ASPEK ERGONOMI DRIVER DUMP TRUCK TAMBANG BATUBARA


M. Abdul Jumali, Mahasiswa Pasca Sarjana ITS, 2511 204 002

Dalam sektor pertambangan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan kunci bisnis yang menjadi prioritas untuk menjadi komitmen yang pengelolaannya diarahkan untuk mendukung kebijakan dalam menciptakan kegiatan pertambangan yang aman, bebas dari kecelakaan kerja, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja. Oleh karena itu, dalam rangka menjamin kelancaran operasi guna menghindari terjadinya kecelakaan kerja, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja maka diperlukan implementasi K3 pada kegiatan pertambangan. Salah satunya adalah kegiatan para driver / sopir dump truck untuk operasi pengangkutan bahan atau hasil tambang.

Contohnya dalam kasus yang terjadi di daerah Kalimantan Selatan khususnya Banjarbaru (anonymous, Debu truck batu bara, 2011), jalan umum selain digunakan oleh angkutan publik juga digunakan oleh angkutan batubara. Setiap harinya, ribuan truk pengangkut batubara melewati jalan-jalan umum mengangkut jutaan ton batubara setiap tahunnya. Penggunaan ruas jalan umum untuk angkutan batubara telah menggangu kepentingan masyarakat banyak. Aktivitas ini sangat menggangu pengguna jalan lainnya, menimbulkan banyak kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan jalan dan jembatan. Sikap ugal-ugalan driver dump truck di jalan raya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya korban jiwa berjatuhan dijalan dengan sia-sia.  Menurut Warid (Zone, 2010) Pengertian kecelakaan (accident) adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan yang mengakibatkan luka fisik seseorang atau kerusakan peralatan sedangkan insiden (incident) adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat menurunkan efisiensi dari kegiatan atau nyaris terjadi kecelakaan. Maka kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi pada pekerja / karyawan suatu perusahaan / organisasi tertentu karena adanya hubungan kerja. Kriteria kecelakaan kerja harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Kecelakaan benar terjadi;

b. Kecelakaan menimpa pekerja/karyawan;

c. Kecelakaan terjadi karena adanya hubungan kerja;

d. Kecelakaan terjadi pada jam kerja.

(anonymous, Blog Dosen Kesehatan Masyarakat, 2011)

Kecelakaan mengakibatkan kerugian baik untuk korban, keluarga korban kecelakaan maupun perusahaan / organisasi tertentu, antara lain :

  1. Kerugian dan penderitaan si korban
  2. Kerugian dan penderitaan keluarga si korban
  3. Kerugian tenaga kerja

d. Kerugian waktu kerja yang hilang

  1. Kerugian kerusakan peralatan
  2. Kerugian karena kesediaan peralatan berkurang
  3. Kerugian ongkos perbaikan peralatan dari ongkos pengobatan korban
  4. Kerugian material
  5. Kerugian karena kerusakan lingkungan kerja
  6. Kerugian terhambatnya produksi
  7. Kerugian biaya / ongkos

Sehingga kecelakaan mengakibatkan kerugian produksi dan kerugian biaya / meningkatkan biaya, jadi kecelakaan menyebabkan pemborosan. Dan apabila sering terjadi kecelakaan mengakibatkan proses produksi berjalan dengan tidak aman dan tidak efisien.

Pada setiap kegiatan kerja di tempat kerja terdapat 4 (empat) elemen yang saling berhubungan, yaitu : manusia (termasuk pekerja, pengawas dan pimpinan), peralatan (termasuk peralatan permesinan, alat-alat berat, dan lain – lain), material (bisa mengakibatkan kecelakaan seperti material yang beracun, panas, berat, tajam, dan sebagainya) dan lingkungan (juga bisa menyebabkan kecelakaan seperti kekeringan, panas, berdebu, becek, licin, gelap, dan sebagainya), dimana keempat elemen tersebut bisa merupakan sumber penyebab kecelakaan (Yogyakarta, 2010).

