Titanic : Suatu Studi Keandalan

Ditulis oleh : Dominggo Bayu Baskara [2508100025], Mahasiswa Teknik Industri ITS – kelas Human Reliability

Ilustrasi Tenggelamnya Kapal Titanic karya Willy Stower (1912)

 
RMS Titanic merupakan kapal pesiar terbesar dan termewah pada masanya. Tidak hanya dari segi kelengkapan fasilitas kelas atas, namun kapal ini juga dilengkapi dengan sistem teknologi navigasi terbaik. Kapten kapal, Edward John Smith, juga telah memiliki pengalaman yang tidak diragukan sebagai nahkoda kapal selama lebih dari 32 tahun. Tetapi semua hal tersebut tetap tidak mampu mencegah tragedi karamnya kapal Titanic yang menewaskan lebih dari 1500 penumpang dan dinyatakan sebagai bencana pelayaran terburuk sekaligus termahsyur sepanjang sejarah. Benarkah hal ini kecelakaan pelayaran akibat bencana alam ataukah kesalahan manusia?
 

Megahnya Kapal Titanic

Kapal Titanic memiliki Panjang sekitar 269 meter dengan lebar 28 meter. Tinggi dari permukaan air ke geladak sekitar 18 meter. Adapun beratnya mencapai 46.328 ton. Kapal ini sanggup menampung 3500-an penumpang beserta awak kapal. Mesin Kapal terdiri atas tiga bailing-baling, dua mesin empat silinder, serta satu turbin Parsons yang memiliki tekanan rendah yang berfungsi untuk memutar ketiga baling-baling. Selain itu terdapat 29 ketel yang dipanaskan 159 perapian atau tungku batu bara yang dapat menghasilkan kecepatan hingga 23 knot. Sebuah fakta menarik bahwa dari empat cerobong kapal setinggi 19 meter, hanya tiga saja yang berfungsi. Cerobong keempat dipakai untuk lubang udara dan juga menunjukkan kemegahan kapal.[[i]]

Pada saat itu, kemewahan dan fasilitas kapal Titanic tidak ada tandingannya. Ide awal pembuatannya memang diperuntukkan menyaingi keberadaan Kapal lusitania dan Mauretania yang dimiliki Cunard Line. White Star Line kemudian membuat kapal yang diharapkan menjadi kapal terbesar dan paling mewah serta diberi nama Titanic. Di dalam kapal terdapat pemandian turki, ruang olah raga, fasilitas kolam renang, gelanggan squash, perpustakaan, dan juga tempat ibadah. Seluruh ruang kelas utama dihiasi dengan panel kayu dan dilengkapi dengan perabotan mewah serta perhiasan indah. Kapal juga dilengkapi fasilitas lift, yang merupakan inovasi baru saat itu. Tiga lift dipakai oleh penumpang kelas utama serta satu lift digunakan penumpang kelas dua. Ketika itu, Titanic dikatakan sebagai pencapaian teknologi dan puncak arsitektur laut. Bahkan dianggap sebagai kapal yang “hampir tidak mungkin tenggelam”. 

Peristiwa Tenggelamnya Kapal

Walau bagaimanapun juga buatan manusia tidak ada yang sempurna. Pada saat melakukan pelayaran perdananya meninggalkan dermaga pelabuhan Southampton, Inggris menuju NewYork, Amerika Serikat, Titanic  menabrak gunung es pukul 23.40 waktu kapal, pada minggu 14 April 1912 di kawasan Samudera Atlantik. Kemudian sekitar 2,5 jam setelahnya, Titanic  pun tenggelam, tepatnya pada senin pukul 02.20 dini hari. Dengan dinginnya air Lautan Atlantik yang suhunya berada dibawah titik nol derajat celcius musibah ini menewaskan 1.514 penumpang dari 2.223 total penumpang[[ii]].

Kesalahan Manusia ?

