Human Error Penyelaman Nelayan Dengan Kompresor

Ditulis oleh : Syarif Hidayatullah [2508100119], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Di negeri ini semua hal bisa dilakakukan dengan berbagai ide oleh masyrakatnya. Terkadang ketidakmampuan akan materil tidak mengahalangi masyarakat indonesia untuk tetap mealakoni pekerjaan untuk menyambung hidup. Dalam hal ini biasanya mereka lakukan untuk mencari ikan ataupun timah pada kedalaman tertentu, dan fungsi dari kompresor sendiri adalah untuk membantu para penyelam untuk bernafas dan menggiring ikan kedalam jaring yang sudah mereka pasang sebelumnya.

Menyelam dibagi dalam beberapa jenis, yaitu: penyelaman dangkal (penyelaman dengan kedalaman maksimum 10 meter), penyelaman  sedang (penyelaman dengan kedalaman <10 – 30 meter), dan penyelaman dalam (penyelaman dengan kedalaman >30 meter) (LIPI, 2010). Penyelaman yang dilakukan oleh nelayan dengan menggunakan kompresor biasanya melebihi dari 65 meter. Kondisi pada penyelaman dalam mempunyai kondisi yang bertekanan tinggi. Dengan penyelaman pada daerah yang mempunyai tekanan begitu tinggi seharusnya para penyelam mengikuti standart operasional keamanan penyelaman sehingga dapat memberikan rasa aman ketika mereka menyelam. Di indonesia pengaturan terkait aturan dan pemberdayaan sumber daya laut sudah diatur dalam UU nomor 45 tahun 2009. Akan tetapi dalam melakukan proses penyelaman mereka hanya menggunakan pipa/selang yang panjangnya puluhan meter, udara dialirkan dari kompresor ke penyelam yang berada di permukaan laut (Kosuto, 2011). Dengan adanya penyelaman yang tidka berdasarkan prosedur tersebut sudah ada korban dalam aktifitas ini. Akibat yang ditimbulkan dalam kegiatan penyelaman berbahaya ini adalah kematian hingga kelumpuhan (Iman, 2012).

Aktifitas penyelaman dengan menggunakan kompresor ini biasaya dilakukan dengan berkelompok. Kompresor tersebut disambungkan dengan selang sepanjang 150 meter dan digunakan tiga orang penyelam sekaligus dengan cara selang dipasang bercabang (Fajar 2010). kompressor diaktifkan di atas kapal. Dengan menggunakan pipa/selang yang panjangnya puluhan meter, udara dialirkan dari kompresor ke penyelam yang berada di bawah permukaan laut. Dengan pasokan udara dari atas, penyelam bebas beraktivitas memungut atau mencari hasil tangkapan tanpa khawatir persedian udara menipis.

Peralatan Dasar Penyelaman dalam Prosedur Keamanan Penyelaman

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam artikelnya yang bejudul “Menyelam” dituliskan bahwasanya peralatan minimum penyelaman yang wajib digunakan ketika melakukan penyelaman adalah

  1. Mask

Peralatan selam yang berfungsi untuk melindung mata dan hidung, sehingga menciptakan kantong udara antara penyelam dan air.

2.  Snorkel

Alat yang digunakan untuk membantu penyelaman untuk bernafas untuk penyelaman dalam kedalaman rendah, sehingga penyelam tidak perlu menggunakan tabung udara jika menggunakan snorkel ini.

3.  Fins

Merupakan alat untuk memberi kekuatan pada kaki dan merupakan piranti penggerak. Biasanya disebut dengan “sirip selam” atau “sirip katak”

4.  Wet Suit

Merupakan alat pelindung penyelaman yang berfungsi untuk       melindungi penyelaman dari goresan karang dan pengurangan panas di bawah permukaan air.

5.  Weight Belt

Merupakan sabuk pemberat yang berfungsi untuk mengatur daya apung penyelam ketika melakukan penyelamana

6.  Tabung Udara

Tabung udara disini berfungsi utuk memberikan bantuan bernafas ketika melakukan penyelaman yang mengandung oksigen.

Pada kondisi nyata yang dilakukan oleh nelayan yang melakukan penyelaman dengan menggunakan kompresor, hampir sebagian besar peralatan dasar tersebut tidak digunakan. mereka hanya menggunakan sirip katak untuk membatu pergerakan mereka dalam air dan kompresor sendiri untuk memberikan bantuan pernafasan di dalam air. Pada penyelam kompresor , udara yang masuk ke tabung tidak terfilter dengan baik  sehingga terjadi CO2 pun bercampur bersama udara, bahkan termasuk gas yang dihasilkan asap mesin kompresor. Jika permukaan konsentrasi dengan CO2 5-6 % maka dapat mengakibatkan sesak napas, napas cepat, dan pusing. Pada kadar 10 %, tekanan darah turun menyebabkan pingsan. Bila kadar 12-14 % terjadi depresi pernapasan dan saraf pusat yang mengakibatkan kematian (Kosuto, 2011). Keracunan CO2 kerentanan terhadap narkosis nitrogen, keracunan oksigen dan penyakit dekompresi karena menyebabkan pelebaran pori pembuluh darah. Gejalanya yaitu konsentrasi berkurang, kontrol otot menurun dan fungsi motorik terganggu, serta kelelahan lalu pingsan.

