Analisa Kecelakaan Bus Karunia Bakti di Cisarua, Bogor

Ditulis oleh :
Danang Setiawan [2509100072],
Rozy Fatahurrohman [2509100088],
Syahidan Hidaya [2508100054],
Heru Budi Pratomo [2508100138].
Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability
 
 

Hari Jum’at, tanggal 10 Februari 2012, terjadi tabrakan beruntun di Cisarua, Bogor,  yang melibatkan bus Karunia Bakti. Kecelakaan tersebut mengakibatkan korban total 60 orang, dengan rincian 14 korban tewas, 10 luka berat dan 36 luka ringan. Hasil investigasi KNKT menemukan tiga faktor utama yang mengakibatkan kecelakaan, yaitu geometrik jalan turunan dan tikungan, kondisi  jalan licin, banyak objek berbahaya di sisi jalan dan gangguan sistem pengereman.

            Jum’at, 10 Februari 2012 sekitar pukul 12.20 WIB mobil bus PO. Karunia Bakti berangkat dari terminal Guntur Garut menuju jakarta. Pukul 18.00 WIB bus berhenti kira-kira 10 menit di depan Rumah Sakit Paru Cisarua untuk pengecekan jumlah penumpang oleh petugas, dan setelah selesai bus melanjutkan perjalanan. Namun bus melaju tidak terkendali, yang berakibat bus menabrak tiang reklame yang berada di tikungan menurun pada jaran 208 m dari pos pemeriksaan. Setelah menabrak papan reklame bus semakin tidak terkendali sehingga pada 392 m bus menabrak  mobil penumpang Mitsubishi Pajero dan 2 (dua) sepeda motor yang berada di belakang mobil tersebut. Setelah itu bus oleng ke kiri dan menabrak 2 (dua) mobil angkutan kota, mobil penumpang Nissan Grand Livina dan mobil barang pengangkut tanaman yang berada di sisi kiri jalan. Kemudian oleng ke kanan dan menabrak mobil bus PO. Doa Ibu yang datang dari arah berlawanan sehingga mobil bus PO. Doa Ibu terdorong sejauh 60 m dan tertahan karena adanya pagar taman yang berada di pertigaan jalan. Selanjutnya mobil bus PO. Doa Ibu terbalik, sedangkan bus PO. Karunia Bakti kembali oleng ke kiri yang kemudian menabrak mobil barang pengangkut sayur. Mobil kembali oleng ke kanan dan menabrak tiang telepon serta 2 (dua) sepeda motor yang sedang parkir di tepi jalan. Setelah itu mobil bus PO. Karunia Bakti menabrak warung bakso yang kemudian menabrak tembok dan akhirnya terjun ke pekarangan vila yang posisinya sekitar 9 m di bawah permukaan jalan. 

Rincian Alur Kejadian Kecelakaan

            Tabrakan bus beruntun di Cisarua, berdasarkaan hasil analisa KNKT disebabkan oleh beberapa faktor, seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut :

Fishbone Diagram Penyebab Kecelakaan Bus Karunia Bakti

Dari segi mesin, menurut sumber KNKT sistem pengereman (brake blocking) bus tidak berfungsi dengan baik. Hal ini juga nampak dari runtutan kejadian dimana bus melaju tidak terkendali dan menabrak kendaraan, bangunan dan papan yang berada di depannya. Dari faktor manusia, pengemudi dirasa tidak cukup ahli dalam mengatasi kesalahan sistem pengereman. Hal ini terlihat pada runtutan kejadian dimana bus oleng ke kanan tiga kali dan oleng ke kiri dua kali. Tidak berfungsinya sistem pengereman bus, pada dasarnya bisa diantisipasi dengan tindakan preventif dan korektif. Prosedur pengejekan kondisi kendaraan harusnya merupakan prosedur wajib sebelum kendaraan difungsikan, khususnya bagi kendaraan umum. Namun PO sering mengabaikan prosedur wajib tersebut. Dari tindakan korektif, pada dasarnya terdapat beberapa cara untuk mengatasi terjadinya rem blong. Artikel yang dimuat harian Tempo, menunjukkan bahwa rem blong bisa diatasi dengan memainkan pedal rem, gas dan gigi persneling, atau jika tidak kondisi darurat dapat dilakukan dengan menabrakkan ke pembatas jalan dengan posisi menyamping.

Lingkungan, juga memberikan pengaruh signifikan pada kecelakaan bus PO. Karunia Bakti, dimana setidaknya terdapat 3 (tiga) faktor yang penyebab, yaitu (1) Geometrik jalan berupa turunan dan tikungan, (2) Terdapat banyak bangunan, papan reklame dan tiang listrik di tepi jalan, (3) Kondisi permukaan jalan licin karena hujan yang terjadi sebelumnya. Penyebab kecelakaan bus PO Karunia Bakti pada dasarnya merupakan penyebab yang umum terjadi, dimana menurut data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (2010) mengungkapkan bahwa penyebab kecelakaan bus pada umumnya terdiri atas 3 (tiga) faktor yaitu manusia (80-90%), kendaraan (5-10%), dan lingkungan (10-20%).