Dalam Slide presentasi bahan ajar human faktor yang disampaikan oleh Sritomo Wignjosoebroto (2012), terdapat pemaparan yang ditunjukkan antara lain, ”Menurut Simpson (1994), bahwa 90 % kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan manusia (Human Error). Hasil riset National Safety Council (NSC) menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan kerja 88% adalah adanya unsafe behavior, 10% karena unsafe condition dan 2% tidak diketahui penyebabnya. Penelitian lain yang dilakukan oleh DuPont Company menunjukkan bahwa kecelakaan kerja 96% disebabkan oleh unsafe behavior dan 4% disebabkan oleh unsafe condition.

Dengan adanya hal ini maka dapat diperoleh hipotesis banyak sekali faktor kealpaan manusia yang lebih mengarah kepada perilaku yang membudaya pada suatu lingkungan kerja tertentu. Maka dari hal tersebut, diperlukan suatu tindakan yang dapat diambil perusahaan tambang untuk mengurangi terjadinya gangguan pengguna jalan, kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan jalan dan jembatan.

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya kecelakaan ini antara lain adalah :

1. Pada saat recruiting / seleksi awal masuk, sopir harus memenuhi persyaratan yang sesuai dengan kaidah K3 seperti: Surat Ijin Mengemudi untuk Dump Truck, sertifikat Dump Truck Standart Internasional, pengalaman kerja yang kompeten dalam bidang khusus sopir Dump Truck (bila perlu di crosscheck kebenaran dari surat lamaran dengan cara menghubungi perusahaan yang bersangkutan), sertifikat ahli dalam pengoperasian Dump Truck disegala medan dan penanggulangannya, dan lain-lain.

2. Pengadaan training dan pelatihan dalam sebuah simulator guna mencegah Human error, memprediksi kondisi yang akan terjadi dan mengurangi bahaya kecelakaan yang akan dihadapi pada keadaan yang sebenarnya.

3. Diadakan pelatihan secara berkala tentang K3 dan tentang perbaikan, perawatan, penanganan mesin Dump Truck, sehingga berita tentang apa yang terjadi diluar area tambang dapat tersosialisai dengan baik sehingga meminimalisasi kecelakaan ataupun gejolak masyarakat disekitar tambang.

4. Pembuatan jalan tersendiri untuk bongkar muat dan operasi tambang dengan memperhatikan faktor kenyamanan, kesehatan, keefektifan serta keefesienan, dan keamanan.

5. Pemberian rambu-rambu yang mudah, dimengerti dan dipahami oleh setiap sopir yang melintas pada area dalam ataupun luar tambang.

6. Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) dan atribut – atribut keselamatan diri yang standart untuk daerah tambang (International Safety).

7. Bila sudah terjadi kecelakaan dan insiden maka harus diterapkan sanksi – sanksi atas pelanggaran yang terjadi dan yang telah dilakukan oleh sopir Dump Truck mulai teguran hingga pemecatan sopir yang tidak memperhatikan Standart Operation Prosedure (SOP) seorang sopir Dump Truck.

8. Penyelesaian traumatik yang telah terjadi baik secara fisik maupun secara psikologis.

9. Pemberian sanksi tegas kepada pelaku yang melanggar norma-norma lalu lintas.

10.Menganalisa secara berkala segala bentuk pelanggaran yang dilakukan para operator Dump truk.

Referensi :

anonymous. (2011, 01 21). Blog Dosen Kesehatan Masyarakat. Retrieved 05 25, 2012, from Blog Dosen Kesehatan Masyarakat: http://ariagusti.wordpress.com/2011/01/21/manajemen-risiko-k3-di-perusahaan-pertambangan/

anonymous. (2011, 01 12). Debu truck batu bara. Retrieved mei 20, 2012, from POLTEKKES BANJARMASIN: http://www.ummetro.ac.id/detail

Wignyosoebroto, S. (2012, 05 30). Bahan ajar human faktor & P3 dengan judul :”Evaluation of Product “Safety” Design Using the BeSafe Method”. Sukolilo, Surabaya, Indonesia: Ergonomic ITS.

Yogyakarta, U. “. (2010, 10 11). UPN “Veteran” Yogyakarta. Retrieved 05 25, 2012, from UPN “Veteran” Yogyakarta: http://www.upnyk.ac.id/main/?mod=berita&nid=1970

Zone, P. W. (2010, 11 08). Pertambangan Warid Zone. Retrieved 05 25, 2012, from Pertambangan Warid Zone: http://waridnurdiansyah.blogspot.com/search/label/K3%20

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s