Potensi Human Error pada Wasit, Sepakbola Butuh Sentuhan Teknologi

Ditulis oleh : Ilham Doni Tamara [2508100113], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

(sumber : cartoonstock.com)

Sepakbola merupakan olahraga yang masih sangat digemari saat ini oleh semua kalangan. Penggemar olahraga ini pun sekarang bukan hanya dari kalangan kaum adam, melainkan mulai digemari juga oleh kaum hawa, hingga muncul pula sepakbola perempuan. Olahraga yang lahir di Inggris ini pun tidak hanya ramai dimainkan, tapi juga banyak topik perbincangan di kalangan masyarakat yang berisikan tentang sepakbola. Tidak bisa kita pungkiri lagi, hampir semua kalangan, gender, umur, dan kesibukan/profesi banyak menggemari olahraga yang satu ini. Lihat saja di warung-warung kopi, laki-laki dengan usia rata-rata remaja dan kesibukan yang cukup beragam sering membicarakan tentang sepakbola, apalagi didukung oleh musim piala dunia, liga inggris, dan kompetisi sepakbola lainnya seperti juga piala Eropa yang sebentar lagi akan dihelat. Di kalangan anak-anak dan remaja pun olahraga ini masih booming. Sekarang ini sudah banyak sekolah-sekolah sepakbola, banyak dibangun lapangan futsal, hingga game sepakbola yang mulai menjamur di kalangan anak-anak ataupun remaja. Sepakbola pun saat ini mulai menjadi ladang bisnis yang menjanjikan mengingat animo masyarakat dunia yang tergolong sangat tinggi. contoh konkrit tampak di kompetisi liga-liga Eropa yang mulai dimasuki investor-investor dunia untuk menambah pundi-pundi emasnya. 

                Dibalik semangat dan hegemoni sepakbola di dunia, saat ini banyak sekali terdapat permasalahan dalam sepakbola. Yang paling terbaru adalah masalah kesehatan pemain dan keputusan kontroversial wasit yang kembali terjadi dan merugikan tim sepakbola. Masalah kesehatan memang masih menjadi PR bagi manajemen tim dalam melakukan recruitment dan latihan terhadap para pemainnya. Meskipun demikian, probabilitas terjadinya masalah tersebut tidak terlalu besar. Di sisi lain, hal yang sangat sering terjadi dari dulu hingga sekarang adalah keputusan kontroversial yang diberikan oleh wasit. Beberapa keputusan tersebut seperti memberikan hadiah penalti dan/atau kartu merah atas pelanggaran ringan, mengesahkan goal pemain yang berada dalam posisi offside, atau bahkan yang baru-baru ini muncul adalah menganulir goal padahal bola sudah melewati garis gawang. Hal seperti ini tentu sangat merugikan bagi kubu yang dirugikan serta mengecewakan suporter.

                Jika diamati lebih lanjut, ternyata pekerjaan paling rumit dalam sebuah sepakbola adalah menjadi seorang pengadil lapangan/wasit. Hal ini dinilai wajar, sebab tegaknya peraturan olahraga di lapangan bergantung kepada wasit yang memimpin pertandingan (Shalimou,2009). Persyaratan menjadi seorang wasit juga tidak mudah. Disebutkan oleh Santoso (2009) bahwa syarat-syarat utama untuk menjadi seorang wasit antara lain : Berbadan sehat menurut keterangan dokter (tidak berkacamata, tidak buta warna, dan berpenglihatan baik), berusia antara 24-40 tahun, berijazah minimum SMA atau yang sederajat, memahami dan melaksanakan janji wasit. Wasit adalah seseorang yang ditunjuk sebagai pengambil keputusan di dalam suatu pertandingan (Ahira, 2012). Dalam menjalankan tugasnya, seorang wasit sepakbola dibantu oleh 2 hakim garis di sebelah kanan dan kiri lapangan. Hakim garis hanya berfungsi untuk membantu wasit, sementara keputusan final tetap berada di tangan wasit. Meskipun posisi seorang wasit terkadang kurang dianggap oleh banyak penikmat sepakbola, namun keputusannya turut mempengaruhi hasil akhir pertandingan. Dari sinilah mengapa Ahira (2012) mengatakan bahwa wasit sebenarnya memegang peranan penting dan cukup rumit, antara lain ;

  1. Sebagai pengatur jalannya pertandingan

Wasit bertugas memberi instruksi atas dimulainya suatu pertandingan serta turut mengawal dan mengatur jalannya pertandingan hingga pertandingan usai.