Kejadian kecelakaan bus PO. Karunia Bakti harusnya menjadi bahan evaluasi bagi beberapa pihak terkait, seperti Dinar Perhubungan Darat, Dinas Pekerjaan Umum, dan Operator Bus. Dinas Perhubungan Darat harusnya meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan kendaraan bermotor, karena dari segi kendaraan tabrakan di Cisarua disebabkan oleh rem blong. Dari segi lingkungan, Dinas Perhubungan Darat sebaiknya juga memasang peringatan tikungan dan turunan, serta bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mengevaluasi kelayakan jalan. Dinas Pekerjaan Umum juga memegang peranan penting dalam kejadian kecelakaan di Indonesia. Dinas PU harusnya melalukan pengawasan terhadap bangunan dan objek yang berada pada daerah milik jalan. Sebagain antisipasi, Dinas PU sebaiknya lajur darurat (emergency refuge) untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kendaraan yang mengalami kegagalan pengereman (brake malfunction). Sebagai tambahan, pihak operator bus harusnya juga menerapkan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3) dalam menjalankan unit bisnisnya.

Referensi

Muftisany, H.2012, Kecelakaan ‘Bus Maut Cisarua’ Diduga karena Rem Blong. Diakses pada tanggal 06 Juni 2012. http://www.republika.co.id/berita/regional/jabodetabek/

KNKT, 2012. Rekomendasi Kecelakaan Cisarua, Bogor. Diakses pada tanggal 06 Juni 2012. http://www.dephub.go.id/knkt/ntsc_road/Recommendations/KNKT-001-2-II-REK.KJ-12.pdf

Limantoro, E. 2012, Cara Jitu Atasi Rem Blong Saat Berkendara. Diakses pada tanggal 09 Juni 2012. http://www.tempo.co/read/news

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Analisa Kecelakaan Bus Karunia Bakti di Cisarua, Bogor

  1. Rizky Yuna says:

    2509100032_RIZKY YUNA SUSIAWAN :
    Kecelakaan ini emang bisa dibilang serius kalo dilihat dari faktor penyebabnya. Andai ada pengaturan SOP pada sopir BUS mengenai sistem keamanan kendaraan dan penumpang mungkin gak bakal terjadi kcelakaan kyk gini. Tapi ya namanya juga manusia,, prinsipnya para sopir kn “Lebih Cepat Lebih Untung” hehehe…

  2. Rahaditya Dimas P says:

    Kecelakaan angkutan umum terutama moda angkutan umum bus memang menjadi berita yang sering kita dengar. Banyak opini bahwa supir mengantuk atau alasan human error lain menjadi senjata utama memberikan penjelasan atas kejadian kecelakaan. Hal ini mungkin ada benarnya dengan data Dirjen Perhubungan Darat yang mencatat 80% kecelakaan disebabkan oleh human error. Namun lebih dari itu, menurut saya sebenarnya seluruh stakeholder dalam perhubungan darat terutama penyelenggara moda angkutan umum bus juga memiliki tanggung jawab. Dari ulasan diatas, diketahui bahwa P.O. Karunia Bakti tidak melakukan pengecekan terhadap kondisi bus, dari hal ini dapat diketahui bahwa unsur safety di Indonesia menjadi hal minor, lain halnya dengan di luar negeri, unsur , safety menjadi prioritas. Menurut saya perilaku tersebut dapat dikategorikan menurut teori human reliability sebagai tindakan violations yaitu dengan sengaja melanggar prosedur. Selain itu, P.O. Karunia Bakti juga melakukan human error tipe 1A yaitu kesalahan sebelum proses pemberangkatan armada, kemudia tipe 4C2 yaitu kondisi geometrik jalan yang menurun dan berkelok,licin dan banyak benda berbahaya disekitar jalan menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi human error terjadi, persis seperti yang dikemukakan oleh KNKT. Dari fishbone diagram terlihat juga faktor penybab seperti knowledge supir yang belum cukup yang bisa digolongkan mistakes atau mungkin lapses.
    Dari kasus diatas, dapat dilihat bahwa kesalahan human error tidak hanya melulu disorot pada supir bus, namun perusahaan pun juga ikut andil dalam kecelakaan ini. Rasanya sudah saatnya Pemerintah dalam hal ini Dirjen Perhubungan Darat lebih tegas dalam aturan mengenai kelayakan armada dan aspek keamanan jalan dan prasarana di jalan lainnya untuk meminimalisir kejadian seperti ini terulang lagi. yang kedua, perusahaan transportasi pada umumnya dan perusahaan otobis (PO) khususnya,tidak meng-ignore hal-hal yang berkaitan dengan safety meskipun langkah atau proses itu dapat diabaikan dengan asumsi over optimis dari yang bersangkutan dan belajar untuk bisa menghargai keselamatan terlebih lagi nyawa dari supir, penumpang, dan orang lain. Safety is priority!Rahaditya Dimas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s