Human Error Sering Kita Lakukan di Jalanan? Benarkah??

Ditulis oleh : Rifatul Mufianah [2509100073], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability
 

Apa sih Human Error itu?

Menurut McCormick dan Sanders, Human Error adalah suatu keputusan/ tindakan yang mengurangi atau berpotensi untuk mengurangi efektivitas, keamanan, atau performansi suatu sistem. Human Error dapat terjadi melalui banyak cara, diantaranya adalah kesalahan dalam melakukan fungsi-fungsi yang seharusnya, kesalahan pengambilan keputusan dalam menghadapi kesulitan, kesalahan dalam menyadari kondisi berbahaya, melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, serta waktu dan respon yang buruk pada kontingensi. Penyebab Human Error ini dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu penyebab primer, penyebab manajerial, dan penyebab global. Penyebab primer datang dari individu pelaku Human Error itu sendiri. Contohnya adalah reaksi terhadap stres atau kelelahan. Sedangkan penyebab manajerial datang dari pelatihan dan pendidikan yang diterima oleh individu pelaku Human Error. Dan yang terakhir adalah penyebab global yang datangnya di luar kontrol manajemen maupu individu, seperti tekanan keuangan, tekanan waktu, tekanan sosial dan budaya organisasi. 

Seperti apa Human Error di jalanan?

Secara sadar ataupun tidak sadar, Human Error sering kita lakukan. Contoh Human Error tersebut diantaranya adalah menggunakan handphone saat menyetir, pelanggaran rambu-rambu lalu lintas seperti melakukan putar balik di tempat yang sebenarnya tidak diperbolehkan, berkendara di atas kecepatan yang telah ditetapkan, menyalip dari sebelah kiri, dan lain lain, pengendara angkutan umum yang ugal-ugalan.

Human Error di jalanan bukan hanya sering dilakukan oleh pengendara kendaraan bermotor, tetapi juga dilakukan oleh pengguna jalan lainnya. Contohnya adalah pejalan kaki yang tidak menyeberang di zebra cross atau jembatan penyeberangan, pedagang dengan gerobak yang mendorong dagangannya di arus lalu lintas yang padat, dan lain-lain.

Memangnya dampak apa yang timbul dari perlakuan Human Error itu?

Dampak Human Error di jalanan yang paling utama tentunya adalah kecelakaan lalu lintas. Pejalan kaki tertabrak ketika menyeberang jalan, pedagang dengan gerobak terserempet ketika mendorong gerobaknya di jalanan yang padat. Lalu ada kecelakaan tunggal maupun kecelakaan beruntun kendaraan bermotor.

Data Ditlantas Polri tahun 2009 yang disajikan dalam buku laporan studi Evaluasi Road Map to Zero Accident menyatakan bahwa terdapat 15.392 kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada tahun 2009. Apabila dihitung dalam harian maka terdapat 42 kecelakaan setiap hari. Data dalam laporan tersebut juga menyatakan bahwa terdapat peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas rata-rata sebesar 20% pada tahun 2002 sampai 2008. Nah, apabilasesuai data tersebut, maka kecelakaan lalu lintas yang terjadi di tahun 2012 adalah 72 kecelakaan setiap harinya.

Dari sekian banyak kecelakaan lalu lintas tersebut, 85% terjadi adalah kesalahan pengemudi. Sedangkan karena pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya adalah sebesar 3%. Kesalahan yang biasa dilakukan pengemudi yaitu tidak mau mengalah (26%), menyalip atau mendahului (17%), berkecepatan tinggi (11%), dan penyebab lainnya seperti pelanggaran aturan lalu lintas dan lain-lain berkisar antara 0,5% – 8%.

Wow, mengejutkan ya jumlah kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh Human Error. Lalu apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi Human Error dan kecelakaan lalu lintas di jalanan?

Kecelakaan lalu lintas telah menjadi perhatian banyak pihak. Banyak pula riset yang meneliti penanganan lalu lintas untuk mengurangi angka kejadian kecelakaan. Beberapa solusi yang diberikan terkait dengan pengembangan faktor-faktor sarana prasarana, regulasi hukum, dan teknologi. Padahal masalah utamanya adalah dari faktor manusia itu sendiri, yaitu kedisiplinan pengguna jalan dan kedisiplinan aparat yang seharusnya menegakkan peraturan.

Salah satu metode penangan permasalahan lalu lintas adalah 3 E, yakni kombinasi dari engineering, education dan enforcement. Yakni, keterpaduan antara aspek teknologi yang terdiri dari inovasi kendaraan dan pengaturan prasarana jalan, pendidikan kesadaran berlalu lintas serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggar peraturan lalu lintas (Subair, 2008).

