Mengembalikan Kepercayaan terhadap Dunia Medis

Ditulis oleh : Laksmi Ambarwati [2509100120], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability
 

Secara historis, kesalahan manusia (human error) merupakan faktor yang signifikan di hampir setiap permasalahan yang timbul seperti pada kecelakaan lalu lintas, permasalahan kualitas dan produksi, juga dalam dunia medis[1].

Human Error dalam dunia medis, ada?

Dunia medis merupakan salah satu bidang yang berkaitan erat dalam menjaga dan mengembalikan kondisi fisik, jiwa dan sosial seseorang dalam keadaan sejahtera dan sehat sehingga dapat berkegiatan secara kondusif. Tentu saja dalam hal ini, dunia medis sangat berkaitan erat dengan keselamatan seseorang. Di sisi lain, tidak sedikit kesalahan dalam dunia medis justru merupakan penyebab pasien harus menderita kerugian kesahatan lebih fatal yang menyebabkan harus menjalani perawatan lebih lama. Beberapa kasus diantaranya justru kesalahan dalam dunia medis menjadi perengut jiwa dan kesehatan dari seseorang.

Kesalahan dalam bidang kesehatan di bidang kesehatan  didefinisikan sebagai suatu kecelakaan yang disebabkan oleh human error dari manajemen pelaksana kesehatan, bukan dikarenakan kondisi pelaksana kesehatan (misal gangguan jiwa), bukan karena motif apapun, tidak disertai niat kriminal atau penyakit dari pasien yang sedang dirawat[1].  Jumlah peristiwa kesalahan dikarenakan faktor human error dalam dunia kesehatan tidak sedikit. Sebagai contoh dari data statistik, kesalahan medis menyebabkan sekitar 850.000 orang pasien di Inggris setiap tahunnya diperpanjang waktu perawatannya di rumah sakit [2]

Seberapa sering human error dalam bidang kesehatan (medical error) terjadi?

Kesalahan medis juga merupakan penyebab signifikan kematian di Amerika Serikat. The Harvard Medical Practice Study (Brennan et al, 1991) [1] menggunakan data yang diambil secara acak dari  30.121 catatan pasien. Dari data tersebut, diidentifikasi bahwa total 1278 kejadian buruk merupakan kesalahan dari faktor human error. Dari angka ini, diperkirakan bahwa kesalahan medis terjadi pada 3,7% dari  pasien rawat inap. Dari kesalahan medis pada peserta rawat inap, 27,6% adalah karena kelalaian.  Sekitar 70% dari pasien yang mengalami kesalahan medis menderita cacat ringan atau sementara, 7% pasien cacat  permanen pada dan dalam 13,6% kasus hasilnya adalah fatal.

Salah satu contoh kasus yang paling terkenal  terkait dengan kesalahan dunia medis adalah kasus yang salah pasien yang terjadi di Inggris [8]. Joan Morris (nama samaran) adalah seorang wanita 67 tahun dirawat yang di rumah sakit pendidikan untuk angiografi serebral, suatu rangkai proses pemeriksaan otak dengan menggunakan sinar X.  Sehari setelah prosedur itu, ia keliru menjalani bedah jantung (elektrofisiologi jantung invasif).

Pasien berkebangsaan asli Inggris dan lulusan sekolah tinggi yang putrinya adalah seorang dokter. Akibat terhantam di bagian kepala saat terjatuh tidak sengaja, dia terpaksa harus menjalani serangkain proses pemeriksaan otak (angiografi serebral). Setelah proses angiografi, pasien yang seharusnya dipindahkan kembali ke tempat tidur aslinya justru dibawa ke lantai onkologi, untuk bedah kanker. Keesokan paginya, pasien diambil untuk studi elektrofisiologi jantung invasif. Sekitar 1 jam setelah prosedur bedah jantung berlangsung, baru diketahui bahwa Joan Morris adalah pasien yang salah. Studi ini dibatalkan, dan dia kembali ke kamarnya dalam kondisi stabil.

