Analisa Human Error Pada Transportasi Udara Di Indonesia

Ditulis oleh : Farah Widyan Hazmi [2508100040], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Transportasi Udara
(sumber : anneahira.com)

Pada kehidupan yang modern ini, kehidupan masyarakat menjadi semakin maju dan meningkat. Perubahan ini mengarah kepada perubahan yang serba cepat dan dinamis. Hal ini tercermin pada perpindahan barang atau manusia yang cepat dan tidak mengenal jarak. Transportasi merupakan sektor yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Transportasi terbagi menjadi tiga jenis yaitu transportasi darat, laut dan udara. Masing-masing jenis transportasi ini memiliki keunggulan maupun kekurangan. Namun jenis transportasi yang memilliki resiko paling tinggi ialah transportasi udara. Transportasi udara ini dikhususkan pada moda transportasi udara komersial yang menyajikan layanan transportasi dengan jumlah banyak kepada masyarakat.  Kecelakaan yang diakibatkan oleh moda transportasi ini dapat membahayakan banyak nyawa. Selain itu, kecelakaan yang diakibatkan moda transportasi ini akan menimbulkan perhatian masyarakat secara global.Kecelakaan yang terjadi pada transportasi udara ini terbagi menjadi dua jenis yaitu accident dan incident. Accident merupakan suatu peristiwa yang terjadi di luar dugaan manusia yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat dengan penumpang yang termuat di dalam pesawat dimana kecelakaan ini dapat menimbulkan korban jiwa. Lalu untuk incident adalah kecelakaan yang berhubungan dengan operasi pesawat dan tidak menimbulkan korban jiwa (Pakan, 2008). Menurut data yang dihimpun oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi, terjadi penurunan jumlah accident dari tahun 2007 yang kemudian naik drastis dari tahun 2010 ke 2011. Sedangkan untuk incident terjadi peningkatan dari tahun ke tahun mulai tahun 2007 hingga 2011. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat tabel penjelasan yang lebih detail mengenai jumlah accident dan incident beserta korban jiwa dari tahun ke tahun.

Tabel 1. Data Kecelakaan yang diinvestigasi KNKT tahun 2007-2011

Tahun Jumlah Kecelakaan Investigasi KNKT Jenis Kejadian Korban Jiwa
Accident Serious Incident Korban Meninggal / Hilang Korban Luka-luka
2007 21 15 6 125 10
2008 21 14 7 6 2
2009 21 13 8 40 9
2010 18 8 10 5 46
2011 32 19 13 71 8
TOTAL 113 69 44 247 75

(Sumber: Database KNKT sampai dengan 27 Desember 2011)Data pada tabel 1 ini menjelaskan kecelakaan transportasi udara yang semakin sering terjadi dan hal ini harus mendapat perhatian lebih agar kecelakaan ini dapat diminimalkan. Kecelakaan ini dapat diminimalkan jika sumber penyebabnya dapat diketahui. Komite Nasional Keselamatan Transportasi melakukan investigasi pada kecelakaan ini dan menemukan penyebab terjadinya kecelakaan. Didapatkan 52% dari penyebab kecelakaan transportasi udara di Indonesia pada tahun 2007-2011 adalah faktor manusia. Sisanya, 42% disebabkan oleh teknik dan 6% disebabkan oleh lingkungan. Berikut ini merupakan laporan perkiraan penyebab terjadinya kecelakaan transportasi udara yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi.

Tabel 2. Perkiraan penyebab terjadinya kecelakaan udara tahun 2007-2011

Penyebab 2007 2008 2009 2010 2011
Faktor manusia 15 6 12 9 2
Teknik 5 12 9 8
Lingkungan 1 3 0 1

