Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SS100)

Ditulis oleh : Heru Budi Pratomo [2508100138], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Sukhoi Superjet 100

Pada beberapa waktu yang lalu ini Indonesia lagi-lagi dikejutkan oleh kejadian ataufenomena kecelakaan pesawat. Namun kali ini kecelakaan tersebut tidak dialami oleh satupun maskapai penerbangan lokal maupun maskapai militer, namun kecelakaan tersebut dialami oleh pihak Rusia yang sedang melakukan uji coba / joy flight dari salah satu jenis pesawatnya yaitu Sukhoi Superjet 100 (SS100). “Kecelakaan pesawat terbang selalu dihubungkan dengan tiga faktor penyebab, yaitu faktor manusia (human factor), faktor pesawat terbang (machine), dan faktor media antara lain cuaca. Menurut statistik, faktor manusia (human factor) mempunyai andil paling besar yaitu 66%; disusul oleh faktor pesawat terbang (machine) 31.8% dan faktor cuaca 13.2%”[1]. Namun bukan berarti setiap terjadinya kecelakaan pesawat selalu disebabkan dari salah satu dari ketiga faktor tersebut, kecelakaan pesawat juga dapat disebabkan oleh gabungan dari 2 faktor penyebab tersebut atau bahkan dipengaruhi oleh ketiganya. Yang menjadi pertanyaan, apakah penyebab sebenarnya dari kecelakaan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 (SS100) terssebut? Banyak sumber yang menyatakan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut disebabkan oleh faktor manusia (human error). Menurut Hagan dan Mays (1981) mendefinisikan human error sebagai “kegagalan dari manusia untuk melakukan tugas yang telah didesain dalam batas ketepatan, rangkaian, atau waktu tertentu”[2]. Human error dicurigai sebagai penyebab utama dari jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 (SS100) tersebut karena selain faktor tersebut dinilai memiliki persentase terbesar penyebab kecelakaan pesawat, banyak pihak menilai bahwa pesawat SS100 tersebut memiliki teknologi canggih yang dapat meminimalisir penyebab terjadinya kecelakaan karena faktor pesawat (machine) itu sendiri. Sedangkan jika ditinjau dari faktor cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan bahwa “saat kejadian tidak ada faktor cuaca yang cukup menonjol karena cuaca tergolong normal dan kemudian LAPAN bersama BMKG mengklarifikasi informasi tersebut dengan mengatakan bahwa awan yang mengepung Gunung Salak bukanlah awan Cb melainkan awan tinggi biasa”[3].“Sukhoi Superjet 100 (SS100) merupakan sebuah pesawat yang dibuat dan dikembangkan oleh Sukhoi. Pesawat ini merupakan salah satu pesawat terbaru di Rusia dan merupakan pesawat penumpang Rusia pertama yang dikembangkan pasca bubarnya Uni Soviet”[4]. 

Peristiwa Terjadinya Kecelakaan SS100

Sukhoi Superjet 100 (SS100) memiliki fitur sistem kontrol elektronik super canggih fly by wire, alat ini digadang-gadang mampu menambah dan mengurangi gigi untuk pendaratan, selain sistem rem sebagai kestabilan pesawat ketika menahan berat. Pesawat penumpang buatan Rusia yang terbang dalam rangka promosi / joy flight ini berangkat pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012 pukul 14.33 WIB melalui Bandara Halim Perdana Kusuma. Lalu beberapa saat kemudian sekitar kurang lebih 21 menit, pesawat berpenumpang 45 orang yang sebagian besar warga Indonesia tersebut kehilangan kontak dengan Bandara Halim Perdanakusuma beberapa saat setelah meminta izin untuk turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki. (Kamis 10 Mei 2012) puing-puing pesawat telah berhasil ditemukan oleh tim SAR. Korban selamat dalam tragedi tersebut belum dilaporkan hingga saat ini dan proses evakuasi korban pun belum dilakukan karena terhalang cuaca buruk. Hingga saat ini, penyebab jatuhnya pesawat baru yang berkapasitas 70 – 100 penumpang itu belum diketahui. Semua masih menjadi spekulasi dan dugaan hingga Komite Nasional Keselamatan transportasi (KNKT) mengeluarkan hasil resmi penyelidikan. Namun tanpa mengurangi rasa simpati terhadap keluarga korban yang masih berkabung, sejumlah catatan tentang misi penerbangan yang berakhir tragedi itu tetap harus dicermati. Berdasarkan berita yang penulis dengarkan melalui media televisi, penulis menangkap informasi bahwa sebelum terbang, pesawat Sukhoi Superjet 100 (SS100) dan para kru yang mengawakinya dilaporkan dalam kondisi layak. Bahkan, pada penerbangan promo sesi pertama, manuver terbang yang mengesankan telah diperagakan pesawat yang diklaim berharga US$35 juta dengan biaya operasional yang rendah tersebut. Demo flight dilakukan sebanyak dua kali, pada demo flight yang kedua pun, beberapa saat setelah lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, pesawat SS100 tersebut masih memperagakan manuver spektakuler layaknya pesawat tempur. Tidak mengherankan bila puluhan pesawat jenis tersebut dipesan para pembeli dari Indonesia, termasuk mereka yang ikut serta dalam joy flight tersebut. Namun, fakta mengenai kesemrawutan administrasi penerbangan pesawat itu tidak boleh ditepis lagi. Beberapa kali, kita mendapatkan pernyataan berbeda – beda tentang jumlah dan nama – nama penumpang. Beberapa nama yang tercatat dalam list keikut sertaan joy flight dilaporkan tidak berada di dalam pesawat tersebut. Sebaliknya beberapa nama yang tidak tercatat dalam daftar justru ikut dalam penerbangan naas tersebut. Bahkan, berkas daftar dari penerbangan itu pun dilaporkan ikut terbawa salah satu penumpang. Selain itu, yang menurut penulis juga sangat disayangkan adalah lebih dari soal kesemrawutan administrasi, penerbangan Sukhoi SSJ100 dinyatakan belum mendapatkan izin dan sertifikat kelaikan udara dari pemerintah Indonesia. Padahal, undang – undang Nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan mengharuskan hal itu.

