Kebakaran Pabrik Swallow (Analisa Human Error)

Ditulis oleh : Kadek Aditya Pringgajaya [2508100075], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Korban kebakaran pabrik Swallow
(sumber :vivanews.com)

 
Masih tergambarkah di benak kalian bagaimana kepanikan yang ramai diberitakan di breaking news stasiun-stasiun televisi pada 11 Maret 2010 lalu ??  
 Saat itu terjadi suatu peristiwa yang menyebabkan kepanikan di kawasan Jalan Kamal Raya No 34, Kalideres, Jakarta Barat. Pabrik swallow mengalami periwistiwa kebakaran dan saat itu masih ada 4 orang yang terjebak didalamnya (vivanews.com & kompas.com).

  Walaupun akhirnya 4 orang tersebut tidak dapat diselamatkan dan pabrik swallow hanya meninggalkan puing-puing yang tentunya membuat manajemen dan pemilik mengalami kerugian yang tidak sedikit, tidak akan adil rasanya kalau penyebabnya hanyalah gara-gara kelalaian seorang pekerjanya. Dampaknya sangat tidak sebanding dengan penyebab utamanya. Tetapi dari hasil identifikasi, ketidak adilan tersebut berubah menjadi kenyataan. 4 nyawa melayang hanya diakibatkan oleh kesalahan seorang pegawai yang bekerja di pabrik tersebut.  Itulah akibat mengerikan yang bisa ditimbulkan oleh human error 

Human Eror Penyebab Kebakaran Pabrik Swallow ???

Setelah dilakukan identifkasi, memang benar kalu penyebab kebakaran tersebut disebabkan oleh kelalaian seorang pekerja. Kronologi kejadian tersebut disebabkan oleh seorang pekerja yang menyalakan mesin forklift (mesin pengangkut barang) di daerah rawan yang tidak dianjurkan yakni di gudang penyimpanan bahan kimia. Begitu muncul percikan api dari gesekan mesin forklift itu, langsung saja api kecil itu menyambar bahan-bahan kimia yang ada disekitarnya dan menjadi besar hingga sulit dijinakkan.  Bagaimana tidak?Pabrik itu menyimpan 95% bahan mudah terbakar. Hal itu juga yang menyulitkan pihak berwenang untuk mengevakuasi korban dan memperkecil kerugian. Suatu gambaran yang mengerikan untuk akibat yang disebabkan human error. Seorang pekerja pabrik tersebut melakukan tindakan yang sangat tidak aman dengan menyalakan forklift di daerah rawan yang seharusnya pekerja tersebut mengetahui aturan semestinya. Tetapi yang terjadi kemudian pekerja tersebut melalaikan peraturan yang sudah ada dan menyebabkan kerugian yang sangat besar.  Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan H.W. Heinric (1936),  98% kecelakaan kerja itu disebabkan oleh faktor tindakan tidak aman. Tindakan tidak aman itulah yang harusnya dijadikan kunci untuk menghindari kejadian fatal seperti peristiwa terbakarnya pabrik swallow.

  Jika peristiwa kebakaran pabrik Swallow ini dikaitkan dengan teori human eror yang dikemukakan oleh Atkinson (1999),  sebab terjadinya peristiwa ini lebih cenderung pada sebab primer dan sebab manajerial. Bisa di lihat dari kronologisnya, untuk sebab primer hal yang seharusnya terjadi individu dari pekerja tersebut seharusnya sadar dengan tindakan berbahaya yang dilakukan. Tidak mungkin pekerja tersebut mau membahayakan dirinya dengan menghidupkan mesin forklift di gudang kimia jika pekerja tersebut sadar akan akibat dari perbuatannya. Bukan hanya pekerja yang patut disalahkan, tetapi juga manajemen perusahaan. Jika ditinjau dari sebab manajerialnya, mengapa pekerja tersebut bisa lolos membawa forklift ke gudang bahan kimia?  Di sini bisa diartikan kalau fungsi pengawasan manajemen itu sangat kurang. Tidak adanya standar aturan-aturan bagi pekerja, serta kurangnya pengawasan yang dilakukan pihak manajemen perusahaan terhadap pekerja di pabrik Swallow. Seandainya saja pekerja itu dan pihak manajemen “awas” di awal, tentunya 4 nyawa orang tidak akan melayang sia-sia secara mengerikan dan tidak terjadi kerugian material yang mencapai angka ratusan juta rupiah. Itulah human error , mungkin bisa diibaratkan sebagai nila di peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Lebih baik “awas” di awal daripada menderita di belakang.

Referensi

  • Heinrich, H.W., 1936.  “Industrial Accident Prevention.” New York, McGraw Hill
  • Andrew R. Atkinson, (1999) “The role of human error in construction defects”, Structural Survey, Vol. 17

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s