Jadi, ayo hindari melakukan Human Error saat berada di jalanan. Solusi mengatasi Human Error dan kecelakaan lalu lintas di jalanan ada pada diri kita dan dimulai dari diri kita sendiri

Referensi

Wignjosoebroto, Sritomo. 2008. Handout Kuliah : Ergonomi Industri (Human Error)

Rahman, Arief. 2010. Handout Kuliah : Introduction to Human reliability

Anonim. 2009. Human Error : Definisi, Pendekatan, dan Penyebabnya. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/human-error-definisi-pendekatan-dan.html 17 Mei 2012 pukul 19.33 WIB

Sum, Taryadi. 2009. 85% Kecelakaan Lalu-lintas Karena Human Error. http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/12/28/85-kecelakaan-lalu-lintas-karena-human-error/ 17 Mei 2012 pukul 19.36 WIB

Subair, Muhammad. 2008. Reformasi Sistem Transportasi Umum Sebagai Upaya Peningkatan Keselamatan Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. http://bair.web.ugm.ac.id/Reformasi_Sistem_Transportasi_Umum.htm 17 Mei 2012 pukul 19.41 WIB

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Human Error Sering Kita Lakukan di Jalanan? Benarkah??

  1. Adi says:

    Artikel ini sangat menarik, saya sangat setuju dengan isi dari artikel di atas. Saya hanya ingin menambahkan selain perlunya metode 3 E, seluruh pengendara kendaraan bermotor juga harus melakukan 2 P, yaitu “pray” dan “patience”. Selain itu saya menghimbau untuk seluruh pengendara kendaraan bermotor bahwa tidak ada kata “efektif” dan “efisien” sebagai alasan untuk melawan arus lalu lintas, memotong jalan, atau melakukan putar balik di tempat yang tidak diperbolehkan, atau pelanggaran-pelanggaran sejenisnya yang dilakukan dengan sengaja. Selebihnya saya setuju bahwa selain seluruh pengguna jalan yang harus memiliki kesadaran untuk tertib berlalu lintas, aparat keamanan juga harus tetap menegakkan peraturan dan melakukan kontrol dengan baik dan disiplin.

  2. Nur Azizah says:

    Artikel ini menarik karena setelah membaca artikel ini, kita dapat mengetahui bahwa banyak kegiatan yang kita lakukan ketika berkendara yang merupakan human error.
    Contohnya menggunakan handphone ketika mengendarai motor atau mobil, melanggar lalu lintas, menyalip kendaraan lain, dan masih banyak lagi yang biasanya dilakukan sesuka hati pengendara.
    Pada artikel ini juga dijelaskan mengenai dampak dari human error yang terjadi di jalan raya yang dapat membuat para pembaca sadar untuk lebih berhati-hati dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk ketika di jalan.
    Mari menghindari human error ketika berkendara agar tercipta suasana lalu lintas yang aman dan nyaman untuk semua pengendara.Nur Azizah.

  3. Mohammad Reza Firsada says:

    Menurut saya, kesalahan yang terjadi di jalan raya tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada satu pihak. Seperti yang Anda sebutkan contohnya, pedagang dengan gerobak yang mendorong dagangannya di arus lalu lintas yang padat. Semua orang memiliki hak yang sama di jalan (terkecuali yang disebutkan di PP No. 43 Tahun 1993 mengenai mobil ambulance, pemadam kebakaran, dll) juga memiliki kewajiban yang sama. Human error yang timbul di jalan, pada awalnya dipicu dengan terjadinya human error pada sistem mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) yang termasuk kategori human error yang disebabkan oleh faktor manajerial. Pengemudi (baik motor ataupun mobil) akan lebih mengindahkan peraturan rambu lalu lintas dan etika berkendara di jalan apabila dalam mendapatkan SIM terdapat seleksi yang sangat ketat. Pola pikir pengguna jalan mengenai pelanggaran lalu lintas yang dapat dengan mudahnya dihindari dengan cara membayar sejumlah uang pada petugas apabila ada operasi razia kelengkapan berkendara. Mengenai kecelakaan lalu lintas di jalan, seperti yang Anda sebutkan di atas dengan angka 11% kecelakaan lalu lintas terjadi akibat mengendarai dengan kecepatan tinggi. Sekali lagi tidak hanya menyalahkan penggunanya, melainkan ke akar dari permasalahan. Apabila pemerintah dapat dengan tegas membatasi kecepatan mobil yang diproduksi serta memperketat peraturan berlalu lintas, maka ada kemungkinan prosentase tersebut akan berkurang.

    Memang pada dasarnya, beberapa hal yang saya sebutkan di atas tidak dapat diproses begitu saja. Faktor luar dari pengguna jalan kiranya sangat sulit diprediksi dan diperbaiki. Metode yang Anda sebutkan mengenai penanganan permasalahan lalu lintas (3E – engineering, education, enforcement) bagi saya juga sangat akan membantu apabila “benar-benar dijalankan” pada situasi dan kondisi nyata. Hal yang paling mudah dalam mencegah terjadi kecelakaan lalu lintas adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadi human error pada diri sendiri dengan mentaati segala peraturan lalu lintas dan mengindahkan etika berkendara di jalan.

    reza.firsada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s