FAKTOR RESIKO NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA OPERATOR TAMBANG

Ditulis oleh Sandy Yudha (2511 204 001), Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri, ITS

I. Nyeri Punggung Bawah

Penyakit akibat kerja adalah penyakit artefisial oleh karena timbulnya disebabkan oleh pekerjaan manusia (manmade diseases). Salah satu bentuk gangguan yang dapat timbul akibat kerja khususnya di industri pertambangan adalah low back pain (LBP) atau nyeri punggu bawah. LBP adalah sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tulang punggung bagian bawah. Dalam kejadian yang sesungguhnya di masyarakat, LBP tidak mengenal perbedaan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, tingkat pendidikan, semua bisa terkena LBP. Lebih dari 70% umat manusia dalam kehidupannya pernah mengalami LBP, dengan rata-rata puncak kejadian berusia 35-55 tahun (Anderson,1997).

II. Faktor yang paling dominan terjadinya LDP (Kristiawan, 2009).

Hubungan faktor jenis kendaraan (alat berat) operator tambang dengan kejadian LBP, hasil penelitian hubungan jenis kendaraan yang dipakai operator dengan jadian LBP menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara faktor resiko jenis kendaraan statis dengan kejadian LBP. Odds Ratio untuk factor ini adalah 4.19 yang berarti kemungkinan terpapar resiko pada pengendara static vehicle sebesar 4.19 kali pengendara moving vehicle. Kursi statis yang tidak bida disesuaikan denga sikap tubuh operator akan lebih cepat menimbulkan rasa lelah bagi operator yang mengendarainya. Secara umum, kursi yang dipakai dalam kendaraan tambang berdasarkan ukuran antropometri orang Eropa dan Amerika, karena mayoritas kendaraan dibuat di Eropa dan Amerika, sehingga ukuran tinggi tubuh, lebar badan, panjang tungkai orang Indonesia kadang tidak mencapai panel-panel instrument kendaraan dengan nyaman.

Terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian low back pain dengan kebiasaan olah raga dari para operator alat berat ( nilai p = 0.029, á = 0.05). Odds Ratio juga menunjukkan nilai yang bermakna yaitu 2.94, yang berarti bahwa karyawan yang tidak memiliki kebiasaan olah raga yang teratur akan mempunyai peluang risiko terjadi low back pain sebesar 2.94 kali lebih besar dari karyawan yang sering berolah raga secara teratur. Bahwa karyawan yang tidak melakukan exercise / olah raga dengan frekuensi 1 kali atau lebih dalam seminggu mempunyai kemungkinan terjadinya keluhan low back pain dibandingkan dengan karyawan yang melakukan olah raga 1 kali seminggu atau lebih.

Ditemukan hasil bahwa karyawan yang terdiagnosis low back pain lebih banyak mengalami stres kerja (43%) dibandingkan dengan kelompok yang tidak terdiagnosis low back pain (14%). Hasil uji statistik juga menunjukkan hubungan yang bermakna antara stres kerja dengan kejadian low back pain (nilai p = 0.0001), á = 0.05). Odds Ratio dari penelitian ini adalah 4.7, yang berarti bahwa risiko karyawan yang memiliki stres kerja untuk mengalami low back pain adalah 4.7 kali lebih besar daripada karyawan yang tidak memiliki stres kerja. Atau dengan kata lain, semakin stres seseorang, maka akan lebih mudah terkena LBP.

Daftar Pustaka

  1. Anies. 2005. Penyakit Akibat Kerja. Penerbit PT.Elex Media Komputindo,Jakarta
  2. Basuki Kristiawan. 2009. Jurnal Promosi KesehatanIndonesiaVol. 4/No.2/Agustus 2009
  3. Andersson G.B.J. 1997. The Epidemiology of spinal disorder. In : frymoyer J.W.,Ed. The adult spine : Priciples and practice. Edisi 2. Raven PressNew York. PP : 93-141.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s