(Sumber : Data Investigasi KNKT) Faktor manusia merupakan faktor tertinggi penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini dikaitkan dengan kesalahan yang dilakukan manusia (human error). Menurut Holnagel (1993) dalam Whittingham (2004), human error merupakan suatu kegiatan atau aksi yang gagal dilakukan sehingga tidak menghasilkan hasil yang diinginkan yang dapat menimbulkan konsekuensi. Kegagalan suatu aktivitas ini dapat disebabkan beberapa penyebab yang mempengaruhi performansi manusia (human performance) dimana performansi ini dapat diukur menggunakan model SRK (Skill, Rule and Knowledge) yang dikembangkan oleh Rasmussen (1983) dalam Whittingham (2004). Seorang pengendara pesawat terbang atau pilot dapat dinilai performansinya pada saat melakukan tugasnya. Berdasarkan model SRK maka didefinisikan skill yang harus dimiliki oleh pilot agar dapat melakukan tugasnya. Lalu mendefinisikan rule yaitu aturan yang berlaku pada saat pilot menjalankan tugas dan knowledge yang dilihat dari ketanggapan pilot dalam menghadapi situasi yang tidak ideal. SRK merupakan pilar dasar yang dapat digunakan untuk mengantisipasi terjadinya error. Selain itu, peneliti lain yaitu aviation psychology department di naval postgraduate school, School of Aviation Safety di Monterey, CA (1998) dalam Lee (2001) membuat suatu error checklist dimana checklist ini digunakan untuk mengetahui faktor error yang terjadi yang kemudian dapat dilakukan perubahan (improvement) pada faktor error tersebut.Setelah dilakukan identifikasi error dan pengukuran performansi maka langkah selanjutnya adalah mereduksi human error tersebut. Wickens et al (1998) dalam Lee (2001) mengatakan untuk dapat mereduksi human error dan segala konsekuensi negatifnya dapat dilakukan reduksi error dengan mengacu pada tiga hal yaitu sistem desain, training kru pesawat dan pemilihan personel. Perubahan desain system ini dilakukan untuk meminimasi error yang terjadi dengan membuat error tolerance. Error tolerance ini digunakan untuk menyesuaikan aktivitas para kru pesawat dengan system desain guna meminimasi error. Namun jika langkah ini kurang berhasil maka akan dilakukan training dan seleksi pada kru pesawat. Hal ini dilakukan untuk meminimasi terjadinya error secara cepat dan tepat. Training maupun seleksi kru pesawat dilakukan agar didapatkan kru pesawat terbaik yang dapat diandalkan. Namun terlepas dari pelatihan dan seleksi tersebut kru pesawat masih merupakan manusia yang dapat saja melakukan kesalahan. Oleh karena itu, pihak penerbangan harus melakukan manajemen error agar semua pihak yang berpotensi melakukan error pada transportasi udara ini waspada terhadap error yang dapat mereka lakukan kapan saja. Manajemen error sangat perlu dilakukan untuk mengatur error dan memprediksi error yang terjadi. Sehingga pencegahan terhadap error tersebut dapat secara langsung di antisipasi.

Referensi

Pakan, W. (2008). PENERBANGAN DI INDONESIA TAHUN 2000 – 2006. Penelitian Perhubungan Udara, 35(1), 1-21.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi. (2011). ANALISIS DATA KECELAKAAN TRANSPORTASI UDARA TAHUN 2007 – 2011. Konferensi Pers Akhir Tahun 2011 (p. 5). Jakarta: Kementrian Perhubungan.

Whittingham, R. B. (2004). The Blame Machine : Why Human Error Causes (I., p. 288). London: Elsevier Butterworth – Heinemann.

Lee, C. A. (2001). Human Error In Aviation. California: Certified Usability Analyst – Human Factors International. Retrieved from www.Carrielee.net

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Analisa Human Error Pada Transportasi Udara Di Indonesia

  1. 2509100054_Ari Kurnia says:

    artikel dari saudari Farah cukup menarik dan jelas. Memang kasus kecelakaan apabila dilihat dari rentetan penyebabnya selalu manusia yang menjadi faktor terbesar. terlepas dari keinginan manusia sengaja atau tidak sengaja untuk melakukan kecelakaan, tetapi banyak faktor yang menyebabkan error pada manusia. baik kelelahan, stress tinggi, maupun kondisi fisik yang tidak ideal. Karena proses kerja otak manusia bekerja secara seri bukan paralel. Ketika pikiran terganggu suatu hal maka seluruh atau sebagian proses berpikir juga akan terganggu.

    Yang terakhir, sudah menjadi hal yang lumrah apabila manusia berkata “human make(s) error”, jarang orang ataupun saya berkata “human can reduce error”.

    Terima Kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s