Selayang pandang human factor dalam penerbangan dan kecelakaan GA 152 1997

Ditulis oleh : Nur Annisa Istiqomah [2507100133], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Kecelakaan GA 152

Pesawat merupakan salah satu moda transportasi yang banyak diminati oleh masyarakat akhir-akhir ini. Berdasarkan data yang dihimpun oleh badan pusat statistik jumlah penumpang pesawat pada tahun 2009 mencapai 43,62 juta orang. Tahun 2010, jumlah penumpang pesawat mencapai 53,4 dan angka ini terus ,mengalami peningkatan hingga menyentuh 62,3 juta pada tahun 2011.

Namun dengan adanya fenomena tersebut, pihak penerbangan juga harus selalu meningkatkan pelayanan yang tepat terhadap keselamatan penumpang. Salah satunya adalah menjaga keselamatan penumpang dengan meminimalisir kecelakaan terbang. Hal ini sangatlah penting karena kecelakaan pesawat terbang akan berdampak kepada banyak kerugian. Berikut ini merupakan jumlah kecelakaan dan prosentase penyebab kecelakaan pesawat terbang diindonesia. 

Tabel 1. Jumlah peningkatan kecelakaan penumpang pesawat terbang

(sumber : KNKT, 2011)

tahun

2007

2008

2009

2010

2011

jumlah kecelakaan

21

21

21

18

32

rate kecelakaan

4,12

4,4

2,79

2,68

4,22

Berdasarkan data diatas, hingga tahun 2011 jumlah kecelakaan mengalami peningkatan dan penyebab kecelakaan terbang yang tertinggi disebabkan oleh human factor dengan prosentase sebesar 52%. Meskipun demikian, umumnya penyebab kecelakaan pesawat tidak dapat berdiri sendiri.

Human factor dalam hal ini merupakan faktor yang disebabkan oleh manusia. dalam hal ini faktor kelelahan menjadi faktor yang dominan. Kelelahan yang dialami oleh manusia menyebabkan human error. Sehingga, ketika seseorang mengalami kelelahan, maka akan mengalami penurunan konsentrasi. Dan penurunan konsentrasi bisa berakibat pada penurunan sistem kerja yang dikendalikan manusia. Pada sebuah penelitian yang dilakukan Cassie, yang berjudul “Aviation Psychology: Studies on Accident Liability, Proficiency Criteria and Personnel Selection”, menunjukkan hubungan antara kecelakaan  kecelakaan pesawat dengan situasi kelelahan seperti jam kerja yang panjang dan istirahat yang kurang memadai. Kelelahan ini dapat menyebabkan menyempitnya rentang perhatian, hal ini menyebabkan penerbang cenderung untuk memusatkan pandangan pada hal-hal yang membuat dia khawatir dibanding dengan aspek yang sebetulnya lebih penting. Dalam hal ini, pilot bisa jadi bukanlah satu-satunya penyebab kecelakaan. Banyak pihak yang berperan didalam sistem penerbangan antara lain perancang pesawat, Teknisi pesawat (maintenance), dan operator

Misalkan operator ATC. Operator ATC didalam menjalankan tugasnya memerlukan konsentrasi yang sangat tinggi. Karena operator ATC, bertugas mengawasi lalu lintas udara. Apabila terjadi kesalahan dalam membaca diagram atau menyampaikan informasi, maka kemungkinan terjadinya human error yang menyebabkan peluang kecelakaan pesawat akanATC serta perubahan lingkungan yang sangat cepat sehingga manusia tidak dapat menghindar dari suatu bahaya.

menjadi sangat besar. Seperti yang terjadi pada saat kecelakaan pesawat GI tahun 1997 di medan. Pada saat itu, pesawat hendak melakukan Landing. Namun, kondisi cuaca sedang diselimuti awan tebal yang menyebabkan jangkauan pandang pilot sangat terbatas dan cuma mengandalkan tuntunan dari menara kontrol Polonia. Namun kesalahmengertian komunikasi antara menara kontrol dengan pilot menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung. Pesawat tersebut meledak dan terbakar, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya (parwito,2012). Dalam hal ini merupakan contoh penyebab error yang dinamakan dengan knowledge based error.

