STUDI KEANDALAN MANUSIA DALAM TUBRUKAN KAPAL

Ditulis oleh Sandy Yudha (2511 204 001), Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri, ITS 

Sebagai salah satu pelabuhan terpenting dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi, area Pelabuhan Tanjung Perak merupakan daerah rawan terjadi kecelakaan. Dari sekian jumlah kecelakaan yang terjadi, tubrukan kapal mewakili angka 37.15% total kejadian kecelakaan sejak tahun 1995 hingga 2010 (Adpel Tg. Perak, 2010).

Dalam industri maritim, tubrukan kapal memang telah lama menjadi sorotan karena kerugian yang ditimbulkan. Walaupun International Maritime Organization (IMO) telah melakukan segala upaya untuk menanggulanginya, angka kecelakaan akibat tubrukan tidak menunjukkan penurunan yang berarti (Manen and Frandsen, 1998).

 Tabel 1. Persentase Kecelakaan di Pelabuhan Tanjung Perak Tahun 1995-2010

Jenis Kecelakaan Persentase
Tenggelam 16.85 %
Tubrukan/Senggolan 37.15 %
Kandas 7.34 %
Kebakaran 7.56 %
Muatan rusak/jatuh ke laut 4.97 %
Penumpang/ABK jatuh ke laut 6.05 %
Mesin rusak/hilang/bocor 12.74 %
Kapal hilang/hanyut 0.86 %
Jangkar tersangkut/putus 1.08 %
Tidak terdata 2.59 %
Lain-lain 2.81 %

Total

100 %

Sumber : Adpel Tg. Peral 2010)

Dari sekian banyak faktor, faktor manusia merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan di laut, terutama kecelakaan akibat tubrukan. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian lainnya yang menunjukkan 43%-96% kecelakaan disebabkan kesalahan manusia (Manen and Frandsen 1998, Grabowski et al. 2000, Antao et al. 2006, Hetherington 2006, Rothblum 2006, Kujala et al. 2009). Kejadian tersebut disebabkan oleh human failure yang beragam, seperti kesalahan operasi, prosedur yang tidak tepat, kesalahan membaca instrumen, dan sebagainya. Dengan demikian, perlu dipertimbangkan tingkat keandalan manusia (human reliability) untuk memperhitungkan keandalan sistem secara keseluruhan (Bariyah, 2006).

Penentuan human failure dalam penelitian ini diolah berdasarkan penelitian Liu Zhengjiang(2001) dari World Maritime University Swedia yang me-review laporan kecelakaan tertulis dari berbagai lembaga negara pada tahun 1980-2000. Selain itu juga ditambahkan dengan laporan kecelakaan untuk wilayah Tg. Perak berdasarkan laporan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) divisi maritim (tahun 2003 dan 2009) serta berita acara persidangan olah Mahkamah Pelayaran tahun 2009.Proses penentuan human failure ini telah melalui proses diskusi yang dilakukan penulis dengan beberapa ahli dari Administrator Pelabuhan (Adpel) Tg. Perak divisi kecelakaan dan staf pengajar di Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya. Adapun human failure yang berhasil dihimpun adalah sebagai berikut :

  1. Kurang perencanaan sebelum keberangkatan.
  2. Gagal menilai situasi.
  3. Gagal mengambil tindakan awal.
  4. Gagal mengikuti alur pelayaran yang seharusnya.
  5. Tidak mematuhi aturan.
  6. Gagal mengendalikan kapal.
  7. Gagal berkomunikasi.
  8. Tidak mengenali spesifikasi kapal dengan baik.
  9. Tidak mengenali spesifikasi kapal baik.
  10. Gagal mengirimkan/menerima sinyal.

Bagaimana terjadinya peluang kegagalan ?

Kegagalan Manusia

Jika kita membandingkan frekuensi munculnya kegagalan dengan tingkat kebermaknaan suatu kegagalan berdasarkan relative weight yang telah dihitung sebelumnya, kita dapat mengetahui kegagalan apa yang memiliki peran terbesar dalam suatu tubrukan. Dengan mengadopsi risk matrix, dapat disajikan data seperti berikut.