Dalam kasus ini, tentu saja kesalahan terjadi sebagai suatu kesalahan sistem Kesalahan dapat terjadi karena berbagai macam faktor. Kesalahan dapat datang dari dokter sebagai pihak pemberi instruksi yang kurang jelas, atau perawat sebagai petugas yang membawa pasien yang seharusnya dikembalikan ke kamar tidur, namun sedang dalam kondisi yang tidak baik sehingga tidak mendengar instruksi dengan utuh dan jelas, atau perawat dan dokter yang bertugas mengambil pasien yang tidak mengecek terlebih dahulu. Kesalahan pada kasus ini sebenarnya dapat dicegah. Proses pemberian instruksi dapat diverifikasi ulang oleh perawat yang bertugas mengantarkan pasien, misal dengan mengulangi instruksi “Baik dok, saya akan membawanya ke tempat tidur di kamarnya”, kemudian dengan bekerja secara berpasangan sehingga pihak yang mendengar instruksi bukan satu orang dan meminimalisasi kesalahan. Selain it, adanya pengecekan ulang data pasien sebelum melakukan tindakan bedah merupakan langkah yang sangat penting.

Banyak kasus kesalahan medis lain yang terjadi selain contoh tersebut. A Wilson et al (1995) di Australia melaporkan angka yang jauh lebih besar. Data menunjukkan diantara 14.179 catatan medik pasien yang berasal dari 28 rumah sakit di New South Wales, medical error terjadi pada 16,6% pasien, yang mengakibatkan terjadinya kecacatan tetap (permanent disability) pada 13,7% pasien dan kematian sekitar 4,9%. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya sebetulnya bisa dicegah (preventable) [3]. Survey yang lebih konservatif menunjukkan bahwa human error di bidang kesehatan merupakan penyebab kematian pada urutan ke delapan, mengalahkan kanker payudara, kecelakann kendaraan bermotor, dan AIDS [6]. Kesalahan error ini terjadi dengan banyak kemungkinan pihak pelaksana kesehatan, mulai dari bagian administrasi, perawatan (suster), dokter, sampau tenaga kefarmasian.Tingginya angka kesalahan medis ini mendorong peningkatan prioritas kualitas dari perawatan pasien dan pengurangan human error.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, penelitian mengenai topik ini masih langka. Peneliti kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pernah melakukan penelitian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2000 [7]. Hasilnya, angka kejadian medical errors untuk tindakan medis di rumah sakit bervariasi dari 2 persen hingga 89 persen. Ini berarti ada tindakan medis yang sering menimbulkan medical errors di rumah sakit, dan ada pula tindakan medis yang tidak mengakibatkanmedical errors. Dalam penelitian ini, risiko medical errors tertinggi terdapat pada pemberian antibiotik yang tidak perlu untuk penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Sedangkan risiko medical errorsterendah terdapat pada diagnosis penyakit ISPA.

Departemen Kesehatan RI (2006) menyatakan data tentang kejadian tidak diharapkan (KTD/adverse events) apalagi kejadian nyaris cedera (near miss) masih sangat langka, namun terjadi peningkatan tuduhan mal praktik.  Mengingat standar pelayanan kesehatan di Indonesia masih jauh dibawah negara Amerika Serikat dan Inggris, tentu saja tidak menutup kemungkinan angka kesalahan medis dan KTD bisa lebih besar[5]. Mengutip pernyataan dari Departemen Kesehatan International tahun 2001, meningkatkan kualitas dan keamanan perawatan pasien telah menjadi prioritas yang diutamakan di Inggris dan di seluruh dunia[1].

Sudah ada upaya perbaikan?

Upaya meminimumkan angka kesalahan medis akibat human error terus dilakukan dengan beragam cara dan oleh berbagai pihak secara terintegrasi. Dalam usaha meminimumkan angka terjadinya human error dalam dunia medis salah satunya tentu saja dengan mengidentifikasi terlebih dahulu human error yang mungkin terjadi [1]. Kesalahan manusia (human error) dapat dikategorikan menjadi berbagai bentuk. Berikut ini gambar bagan taksonomi dari kesalahan manusia.