Penyebab knowledege based error bisa muncul karena tidak adanya pengetahuan mengenai persyaratan, ekspektasi maupun kebutuhan Kesalahan ini dapat muncul ketika seseorang tidak menerima informasi, baik informasi itu tidak disampaikan ataupun terdapat distorsi dalam penyaluran informasi. Intinya, informasi yang tidak sempurna kata seorang trainer human error yang bernama Marguglio (putri,2009). Kejadian di Medan tersebut memperlihatkan bahwa betapa faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap keselamatan serta kesepahaman antara pilot dan operator ATC.

Kesepahaman Informasi antara pilot dengan ATC menjadi hal yang sangat penting, untuk menjaga keselamatan seluruh awak penumpang. Informasi mengenai kondisi eksternal lingkungan perlu dipahami betul oleh pilot dan atc. Sehingga untuk mendukung kelancaran informasi diperlukan sebuah prosedur dan manajemen yangbaik termasuk kondisi psikologis dan kesehatan seorang pilot serta operator ATC. Disni juga diperlukan pemahaman tentang psikologi penerbangan untuk setiap elemen yang berkepentingan didalam dunia penerbangan.

Selain itu pengaturan jadwal penerbangan yang optimal sesuai dengan keandalan manusia juga harus selalu diperhatikan. Hal ini dilakukan agar meminimalisir peluang terjadinya kecelakaan pesawat terbang akibat kelelahan operator yang menyebabkan menurunnya tingkat konsentrasi. seluruh sistem penerbangan yang sudah ada perlu juga dilakukan improvement yang berkelanjutan secara menyeluruh dan terintegrasi. Mengingat dari tahun ke tahun jumlah peminat moda transportasi udara selalu mengalami peningkatan sudah seharusnya diimbangi dengan peningkatan improvement system.

Referensi

A. Cassie.1964. Aviation Psychology: Studies on Accident Liability, Proficiency Criteria and Personnel Selection. USA

Anonim. GA 152 disaster. Diakses tanggal 30 Mei 2012.< www.airdisaster.com>

KNKT. Analisis data kecelakaan transportasi udara. 2011. Diakses  pada  tanggal  27 mei 2012. <www.dephub.go.id/knkt/…/Media%20Release%20Udara%202010%2>

Krisnawati. Pesawat terbang transpotasi paling aman.2011 Diakses tangga; 26 mei 2012. <http://lenakei.multiply.com/journal/item/543/Pesawat_Terbang_Transportasi_Paling_Aman_Benarkah?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem>

Le e, Car r i e  A. 2003. Human Error in Aviation. USA

Parwito.5 kecelakaan pesawat terparah diindonesia.2012. diakses: 1 juni 2012. <http://pebriprawitosk.blogspot.com/2012/05/5-kecelakaan-pesawat-terparah-di.html >

Reporter Merdeka. Kekuatan ekonomi langit.2012. Diakses pada tanggal 27 mei 2012 <http://www.merdeka.com/uang/kekuatan-ekonomi-langit-indonesia.html>

Bps team. Data peningkatan jumlah penumpang pesawat. Diakses tanggal 26 mei 2012.< www.bps.go.id>

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Selayang pandang human factor dalam penerbangan dan kecelakaan GA 152 1997

  1. 2509100106_Nyka Fahma Utami says:

    Artikel tersebut menceritakan mengenai kecelakaan pesawat terbang yang disebabkan oleh Human Error, dan saya begitu excited terhadap artikel yang ditulis oleh penulis. Pada artikel tersebut dijelaskan bahwa kecelakaan bisa saja terjadi akibat kurang konsentrasinya operator ATC (Air Traffic Control) dalam menyampaikan info kepada pilot pesawat, seperti halnya kesalahan membaca diagram atur ketinggian pesawat terbang dan jam terbang pesawat. Dimana pihak operator ATC dalam membuat jam terbang pesawat juga harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologis pilot pesawat. Saya ingin menambahakan bahwa tidak hanya human error (seperti kelelahan dan kurangnya konsentrasi) pada operator ATC saja yg dapat menyebabkan kecelakaan, akan tetapi pancaran radius dari gangguan radar akibat cuaca buruk seharusnya juga perlu diperhatikan. Terima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s