Faktor Manusia dalam Kecelakaan

Menurut penjabat sementara Wakil Presiden Rusia Dmitry Rogozin, faktor human error lebih dominan sebagai penyebab. “Saya berharap bahwa IAC (International Aviation Cmmittee) akan bekerja cepat untuk menentukan penyebab tragedi ini. Tapi pendapat ahli menunjukkan bahwa teknologi Sukhoi bekerja dengan baik, dan itu mungkin faktor manusia,” kata Rogozin kepada wartawan di Moskow, seperti dikutip harian Russia Today. Rogozin ikut saat pesawat jenis ini terbang pada Februari di Novosibirsk dan menganggap SS100 sebagai pesawat komersial yang andal dan modern. “Selama penerbangan dari Novosibirsk ke Moskow, saya berada di kokpit dan pilot menjelaskan kepada saya keuntungan dari jet ini. Pesawat ini memiliki masa depan sangat menjanjikan dan kompetitif,” kata Rogozin. Sumber lain yaitu pilot kehormatan dan ahli keamanan penerbangan Rusia, Vladimir Gerasimov menduga bahwa kecelakaan terjadi karena pilot. “Pesawat jet menabrak gunung. Ini berarti dia turun lebih rendah dari batas aman,” katanya. Gerasimov menambahkan, saat pesawat sedang terbang, ada ketinggian minimal untuk medan mulus, daerah perbukitan, dan daerah pegunungan. “Jika jet sampai celaka, berarti ada aturan ketinggian yang dilanggar”. Gerasimov mengatakan, jika reruntuhan pesawat terletak 1.5 kilometer dari titik terakhir komunikasi dengan ATC (Air Traffict Control), itu berarti kecelakaan terjadi hanya beberapa detik setelah kehilangan kontak[5].

Jika dilihat dari sistem kecanggihan pesawat yang telah dibabarkan diatas, pesawat ini tidak akan membiarkan dan tidak akan jatuh bebas begitu saja. Akan ada warning dari peringatan yang terus-menerus kepada pilot dan co-pilot. “Tetapi kenapa alat seperti GPWS (Ground Segment Proximitu Warning System)/pendeteksi ketinggian, MOCA (Minimum Obstacle Clearance Altidude), MORA (Minimum Off Route Altidude), TAWAS (Theater Airbone Warning System) tidak memberikan peringatan kepada pilot apabila berada dalam keadaan darurat?”[6] Berdasarkan pernyataan tersebut maka dapat memperkuat pernyataan bahwa human error merupakan faktor penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Berikut ini merupakan beberapa kemungkinan human factor dari tidak bekerjanya sistem-sistem pesawat tersebut diatas:

  1. Pilot tidak menyalakan sistem tersebut
  2. Pilot menyalakan sistem namun tidak memperdulikan

Referensi

  1. http://www.raihanrn.com/2012/05/penyebab-kecelakaan-pesawat.html
  2. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/human-error-definisi-pendekatan-dan.html
  3. http://news.detik.com/read/2012/05/25/044037/1924301/10/ini-dia-proses-cuaca-hasil-analisa-bppt-saat-kecelakaan-sukhoi-terjadi
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Sukhoi_Superjet_100
  5. http://www.tempo.co/read/news/2012/05/12/173403374/Rusia-Menduga-Tragedi-Sukhoi-karena-Faktor-Manusia
  6. http://media.kompasiana.com/new-media/2012/05/12/terkait-kecelakaan-sukhoi-superjet-1000-sabotase-atau-human-error/

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SS100)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s