Taksonomi dari Human Error
(Sumber : Slide Presentasi Human Reliability Minggu 1, Teknik Industri ITS)

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa ada 4 jenis kesalahan secara umum, yaitu mistakes, lapses, mode errors, dan slips. Mistakes terjadi ketika human error disebabkan karena pelaksana tugas (doer) melakukan kesalahan karena tidak memiliki pengetahuan tentang tugas tersebut, atau karena tidak mengetahui peraturannya. Sebagai contoh di bidang medis, mistakes terjadi saat seorang dokter umum mendiagnosa penyakit yang seharusnya didiagnosa oleh seorang spesialis, sehingga menyebabkan kesalahan diagnosa. Contohnya, seorang petugas kesehatan yang menyuntik pasien lalu timbul pembengkakan, atau petugas kesehatan yang menancapkan jarum pada botol infus supaya botol infusnya tidak kempes, tanpa sadar bahwa cara seperti ini justru menimbulkan risiko infeksi yang diperoleh di rumah sakit. Lapses terjadi ketika pelaksana tugas (doer) yang memiliki pengetahuan dan mengetahui peraturan melakukan kesalahan karena kelalaian atau lupa (memory).  Sebagai contoh di bidang medis adalah ketika seorang perawat lupa mengganti jarum suntik atau meninggalkan peralatan bedah dalam organ bedah yang telah dijahit (misal gunting bedah di dalam perut). Mode errors terjadi ketika respon yang dilakukan sudah benar, namun dalam modus operasi yang salah. Yang terakhir, slips, terjadi ketika pelaksana tugas sudah memiliki pengetahuan, mengetahui peraturan, memiliki niat yang benar, namun terjadi kesalahan dalam eksekusi. Slips dalam dunia medis misalnya kesalahan penulisan dosis yang seharusnya ditulis 10 mg namun tertulis 1 mg.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya faktor kesalahan dari luar yang memberikan kesempatan lebih luas untuk terjadinya medical errors. Penyebab ini antara lain:

  1. Kurangnya resources yang memadai.
  2. Sistem informasi yang tidak memadai, sehingga memperlambat proses analisa yang efisien dan tepat.
  3. Kurangnya perlindungan atau hokum dari pihak yang berwajib sehingga menyebabkan kesalahan medis menjadi hal yang kurang diperhatikan.

Dari jenis kesalahan yang ada, dilakukan standarisasi untuk meminimalisir kesalahan tersebut. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain dapat dirangkum dalam 5 langkah utama [1].

Langkah 1: Menerapkan faktor manusia baik teknik (human factor engineering)

Human factor engineering fokus kepada desain yang terintegrasi antara mesin, lingkungan, dan faktor manusia sehingga manusia dapat menyelesaikan pekerjaan dalam situasi dan kondisi yang ergonomis.

Langkah 2: Menyediakan Standard Operational Procedure (SOP) dan instruksi yang kelas

Banyak kesalahan manusia dalam dunia kesehatan dapat dicegah dengan adanya standar operasi yang jelas. Hal ini akan banyak membantu mengurangi ketergantungan pekerja pada keterampilan dan memori untuk melakukan tugas, membantu pekerja dalam pengambilan keputusan dan kekritisan dari tugas. Sebagai contoh saat dokter atau suster akan memberikan resep atau obat, dokter maupun perlu melakukan beberapa tahapan prosedr seperti memeriksa tanggal kadaluwarsa pada obat, memeriksa integritas obat, profil tentang obat yang pernah dikonsumsi pasien, intruksi yang jelas untuk penggunaan obat dan mengetahui alergi dan penyakit pasien. Prosedur yang tertulis juga membantu dalam pencapaian kinerja dengan tingkat human error yang lebih minimum.