2.  Sebagai pengambil keputusan

Di dalam sepakbola, banyak hal yang harus diputuskan oleh wasit. Keputusan yang salah bisa merugikan tim yang bertanding. Keputusan wasit inilah yang juga turut menjadi penentu menang kalahnya suatu tim. Suatu contoh saat terjadi pelanggaran, makawasit harus mennetukan seberapa berat pelanggaran tersebut dan hukuman apa yang patut diberikan, antara kartu kuning, kartu merah, atau hanya peringatan biasa, semuanya mutlak ada di tangan wasit.

3.  Sebagai penengah

Saat pertandingan tidak berjalan kondusif dan kerasnya adu fisik atau atmosfer antara kedua tim yang bertanding, maka wasit harus bisa menjadi penengah. Sehingga tidak terjadi konflik yang lebih dalam.

4.  Mencegah terjadinya kecurangan

Terkadang sebuah tim sepak bola akan bermain curang dan melakukan segala cara untuk mendapatkan kemenangan. Disinilah seorang wasit harus bisa melihat secara jeli berbagai aksi kecurangan yang mungkin terjadi. Pada umumnya bentuk kecurangan yang terjadi seperti berpura-pura cidera, pura-pura jatuh di kotak penalti lawan, bermain kasar, mengulur-ulur waktu, dan beberapa kecurangan lainnya. Jika hal-hal tersebut terjadi, maka wasit berkewajiban menindak pemain yang bersangkutan.

Rumit dan pentingnya peranan wasit di lapangan berpotensi menimbulkan human error. Hal ini tidak dapat dielakkan mengingat wasit beserta hakim garis merupakan manusia biasa, sehingga dimungkinkan juga mengalami human error saat bertugas di lapangan. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya error seperti kondisi fisik wasit yang kurang prima, terdapat masalah pribadi yang dialami saat hari-H pertandingan, cuaca dan penerangan stadion yang kurang, atmosfer pertandingan yang sangat tinggi, hingga kecenderungan wasit terhadap salah satu tim. Seorang wasit dituntut untuk selalu jeli dan berkonsentrasi penuh sepanjang pertandingan untuk mengatur jalannya pertandingan. Dalam 90 menit waktu normal pertandingan sepakbola, tentu hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Sehingga tidak jarang menyebabkan konsentrasi wasit menurun di menit-menit akhir sementara tensi dan atmosfer pertandingan justru cenderung memuncak mendekati akhir pertandingan. Yang lebih parah adalah untuk penanganan goal sengketa, dimana terjadi perselisihan pendapat saat bola tidak benar-benar memasuki gawang secara penuh, sehingga menyebabkan perselisihan. Keputusan ini merupakan yang tersulit bagi wasit mengingat posisi wasit dan hakim garis yang tidak terlalu dekat dengan gawang. Dengan demikian, perlu bantuan suatu sistem teknologi untuk dapat melihat secara lebih detail.

