Hal-hal yang Menyebabkan Stres Individu-individu yang Bergabung dalam Dunia Militer

Ditulis oleh : Firdaus Fanny Putera Perdana [2511203704], Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri ITS

Menjadi bagian dari militer, bagi sebagian orang, merupakan suatu kebanggaan dan suatu bentukan dari implementasi rasa patriotisme yang tertanam dalam hati. Menjadi bagian dari militer dapat menunjukkan kecintaan dan rasa memiliki yang sangat besar terhadap negara. Bahkan, bagi beberapa orang, menjadi bagian dari militer adalah simbol kejantanan dan keberanian. Tak jarang pula, pria-pria ingin menjadi bagian dari militer dengan motif ingin memikat hati wanita yang dicintainya. Namun, dibalik kebanggaan dan nilai-nilai positif yang sebelumnya telah dipaparkan, tak banyak pula para veteran yang merasa menjadi bagian dari militer adalah salah satu masa terkelam dalam kehidupannya.

Di beberapa negara, menjadi bagian militer merupakan suatu kewajiban dan bahkan hal tersebut dimulai pada saat individu-individu tersebut berusia masih sangat muda (Taylor, 2007). Di sekitar 50 negara, ada sekitar 300.000 anak-anak dibawah 18 tahun dipaksa untuk melakukan wajib militer (Derluyn et al, 2004). Anak-anak yang masih berusia belia harus rela kehilangan masa kecilnya karena paksaan untuk menjadi bagian militer untuk membela negaranya. Bahkan kebanyakan dari mereka diculik dan dipaksa melakukan hal-hal yang sebenarnya sangat jauh dari impian anak-anak.

Banyak sekali orang-orang yang sebelumnya memasuki dunia militer mengalami trauma yang sangat berat akibat hal-hal yang mereka harus saksikan atau perbuat selama mereka harus menjadi bagian dalam sistem tersebut (Musdal and Benneyan, 2009). Berikut akan dijelaskan lebih terperinci akan hal-hal yang menyebabkan para anggota militer menjadi stres.

1.      Membawa beban berat

Membawa beban berat adalah salah satu pemicu stres dan kelelahan. Terutama anak-anak usia belia yang belum mempunyai kekuatan yang besar, hal itu sangatlah berat dan memaksa mereka untuk mengeluarkan energi melebihi batas yang mereka mampu. (Sumer, et. al, 2005)

2.      Waktu kerja yang tidak tentu

Menjadi bagian militer berarti berkomitmen akan selalu siap dalam pertempuran, dan pertempuran yang mungkin terjadi tentunya tidak mengenal waktu. Pertempuran bisa terjadi kapan saja, bisa siang, malam ataupun pagi dini hari. Manusia didesain untuk melakukan hal-hal tertentu pada jam-jam tertentu. Dengan tidak teraturnya waktu kerja yang harus dilakukan, manusia menjadi tertekan dan sangat terganggu. Waktu shift yang bergantian menyebabkan mereka harus tidur bergantian dan tak hanya itu, mereka juga akan terganggu dengan bunyi sirine dan tanda bahaya yang bisa dibunyikan kapan saja. (Sumer, et. al, 2005)

3.      Jauh dari Keluarga

Bagi sebagian besar orang, keluarga merupakan hal yang terpenting bagi mereka. Begitu juga dengan anggota militer. Jauh dari keluarga membuat mereka menjadi rindu dan merasa tertekan. Emosi yang termuntahkan sering kita lihat ketika mereka bertemu kembali dengan keluarga mereka setelah menyelesaikan masa tugasnya, atau dengan hanya membaca sepucuk surat dari orang terkasih sudah cukup membuat mereka menjadi emosional dan terharu.  Mereka pun menjadi membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga mereka ketika suatu saat nanti. Mereka pun lebih tertekan lagi ketika harus membayangkan nasib orang-orang terkasih jika mereka harus gugur dalam medan perang. (Derluyn et al, 2004)

4.      Suasana kerja yang monoton

Suasana kerja yang monoton, menghadapi cuaca yang berganti-ganti juga membuat anggota militer menjadi tertekan. Selain jauh dari orang-orang terkasih, mereka juga harus melakukan rutinitas yang sama tiap harinya. Kebosanan akan membuat mereka sangat tertekan. Tak jarang artis-artis diundang untuk menghibur para anggota militer yang sedang bertugas agar semangat mereka bisa tumbuh kembali dan rasa kebosanan mereka menjadi sedikit terobati. Di Amerika, acara TV populer seperti Top Chef juga pernah melakukan bakti sosial dengan mempersiapkan gala dinner untuk anggota-anggota militer yang sedang bertugas.

5.      Terluka dalam perang

Dalam perang, senjata sangatlah dominan dan sering sekali tentara mengalami terluka akibat tembakan. Tak jarang, luka tersebut berakhir dengan mereka mengalami cacat permanen  yang membuat mereka tidak berdaya dan tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang dulu biasa mereka lakukan (Taylor, 2007)

6.      Terpaksa melakukan vandalisme

Dalam memenangkan perang, tak jarang tentara-tentara harus melakukan vandalisme atau kekerasan dan bullying terhadap masyarakat tawanan perang. Bagi mereka yang menjadi bagian militer, mereka harus mengikuti sistem tersebut dan mau tidak mau mereka ada kemungkinan akan harus melakukan pembunuhan atau setidaknya menjadi saksi terjadinya pembunuhan. Sekitar 77% atau 223 dari 301 responden riset yang dilakukan Derluyn et al pada tahun 2004 mengatakan mereka menyaksikan pembunuhan dilakukan oleh teman mereka dan hal tersebut sangat membuat mereka trauma. Hal tersebut menjadi pemicu nomor satu stres dan trauma pasca menyelesaikan tugas militer mereka. Dipaksa melakukan latihan militer, rasa kewajiban untuk bertempur dan darus melakukan penjarahan dan pembakaran adalah pemicu stres nomor dua, tiga dan empat.

Referensi

1. Derluyn, Ilse;Broekaert, Eric;Schuyten, Gilberte;De Temmerman, Els. Post-traumatic stress in former Ugandan child soldiers. The Lancet; Mar 13, 2004; 363, 9412; ProQuest Biology Journals, pg. 861

2. Hande Musdal, James C. Benneyan. A Multi-State Fuzzy Categorical Model for Military and Civilian Traumatic Brain Injury. Proceedings of the 2009 Industrial Engineering Research Conference

3. Sumer, H Canan;Bilgic, Reyhan;Sumer, Nebi;Erol, Tugba. Personality Attributes as Predictors of Psychological Well-Being for NCOs. The Journal of Psychology; Nov 2005; 139, 6; pg. 529

4. Taylor, Phillip M. ‘Munitions of the mind’: A brief history of military psychological operations

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s