Langkah 3: Memberikan pelatihan kerja yang relevan dan praktek

Adanya pelatihan kerja akan memastikan petugas kesehatan memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang esensial dan diperlukan untuk secara efektif menjalankan fungsi mereka sehingga akan meminimalisasi terjadinya human error dalam ekseskusi.

Langkah 4: Adanya prosedur untuk mendeteksi human error

Banyak kesalahan manusia dalam bidang kesehatan dapat dicegah dengan adanya prosedur pengendalian administrasi dan sistem. Misalnya, beberapa perusahaan memiliki kebijakan yang memerlukan petugas kesehatan untuk bekerja secara berpasangan untuk kegiatan tertentu sehingga sistem berpasangan ini mennungkinkan bagi partner untuk dalam mendeteksi human error sebelum konsekuensi yang tidak diinginkan terjadi. Pengecekan secara berulang juga diperlukan seperti misalnya, setelah tenaga farmasi yang mengambilkan obat resep dari dokter dicek kembali kesesuaiannya dengan resep oleh tenaga farmasi bagian penyerahan kepada pasien.

Langkah 5: Membantu pekerja mencapai kebutuhan sosial dan psikologis

Motivasi pekerja cenderung fluktuatif. Adanya langkah khusus untuk pendekatan secaa sosial dan psikologis akan membantu menjaga motivasi tetap tinggi sehingga faktor human error dapat diminimumkan.

Untuk permasalahan kesalahan medis di Indonesia, dimana pelayanan medis cenderung masih dibawah standar negara-negara seperti Amerika dan Inggris, penekanan terhadap peningkatan standar kualifikasi petugas kesehatan dan penyedia layanan kesehatan. peningkatan kesadaran masyarakat atas pentingnya standar pelayanan kesehatan sehingga tidak melakukan kesalahan dalam pemilihan penyedia fasilitas kesehatan. Tentu saja dalam hal ini, standar pelayanan kesehatan meliputi diantaranya standar pelayanan kesehatan dari sebuah rumah sakit, kualifikasi standar pelaksana dan petugas kesehatan, diantaranya petugas administrasi, dokter, perawat, petugas farmasi, dan kseluruhan petugas lainnya sampai dengan petugas keamanan dan kebersihan. Selain itu, perlu dilakukan seleksi yang lebih ketat dalam memberikan izin praktek bagi dokter, bidan, dan petugas kesehatan lainnya, dan kualifikasi yang sesuai pula bagi universitas kesehatan untuk meluluskan mahasiswa bidang kesehatan. Selain itu, badan khusus yang menangani untuk medical error FDA (Food and Drug Administration) seperti yang dimiliki oleh Amerika Serikat juga salah satu alternatif bentuk perlindungan yang lebih baik, perlu dipertimbangkan. Selanjutnya kelima langkah yang telah disebutkan juga harus tetap diperhatikan.

Dengan mengurangi angka kesalahan medis karena faktor manusia, diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa fungsi dunia medis adalah sebagaimana mestinya, menjaga, merawat dan menyelamatkan.

Referensi

[1]        Rooney, James J,  Heuvel, Lee N. Vanden & Lorenzo, Donald K.  Reduce Human Error, How to analyze near misses and sentinel events, determine root causes and implement corrective action. Tersedia di http://www.capapr.com/docs/reducing%20human%20error%20QP.pdf diakses pada tanggal 19 Mei 2012

[2]        D. Kopec, Kabir M.H, Reinharth,D, Rothschild,O, & Castiglione, J.C.  Human Errors in Medical Practice: systematic classification and  reduction with automated information systems. Tersedia di http://www.sci.brooklyn.cuny.edu/~kopec/research/new/Final_J_Med_Sys_10_16_02.pdf diakses pada tanggal 19 Mei 2012

[3]      Mutu Pelayanan yang Berorientasi pada Patient Safety, Tersedia di  http://akreditasirumahsakit.blogdetik.com// diakses pada tanggal 19 Mei 2012