                 Saat ini, peranan teknologi yang mulai digunakan dalam permainan sepakbola. Mulai dari teknologi untuk stadium/lapangan sepakbola, teknologi untuk papan skor, hingga teknologi dalam pembuatan perlengkapan  sepakbola, seperti kostum, sepatu, dan bola. Sementara untuk menanggulangi permasalahan wasit, mulai dikembangkan teknologi pengawas pertandingan guna mendapatkan keputusan yang lebih valid terhadap segala sesuatu yang terjadi di Lapangan. Seperti yang diungkapkan oleh Graha (2008) Beberapa teknologi alternatif yang mulai dikembangkan saat ini antara lain :

  1. Bola Bionic

Bola ini merupakan bola buatan adidas yang dilengkapi micro chip yang dapat memantulkan sinyal ke penerima di tangan wasit saat bola tersebut melintasi garis gawang. Bola ini dibuat untuk mengurangi adanya gol sengketa seperti yang terjadi di final Piala Dunia 1966 antara Inggris dan Jerman. Bola ini pertama kali diujicobakan pada piala dunia U-17 tahun 2005. Teknologi ini diujicobakan lagi di piala dunia antar klub pada tahun 2007. Secara umum sistemnya sudah bagus, namun masih perlu penyesuaian terhadap kenyamanan pemain dan kemudahan penggunaan.

2.  Teamgeist II, Bola ber-micro chip

Bola terbaru buatan adidas ini memiliki desain yang unik, terutama dalam motifnya. Bentuk desain motif dari bola ini terdiri atas lengkungan-lengkungan yang berbentuk mendekati angka 8. Bola yang dibuat hasil kerjasama dengan Cairos technologies ini digunakan untuk menentukan detik ke berapa sesuatu gol dibuat, menentukan kapan dan bagaimana bola melewati garis gawang, serta mampu merekam pergerakan bola dan seluruh aktivitas pemain di lapangan karena bola ini dilengkapi dengan sensor elektromagnetik. Dari hasil uji coba, didapatkan hasil yang memuaskan karena hampir 100% hasilnya akurat. Meskipun demikian masih diperlukan beberapa penyesuaian.

3.  Teknologi Garis Gawang – Hawkeye

Teknologi Garis Gawang
(sumber : metrotvnews.com)

Teknologi garis gawang atau populer disebut Teknologi Hawkeye merupakan rancangan teknologi baru yang dibuat khusus untuk mendeteksi masuknya bola ke gawang. Berdasarkan uraian dari Wiharyo (2012) Teknologi ini difungsikan untuk membantu wasit serta hakim garis dalam memutuskan goal/tidaknya bola saat terjadi goal sengketa. Teknologi ini dirancang di sebuah laboratorium teknologi dan ilmu pengetahuan materi di Swiss. Dalam penerapannya hawkeye akan dipasang di stadium di atas tribun penonton. Teknologi ini sendiri belum secara resmi digunakan ataupun diujicobakan. Secara umum, keunggulan penerapan teknologi ini dibanding yang lain adalah karena tidak berpengaruh terhadap permainan secara langsung. Dalam artian bahwa teknologi ini dipasang secara independen, tanpa membuat para pemain merasa tidak nyaman seperti pemakaian bola mikro chip yang terkadang membuat bola membelok, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.

Referensi

Ahira, Anne. 2012. Peranan Wasit dalam Pertandingan Sepakbola. Dalam http://www.anneahira.com/wasit-sepak-bola.htm, diakses pada 31 Mei 2012

Graha, Ivaldy. 2008. Teknologi di Bidang Sepakbola (Microchip Smartball). Dalam http://ivaldy.blog.com/2008/03/03/teknologi-di-bidang-sepakbola-microchip-smartball/, diakses pada 31 Mei 2012

Shalimow, Yunan. 2009. Wasit Sepakbola. Dalam http://www.shalimow.com/sepak-bola/wasit-sepak-bola.html, diakses pada 31 Mei 2012

Santoso, Ahmad. 2009. Perwasitan dalam Sepak Bola. Dalam http://ahmadsantoso88.blogspot.com/ 2009/10/perwasitan-dalam-sepak-bola.html, diakses pada 31 Mei 2012

Wiharyo, Tjatur. 2012. 2 Juni, Teknologi Garis Gawang Dites di Wembley. Dalam http://bola.kompas.com/read/2012/05/25/04210181/2.Juni.Teknologi.Garis.Gawang.Dites.di.Wembley, diakses pada 29 Mei 2012