Untuk studi kasus di Tg. Perak, frekuensi kegagalan manusia diambil berdasarkan tiga kasus tubrukan kapal berdasarkan hasil investigasi KNKT dan Mahkamah Pelayaran. Adapun tiga kasus tubrukan itu adalah :

Tubrukan antara MV. Uni Chart dan KM Mandiri Nusantara, 26 September 2003.

  1. Tubrukan KM Safira Nusantara dan KLM Jaya Mulia I, 25 Februari 2009.
  2. Tubrukan antara KM. Tanto Niaga dan KM. Mitra Ocean, 22 Mei 2009.

Bagaimana meminimalisir kegagalan manusia.

Rima Gusriana & Daniel M. (2010)

a)             Regulator / Pemerintah

  1. Meningkatkan pengawasan terhadap nahkoda yang memasuki alur wajib pandu (APBS).
  2. Pemberian peringatan kepada petugas/pejabat pengawas kapal di pelabuhan pemberangkatan dan/atau pelabuhan pengeluaran sertifikasi kapal yang menyalahi aturan keselamatan.
  3. Melakukan supervisi terhadap program pendidikan dan pelatihan pelaut.

b)            Regulator / Pemerintah

  1. Manajemen traffic di alur agar dilaksanakan dengan fasilitas VTIS (Vessel Traffic Information System) yang kondisinya diinformasikan ke kapal-kapal yang akan menggunakan alur tersebut.
  2. Fasilitator harus menyediakan alat pendeteksi kecepatan arus dan angin yang diinformasikan ke kapal-kapal yang akan berlabu.
  3. Kondisi keadaan alur diharapkan layak untuk dilayari kapal-kapal yang akan berlabu.

IV. Daftar Pustaka

  1. Administrator Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, 2010, Data Kunjungan dan Kecelakaan Kapal Tahun 1995-2010, Surabaya.
  2. Bariyah, Choirul, 2006, Aplikasi Human Reliability Assessment Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Benang pada PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Secang Magelang, Tesis, Jurusan Teknik Indutri FTI-ITS, Surabaya.
  3. Zhengjiang, Liu, 2001, Identifying and Reducing The Involvement of Human Element in Collision at Sea, Dissertation, Maritime Safety and Environmental Protection. World Maritime University, Sweden.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to STUDI KEANDALAN MANUSIA DALAM TUBRUKAN KAPAL

  1. Renan says:

    Maaf mas/mbak,
    Ini skripsi atau apa ya?
    Waktu itu dapat data dari KNKT melalui siapa?

  2. apligo says:

    Bukan skrisi Mas. Ini artikel tentang aspek keandalam manusia. Sumber data dari ADPEL Tanjung Priok Surabaya,bukan KNKT.terimakasih

  3. Wangi says:

    Salam,
    Saya ada beberapa pertanyaan nih:
    1. studi ini ada papernya kah? dimana saya bisa dapatkan papernya (jika ada)
    2. kira-kira, adakah studi-studi lain yang berkaitan dengan human failure pada kecelakaan kapal?
    3. prosedur mendapatkan data kecelakaan kapal dari ADPEL bagaimana yaa?
    4. bolehkah saya mengontak japri penulis? melalu apa yaa?

    mohon maaf karna ada banyak pertanyaannya.
    mohon tanggapannya..

    terimakasih sebelumnya.

    • apligo says:

      Mbak Wangi, coba saya jawab ya.
      1. Tulisan ini merupakan artikel yang ditulis dari beberapa sumber referensi. Bukan merupakan studi dan tidak ada papernya.
      2. Mohon maaf belum bisa kami jawab karena perlu membuka referensi lainnya.
      3. Rasanya mbak bisa langsung mengajukan permintaan data ke ADPEL, prosedurnya mestinya standar.
      4. Penulisnya sudah menyelesaikan studi, mohon maaf kami kehilangan kontak email penulis. bila ada, akan kami sampaikan.
      Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s