Investigasi awalnya menyatakan bahwa gunung es telah menenggelamkan kapal milik

Banyak ilmuwan mempertanyakan Edward John Smith, sebagai nakhoda kapal yang berpengalaman lebih dari 32 tahun dan sangat berhati-hati tersebut, mengapa ia mengabaikan peringatan bahwa gunung es berada di daerah tersebut

perusahaan White Star Line ini. Namun selama beberapa dasawarsa terakhir  ilmuwan mengungkapkan bahwa gunung es tersebut bukanlah penyebab karamnya kapal pesiar yg dijuluki The Unsinkable tersebut. Rasa tinggi hati akan kehebatan kapal yang dibuat oleh International Mercantile Marine Co. di sebuah galangan kapal Irlandia Utara itu terpampang jelas dari banyaknya sekoci yang dibawa pada pelayaran perdana tersebut. Anehnya, hanya 1.178 sekoci yang dibawa padahal jumlah kapal penyelamat tersebut hanya bisa menampung sepertiga dari jumlah seluruh penumpang dan kru kapal[[iii]].

Salah satu misteri dalam peristiwa tenggelamnya kapal ini mempertanyakan Edward John Smith sebagai nakhoda kapal yang berpengalaman lebih dari 32 tahun dan sangat berhati-hati tersebut, mengapa ia mengabaikan peringatan bahwa gunung es berada di jalur pelayaran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sky and Telescope tiga bulan sebelum Titanic berlayar. Bahwa fenomena pendekatan bulan ke bumi akibat rotasi adalah yang paling dekat setelah lebih dari satu milenium pada saat kejadian, yang berbaris bersamaan dengan matahari, dimana telah menciptakan gelombang fenomenal tinggi yang memisahkan sejumlah gunung es yang besar dari Great Greenland, akibatnya es mencair ke arah jalur pelayaran yang dilalui Titanic[[iv]]. Dengan pengabaian yang dilakukan sang kapten Edward Smith ini menjadi titik awal kecurigaan adanya kesalahan manusia dalam pengoperasian sistem navigasi kapal dan prosedur keselamatan. Kapal pesiar terbesar dan termegah pada saat itu seharusnya bisa diselamatkan seandainya sang kapten tidak nekad terus berlayar. Banyak skenario lain seperti melambatkan laju kapal atau mengambil rute memutar.

Akibat tingginya laju kapal saat menabrak gunung es, maka kerusakan besar pun terjadi di lambung kapal. Hal ini juga diperparah dengan fakta bahwa kapal tetap terus berlayar setelah kejadian tabrakan. Keputusan inilah yang membuat kapal tenggelam berjam-jam lebih cepat daripada seharusnya. Padahal kalau Titanic diam saja, kapal akan bertahan lebih lama paling tidak sampai kapal penyelamat datang dan tidak ada yang perlu mati[[v]]. Kerusakan ini mengakibatkan kapal tenggelam lebih cepat dari seharusnya yaitu hanya berselang 2,5 jam dari kejadian tabrakan. Bahkan jika melihat beberapa kejadian tabrakan kapal pada umumnya, kapal akan terbalik secara horizontal dengan salah satu bagian mengapung di laut seperti contoh karamnya kapal Costa Concordia baru-baru ini. Sedangkan posisi tenggelam Titanic cukup jarang terjadi yaitu terbalik secara vertikal sebagai bukti adanya kesalahan prosedur keselamatan pada tabrakan. Saat sebagian besar bagian kapal Titanic telah masuk ke dalam air, kapal terbelah menjadi dua bagian. Akibat patah di bagian tengah, maka air yang masuk menjadi lebih cepat dibandingkan tenggelam secara utuh. Dengan posisi terbalik secara horizontal maka kapal akan tenggelam dengan lebih lama.