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Potensi Human Error pada Wasit, Sepakbola Butuh Sentuhan Teknologi

  1. Iman Surya Diangga (2509.100.019) says:

    Pada artikel ini secara umum sudah cukup bagus karena memberikan informasi secara lengkap, dimana terdapat sebuah masalah, dan juga apa yang menyebabkan masalah tersebut bisa terjadi serta upaya penyelesaiaan masalah tersebut, sehingga artikel ini tidak hanya memberikan masalah, namun juga solusinya. Namun menurut saya yang perlu digaris bawahi adalah seharusnya pembahasan utamanya adalah pada faktor penyebab terjadinya human error tersebut, dikarenakan ini merupakan situs atau blog mengenai disiplin ilmu ergonomi. seharusnya kita bisa memahami, mengenai penyebab utama human error pada wasit sehingga kita bisa mengantisipasi sseorang wasit untuk melakukan human error, bukan mengatasi masalah diluarnyad dengan menambah teknologi.

  2. Ken W Hutomo says:

    Aritkelnya bagus sekali😀
    Sudah informatif dalam memaparkan urgensitas wasit dalam pertandingan serta alternatif teknologi yang dapat membantu.

    Teknologi memang dapat membantu wasit dalam pengambilan keputusan. Namun yang paling utama tentu keputusan yang diambil oleh wasit atas pertandingan secara adil dan bijak dengan mempertimbangkan segala faktor yang ada.

    Memang berat tanggung jawab yang dipikul para penegak hukum. Apalagi penegak hukum di lapangan atau wasit. Wasit yang hanya dibantu oleh paling tidak empat orang penjaga garis juga harus berlarian mengelilingi lapangan mengawasi pergerakan dua puluh dua orang pemain yang berlarian ke penjuru lapangan selama permainan berlangsung. Tentu selama berlangsungnya pertandingan, sebagai manusia biasa wasit juga akan mengalami penurunan kerja fisik dan konsentrasi. Belum lagi ketika terjadi konflik di lapangan yang dapat mengganggu konsentrasi wasit. Faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil oleh wasit, sekalipun telah menggunakan teknologi canggih.

    Oleh karena itu perlu dilakukan ‘maintenance’ terhadap diri wasit sebelum turun ke lapangan.
    Sebagai orang yang akan berlari-lari di lapangan bola mengawasi pemain sepanjang pertandingan, maka ketahanan fisik wasit harus sama dengan pemain bola itu sendiri. Oleh karena itu paling tidak wasit harus menjalani latihan fisik dan menjaga gizinya sama dengan pemain lapangan. Sebelum pertandingan dimulaipun, wasit juga harus melakukan pemanasan ringan di awal.
    Selain latihan secara fisik, wasit juga dapat melakukan ‘sterilisasi diri’ seperti yang biasa dilakukan oleh para hakim sebelum melaksanakan pengadilan. Hal ini perlu dilakukan supaya tetap berada pada pihak yang netral selama pertandinga berlangsung. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak membaca apapun serta berbicara dengan siapapun. Ken Widyaningtyas

  3. Dwi setiyoko says:

    Secara umum pembahasan pada artikel diatas sudah cukup baik dan informatif, dimana sebagai pembaca dapat memahami maksud penulis dengan mudah dan cakupan informasi yang dipaparkan dirasa sudah lengkap mulai dari peran wasit dalam pertandingan sepak bola, penyebab seorang wasit melakukan human error, hingga solusi untuk mengurangi terjadinya human error. Selain itu dengan adanya artikel diatas maka dapat memberikan gambaran kepada masyarakat umum dimana human error dapat terjadi dalam kondisi dan situasi apapun tak terkecuali pada bidang olahraga. Oleh sebab itu ilmu human reliability dirasa sangat penting guna meminimalisir dan menghindari terjadinya human error pada kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s