artikel ini tergolong cukup baik, melihat beberapa case yang ditampilkan cukup update dan variatif. Memang diperlukan suatu tindakan preventif terhadap probabilitas terjadinya human error pada saat berkendara, terlebih lagi dalam jarak jauh ataupun dalam kondisi jalan yang macet dan kurang kondusif . Kondisi pengendara harus dalam kondisi yang benar-benar fit dan tidak sedang dalam pengaruh obat-obatan atau minuman yang memabukkan. Artikel ini cukup informatif mengenai sebab-sebab terjadinya human error, namun akan jauh dapat lebih bermanfaat apabila disertai dengan tips-tips bagaimana melakukan preparasi sebelum berkendara dan hal-hal yang perlu dicek atau dihindari untuk mencegah terjadinya human error.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s