Menurunnya Keandalan

Dengan menerapkan prosedur keselamatan pada tabrakan secara benar maka korban jiwa dapat diminimalisir seperti kejadian pada Costa Concordia yang hanya menewaskan 16 orang penumpang saja[[vi]]. Rasa kesombongan akibat pemujaan secara berlebih seperti menyebutkan Titanic sebagai kapal yang tidak mungkin tenggelam memprakarsai keputusan pengabaian prosedur keselamatan pada tabrakan dengan memaksakan kapal untuk terus bergerak setelah tabrakan. Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa keandalan dan kewaspadaan manusia justru dapat menurun pada saat fasilitas keselamatan yang lengkap. Bahkan dengan fasilitas keselamatan yang lengkap sekalipun tetap harus dipikirkan skenario-skenario untuk meminimalkan resiko kecelakaan. Dari studi ini menjadi pembelajaran bahwa seaman-amannya suatu kelengkapan keselamatan masih ada kemungkinan untuk terjadinya failure, sehinga diperlukan studi secara berkelanjutan terhadap perangkat keselamatan kerja dan skenario penyelamatan yang telah mempertimbangkan berbagai faktor resiko keselamatan.

Referensi :

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Titanic : Suatu Studi Keandalan

  1. anggraeni widyaningrum says:

    Artikel tersebut sangat menarik karena memberikan pengetahuan bagi kita secara lebih mendalam mengenai kecelakaan kapal titanic yang begitu terkenal sampai ke seluruh dunia. Dengan membaca artikel di atas, kita menjadi lebih tahu mengapa sebuah kapal super megah dengan teknologi yang sangat canggih seperti titanic dapat tenggelam dan menewaskan ribuan penumpangnya.
    Dari artikel itu, kita bisa belajar bahwa secanggih apapun teknologi, apabila tidak dibarengi dengan manusia yang secara benar menjalankan prosedur dalam mengendalikan teknologi tersebut, semuanya akan sia-sia dan akhirnya tetap menyebabkan suatu kecelakaan. Oleh karena itu, seharusnya pekerja pekerja yang berhubungan langsung dengan keselamatan banyak orang seperti pilot, nahkoda, masinis dsb tetap memperhatikan segala prosedur yang ada, dan tidak melalaikan atau meremehkan satu prosedur apapun. Sehingga terjadinya human error dapat diminimalisasi, yang pada akhirnya dapat menekan tingkat kecelakaan.
    ANGGRAENI W_2510100079_KELAS HUMAN RELIABILITY

  2. Artikel yang bagus karena juga mengungkap kejadian-kejadian yang dianggap janggal dalam kecelakaan yang terjadi pada kapal “super megah” Titanic. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari setelah membaca artikel ini:
    1. Tidak hanya keandalan dalam melaksanakan tugas saja yang diperlukan, tetapi keandalan ketika persiapan juga sangat diperlukan. Perencanaan yang baik akan mendukung keberlangsungan perjalanan yang baik pula. Jika kita dalam melakukan suatu perjalanan, kita harus memikirkan segala hal yang kemungkinan bisa saja terjadi. Dalam artikel ini, saya memahami bahwa persiapan yang kurang dalam menghadapi kecelakaan yang memang dianggap mereka (para awak kapal) sangat kecil terjadinya.
    2. Tanamkan kepada diri kita bahwa selalu mempunyai rasa kurang puas terhadap karya kita. Sebaiknya kita mempunyai rasa untuk selalu merasa terus kurang puas dengan karya kita. Karena jika kita merasa terus belum puas dengan karya kita, maka kita akan terus ingin memperbaiki karya kita tersebut. Jika kita merasa terlalu puas, maka karya kita tidak akan mendekati kata sempurna, karena sangat jarang sekali, karya pertama kita akan langsung dikatakan sempurna oeh orang lain. Tetapi harus kita ketahui, sifat rasa kurang puas, berbeda dengan sifat rasa kurang bersyukur.
    3. Meningkatkan rasa sangat berhati-hati jika karya kita ada hubungannya dengan keselamatan orang lain. Prosedur-prosedur keselamatan harus sangat dijunjung tinggi dalam melaksakannya. Terjaminnya keselamatan orang lain, sangat diutamakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s