Faktor Human Error terjadinya Kecelakaan

  1. Waktu Penyelaman

Dalam konsep Haldane dan Tabel US. Navy No.1-10, disana dijelaskan terkait waktu maksimal yang yang seharusnya dilakukan oleh penyelam dalam kedalaman tertentu. Sehingga jika para penyelam melebihi batas yang telah ditentukan pada kedalaman tersebut, maka akan berdampak timbulnya kecelakaan. Waktu maksimal dalam melakukan penyelaman pada kedalaman tertentu disebut dengan “No Decompressi Limit” atau “Waktu Nol”. Berikut adalah tabel dari waktu nol tersebut:

Tabel “waktu nol”

Pada kondisi eksisting, para nelayaan yang menyelam menggunakan kompressor yang menyelam pada kedalaman lebih dari 65meter menghabiskan waktu yang lama hingga target dari penangkapan ikan dan penyedotan pasir berhasil. Tentunya pada kondisi ini rawan terjadinya kecelakaan karena pada kedalaman tersebut lama waktu maksimal seharusnya hanya 5menit saja pada kondisi tersebut.

2.  Proses Menuju Permukaan

dalam prosedur keamanan penyelaman international. Seorang penyelama yang menyelam pada kondisi yangs sangat dalam sangat tidak dianjurkan langsung menuju permukaan. Dalam prosedur international, penyelam diizinkan langsung menuju permukaan jika dalam kondisi bahaya, misalnya tabung oksigen habis. Akan taapi dalam SOP yang ditentukan dalam kondisi bahaya tersebut, penyelam hanya diberi waktu 3menit untuk menuju permukaan dan langsung kembali menuju batas kedalaman sebelum penyelam menuju permukaan tadi.

Pada kondisi yang terjadi pada nelayan, mereka dengan bebasnya menyelam pada kedalaman tertentu dan kembali ke permukaan kapanpun mereka mau. Dan hal ini selalu mereka lakukan ketika mereka melakukan pekerjaanya tersebut. Sehingga dengan kondisi ini penyelam rawan mengalami kecelakaan kerja jika proses seoerti ini terus dilakukannya.

Referensi

LIPI. 2010. MENYELAM. Jalarta: Cirtc Coremap.

UNEP. 2006. Kompresor dan Sistem Udara Tekan. India: Badan Produktifitas Nasional

Kotler, Philip. 2010. Principles of Marketing. New Jersey: Pearson Education Inc.

Iman, Fadlik Al. 2012. Resiko nelayan kompresor dan solusinya. Dilihat di:  http://fadlikpappa gallo.blogspot.com/2012/05/resiko-nelayan-kompresor-dan-solusinya.html pada tanggal 30 Juni 15.46 WIB

Kosuto. 2011. Problematika Nelayan Kompresor. Dilihat di:  http://karimunja wablogkosuto.blogspot.com/2011/04/problematika-nelayan-kompresor-ban.html pada tanggal 30 Juni 15.50 WIB

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Human Error Penyelaman Nelayan Dengan Kompresor

  1. Ahmad Izzuddin says:

    Menurut saya artikel ini sangat menarik karena penulis ingin menyampaikan kenyataan yang sekarang dialami oleh para nelayan di Indonesia. Kebutuhan mereka untuk menafkahi rumah tangga harus mereka tanggung dengan nyawa yang kapan saja bisa melayang atau bahkan kelumpuhan yang malah membuat mereka tidak mampu mencari nafkah lagi. Tidak sedikit sebenarnya korban yang telah menjadi contoh. Namun, harga kebutuhan rumah tangga yang semakin mencekik mengharuskan mereka untuk terus menyelam sambil berharap masih bisa menghirup udara permukaan nantinya. Saya rasa diperlukan adanya pelatihan-pelatihan keselamatan kerja serta koperasi pesisir yang dapat memberikan kemudahan para nelayan untuk memperoleh alat dalam memudahkan mereka mencari nafkah. Koperasi ini pula dapat membantu dalam memasarkan produk hasil laut yang diperoleh oleh para nelayan.

  2. Choirunisa Dhara Pamungkas says:

    Artikel ini sangat menarik. Betapa tinggi kebutuhan hidup manusia khususnya di kawasan pesisir hingga para nelayan tidak lagi menghiraukan keselamatan demi rupiah. Padahal dengan resiko yang amat tinggi seharusnya harga barang yang didapatkan mereka juga berbanding lurus. Sehingga dari uang penjualannya mampu digunakan meng-cover kebutuhan-kebutuhan mata pencaharian mereka, apalagi pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok; bisa difungsikan sebagai aset milik bersama. Melihat korban-korbannya dari aktivitas ini cukup banyak saya menilai bahwa kesadaran akan “safety first” oleh nelayan-nelayan tersebut sangat rendah, padahal kehadiran mereka sangat dinantikan oleh keluarga mereka di rumah.
    Menurut saya saran dari saudara Ahmad Izzuddin sangat bermanfaat bahwa sebaiknya diadakan pelatihan-peatihan mengenai keselamatan kerja dan kooperasi untuk alat-alat melaut yang memadahi.
    Sedangkan saran dari saya, bisa juga diadakan sosialisasi atau pendekatan oleh suatu lembaga yang peduli akan mata pencaharian mereka bahwa apa yang mereka lakukan sangat beresiko pada jiwa mereka dan menyadarkan mereka akan arti keselamatan. Hal lain yang bisa dilakukan didirikan persewaan alat-alat kebtuhan yang memadahi, sehingga mereka tidak perlu membeli jika harganya cukup mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s