Faktor Manusia dalam Kasus Malpraktek

Ditulis oleh : I Ketut Agus Indra Bayu [2508100076], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Sampai dengan tahun 2008 telah terjadi 387 kasus malpraktek di Indonesia, seperti teori gunung es data tersebut hanyalah data yang nampak di permukaan kasus yang terjadi kemungkinan besar jauh lebih banyak dibandingkan dengan data yang terpaparkan tersebut. Padahal dokter sebagai pelaku sebagian besar kasus mal praktek merupakan seorang ahli yang telah mumpuni di bidangnya, sang dokter telah mengikuti kuliah selama bertahun-tahun dengan disiplin yang ketat sehingga diharapakan mampu melayani pasien dengan baik. Mengapa mal praktek masih terjadi ? sebelumnya mari kita lihat pengertian dari mal praktek itu sendiri. Menurut M.Jusuf  Hanafiah & Amri Amir (1999: 87), malpraktek adalah:

“Kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama. Yang dimaksud kelalaian disini adalah sikap kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, tapi sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut. Kelalaian diartikan pula dengan melakukan tindakan kedokteran di bawah standar pelayanan medis (standar profesi dan standar prosedur operasional)”

adapun jenis-jenis dari malpraktek tersebut adalah :

  1. adanya unsur kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan   dalam menjalankan profesinya;
  2. adanya perbuatan yang tidak sesuai dengan standar prosedur operasional;
  3. adanya luka berat atau mati, yang mengakibatkan pasien cacat atau meninggal dunia;
  4. adanya hubungan kausal, dimana luka berat yang dialami pasien merupakan akibat dari perbuatan dokter tidak sesuai dengan standar pelayanan medis.

Jadi apa yang menyebabkan para ahli melakukan kesalahan-kesalahan tersebut ? Dalam diskusi internal Ikatan Dokter Indonesia pada pertengahan tahun lalu dimunculkan beberapa akar penyebab tersebut, yaitu:

  1. Pemahaman dan penerapan etika kedokteran yang rendah. Hal ini diduga merupakan akibat dari sistem pendidikan di Fakultas Kedokteran yang tidak memberikan materi etika kedokteran sebagai materi yang juga mencakup afektif – tidak hanya kognitif.
  2. Paham materialisme yang semakin menguat di masyarakat pada umumnya dan di dalam pelayanan kedokteran khususnya.
  3. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang menjamin akuntabilitas profesi kedokteran (saat ini kita sedang menunggu diundangkannya UU Praktik Kedokteran yang diharapkan dapat mengatur praktek kedokteran yang akuntabel).
  4. Belum adanya good clinical governance di dalam pelayanan kedokteran di Indonesia, yang terlihat dari belum ada atau kurangnya standar (kompetensi, perilaku dan pelayanan) dan pedoman (penatalaksanaan kasus), serta tidak tegasnya penegakan standar dan pedoman tersebut.

Selain hal tersebut kesalahan manusia juga memberi efek yang sangat besar, menurut Christoper Chabris (psikolog kognitif) penyebab seorang ahli bedah yang telah bekerja bertahun-tahun meninggalkan benda di tubuh pasien diantaranya adalah kesalahan asumsi dan kurangnya perhatian akan benda yang tidak terduga. Dokter bedah yang telah bertahun-tahun bekerja biasanya hanya berfokus pada prosedur yang telah dijalani secara berulang-ulang, sehingga ketika terdapat benda asing yang masuk kedalam tubuh pasien ahli bedah tersebut cenderung tidak melihatnya karena telah berasumsi tidak akan ada benda tersebut yang masuk ke tubuh pasien.

Oleh karena itu maka sebaiknya perlu dilakukan perbaikan sistem secara menyeluruh. Dimulai dari sistem pendidikan kedokteran di Indonesia dari penyeleksian ujian masuk kedokteran yang lebih ketat sampai dengan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab mengawasi praktek yang dilakukan oleh para dokter. Pasien juga diharapkan turut serta mengawasi kinerja dari para dokter karena biar bagaimanapun dokter hanyalah manusia biasa yang masih mungkin melakukan kesalahan, namun dengan kerjasama dari seluruh pihak yang terkait kemungkinan malpraktek dapat diminimalisir.

Referensi

Kayuwoan Lewoleba, Kayus. (2008). Malpraktek dalam Pelayanan Kesehatan (malpraktek  medis). Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum UPN “Veteran” Jakarta

Ray Pratama Siadari, 2012, Pengertian dan Unsur-Unsur Malpraktek, Diakses tanggal 1 Juni 2012, (http://raypratama.blogspot.com/2012/02/pengertian-dan-unsur-unsur-malpraktek.html)

EBM, 2006, Kerja Sama Rumah Sakit dan Organisasi Profesi untuk Mengatasi Malpraktek, Diakses tanggal 1 Juni 2012, (http://www.freewebs.com/rsorganisasiprofesi/penyebabpencegahannya.htm)

Chabris, Christoper dan Simons,Daniel, 2010, Gorila Tak Kasat Mata (bagaimana intuisi telah menipu kita dengan berbagai cara), Penerbit : LiniKata, Jakarta.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s