[4]        Slide presentasi mata kuliah Human Reliability Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember

[5]        Hikmah, Syahara. Persepsi Staff,  bagian Pendahuluan, Tersedia di http://www.lontar.ui.ac.id/ diakses pada tanggal 19 Mei 2012

[6]        QUIC. Growing Concerns About Medical Errors tersedia di http://www.quic.gov/report/mederr4.htm diakses pada tanggal 19 Mei 2012

[7]        Utarini, Adi. 2004. Dokter Pun Bisa Salah. Tersedia di http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/03/22/KL/mbm.20040322.KL89843.id.html diakses pada tanggal 19 Mei 2012

[8]        Wachter, Robert M. dkk. The Wrong Patient. Tersedia di http://www.drmed.org/medical_errors/pdf/the_wrong_patient.pdf

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengembalikan Kepercayaan terhadap Dunia Medis

  1. 2509 100 005_Hendrick Hernando says:

    Bidang kesehatan (medis) akan menjadi sesuatu yang sensitif jika dihubungkan dengan bahasan human error. Bagaimana tidak ? di satu sisi mereka (read : praktisi kesehatan) tentu tidak ingin khalayak umum mengetahui mengenai kesalahan yang telah diperbuat, namun bagi masyarakat yang menggunakan jasa kesehatan pastilah sangat memerlukan pemahaman akan hal ini. Merujuk pada data statistik yang menginterpretasikan presentase dampak atas “kelalaian” manusia pada dunia medis, maka menjadi penting adanya bagi kita untuk “aware” dengan hal ini.

    Artinya, disamping pembenahan yang harus dilakukan pihak medis seperti pembentukan SOP, training, implementasi deteksi human error dll, kita sebagai pasien pun harus mawas diri akan kesalahan yang mungkin saja bisa terjadi. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari kesalahan dari sudut pandang pasien & keluarga adalah :

    1. Selalu menjaga komunikasi dengan dokter sebelum dilakukan tindakan (ex : riwayat kesehatan, alasan & tujuan dilakukan tindakan dll)

    2. Memeriksa dan menanyakan (jika tidak familiar) alasan & kegunaan terhadap segala jenis asupan ke pasien (ex : obat-obatan & suplemen)

  2. 2511100050_Satrio D. Raharjo says:

    lmu kedokteran merupakan ilmu empiris sehingga ketidakpastian merupakan salah satu ciri khasnya. Iptekdok masih menyisakan kemungkinan adanya bias dan ketidaktahuan, meskipun perkembangannya telah sangat cepat sehingga sukar diikuti oleh standar prosedur yang baku dan kaku. Kedokteran tidak menjanjikan hasil layanannya, melainkan hanya menjanjikan upayanya.

    Pada umumnya kita berfokus pada active error dalam upaya respon terhadap suatu error.dengan memberikan hukuman kepada individu pelakunya, re-training dan lain-lain yang bertujuan untuk mencegah berulangnya active errors. Memang pada beberapa kasus hukuman seringkali bermanfaat, namun sebenarnya tidak cukup efektif.
    Memfokuskan perhatian kepada active errors akan membiarkan latent errors tetap ada di dalam sistem, atau bahkan mungkin akan terakumulasi, sehingga sistem tersebut semakin mungkin mengalami kegagalan di kemudian hari.

    Pendapat yang mengatakan bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan desain organisasi dan manajemen yang baik akhir-akhir ini sangat dipercaya kebenarannya. Konsep safety (dalam hal ini patient safety), yang pada mulanya diberlakukan di dalam dunia penerbangan, akhir-akhir ini diterapkan oleh Institute of Medicine di Amerika (dan institusi serupa di negara-negara lain).
    Keselamatan pasien diartikan sebagai penghindaran, pencegahan dan perbaikan terjadinya adverse events atau freedom from accidental injury. Keselamatan tidak terdapat pada diri individu, peralatan ataupun bagian (departemen, unit), melainkan muncul dari interaksi komponen-komponen dalam sistem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s