The Worst Single Aircraft Accident In The World

Ditulis oleh : Achmad Fachrur Rosi Machmud [2508100111], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability
 
Masih segar ingatan kita mengenai kecelakaan pesawat sukhoi yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Kecelakaan yang terjadi di kaki gunung salak dan merenggut sekitar 44 nyawa tersebut menjadi hot topic pada setiap media pemberitaan selama beberapa hari pasca kejadian. Tapi tahukah kita bahwa kecelakaan tersebut bukanlah yang terparah sepanjang masa. Kecelakaan pesawat komersiil terparah terjadi pada 12 Agustus 1985 di Gunung Osutaka, Jepang.

Pesawat komersiil milik JAL (Japan Air Lines) buatan Amerika yaitu Boeing-747 dijadwalkan melakukan penerbangan dari Tokyo International Airport (Haneda) menuju Osaka International Airport (Itami). Setelah pesawat mencapai ketinggian 7.200 meter atau sekitar 12 menit setelah take-off, terjadi masalah pada bagian ekor pesawat. Kerusakan pada bagian ekor tersebut membuat pesawat lepas kendali (Kobayashi and Terada, 1985).

Pada penerbangan tersebut, kapten Takahama bertugas sebagai pilot. Kapten Takahama merupakan seorang pilot yang paling senior saat itu dengan pengalaman lebih dari 12.000 jam terbang (Jackson, 1985). Pada keadaan tersebut, bahkan seorang pilot berpengalaman sekalipun hanya mampu menjaga pesawat di udara selama 30 menit hingga akhirnya pesawat tersebut menabrak Gunung Osaka (Hutapea, 2012). Peristiwa itu menyebabkan 520 dari 524 penumpang tewas sekaligus menjadi kecelakaan pesawat komersiil terparah sepanjang masa. 

 APA PENYEBABNYA ??

Setelah peristiwa mengerikan tersebut dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan mulai dari pencarian kotak hitam pesawat hingga data – data terkait lainnya yang mendukung. Dari data yang diperoleh diketahui hal yang sangat mencengangkan yang dipercaya sebagai potensi utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Faktor utama kecelakaan bukanlah machine failure seperti yang diduga melainkan adanya kesalahan fatal yang dilakukan oleh manusia.

BAGAIMANA KESALAHAN TERSEBUT BISA TERJADI ??

Pada tahun 1978, pesawat boeing 747 milik Japan Air Line melakukan pendaratan yang tidak sempurna di Osutaka International  Ariport sehingga menyebabkan kerusakan pada bagian ekor pesawat. Kerusakan pada bagain ekor pesawat mengharuskan pesawat mengalami  perbaikan skala besar di Haneda pada bulan Juni tahun 1978. Perbaikan dilakukan oleh teknisi dari Boeing maupun dari JAL (Kobayashi and Terada, 1985).

Kesalahan Penggunaan Plat
(Sumber : Kobayashi and Terada, 1985)

Selama proses perbaikan berlangsung, terdapat satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh teknisi perbaikan yaitu mengenai plat yang digunakan untuk proses penyambungan bagian ekor pesawat. Penggunaan plat tidak sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Plat yang harus  digunakan  seharusnya  adalah  single  plat,  tetapi  pada  perbaikan  tersebut  plat yang digunakan adalah double plat. Penggunaan double plat mengakibatkan beban keseluruhan hanya terdistribusi pada deretan paku keling bagian tengah sehingga banyak retakan kecil terjadi karena beban tersebut. Keadaan ini semakin diperparah karena perbaikan plat dilakukan sepanjang 1 meter dimana telah melewati panjang minimal yang dapat mengakibatkan failure kestabilan struktur pesawat. Hasil nyata dari kesalahan fatal tersebut terjadi setelah pesawat mengalami 12.319 siklus tekanan udara yang membuat retakan semakin menyebar dan membuat ketidakstabilan pada struktur pesawat secara keseluruhan. Berdasarkan data yang tersedia, sejak tahun 1974 hingga tahun 2008 tercatat 35 kecelakaan pesawat yang melibatkan pesawat boeing 747. (Air Disaster, 2008)

Event Tree Analysis (Sumber : Kobayashi and Terada, 1985)

Gambar tersebut menunjukkan bagaimana akibat yang harus ditanggung dari setiap failure. Dari gambar menunjukkan bahwa kesalahan fatal yaitu mis-repair dan false inspection berujung pada fatigue failure dan kerusakan struktur pesawat yang membuat pesawat lepas kendali. Tahapan kejadian secara lengkap dari pra kecelakaan hingga pasca kecelakaan pesawat ditunjukkan oleh Gambar berikut ;

Skenario Tahapan Pra Kecelakaan Hingga Pasca Kecelakaan
(Sumber : Kobayashi and Terada, 1985)

Gambar tersebut menunjukkan bagaimana rentetan proses kecelakaan dimulai dari penyebab kecelakaan hingga dampak yang diakibatkan oleh kecelakaan tersebut. Ketidakperdulian, kurangnya pengetahuan, kurangnya tindakan pencegahan, kesalahan perkiraan, ketidakpatuhan akan prosedur perbaikan, inspeksi maintenance yang buruk merupakan penyebab utama adanya kerusakan pada pesawat yang akhirnya menyebabkan terjadinya kecelakaan. Kecelakaan tersebut memberikan dampak buruk baik pada korban maupun pihak manajemen terkait dimana akibat kecelakaan tersebut tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan berkurang yang pada akhirnya mengurangi jumlah customer.

Referensi

  1. Rita Uli Hutapea 2012, 10 Tragedi Pesawat Paling Mematikan di Dunia, DetikNews,  viewed 29 May 2012, <http://news.detik.com>
  2. Air Disaster 2008, Boeing 747, Air Disaster, viewed 29 May 2012, <http://www.airdisaster.com>
  3. Harold Jackson 1985, US to investigate crash of American-made Japanese Boeing 747, Guardian News and Media Limited 2011, viewed 30 May 2012, <http://www.guardian.co.uk>
  4. Hideo Kobayashi and Hiroyuki Terada 1985, Crash of Japan Airlines B-747 at Mt. Osutaka, viewed 30 May 2012, <http://www.sozogaku.com>
  5. Anonym 2012, Japan Airlines Flight 123, Wikipedia, viewed 29 May 2012, <http://en.wikipedia.org>

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s