Augmented Reality dan Virtual Reality

Ditulis oleh Sandy Nugraha (2511 204 001), Mahasiswa Pascasarjana Teknik Industri ITS

Bedah saraf adalah bidang kedokteran yang terkait dengan pencegahan, diagnosis dan perawatan gangguan yang mempengaruhi system saraf keseluruhan termasuk otak, tulang belakang, saraf tulang belakang dan sistem ekstra-kranial serebrovaskular.

Bedah saraf merupakan salah satu keahlian bedah yang memiliki banyak membutuhkan perhatian. Dalam operasi, ahli bedah saraf harus mencari dan mengoperasi disekitar bagian penting yang kritis bagi kehidupan. Media yang digunakan untuk menampilkan struktur tubuh manusia, berupa gambar 2 dimensi.

Dengan teknologi terbaru, dimana diciptakan virtual reality untuk menghasilkan apresiasi struktur 3D. Sehingga terjadinya kesalahan dalam bedah saraf dapat dihindarkan. Selain untuk bedah saraf, teknologi virtual reality digunakan untuk pendidikan, perencanaan operasi, dan simulasi pasien secara virtual.

Bagaimana bedah saraf virtual reality dilakukan

Teknologi virtual reality adalah teknologi berbasis computer yang memungkinkan pengguna bertinteraksi dengan lingkungan maya yang disimulasikan secara real time. (Ari Budiyanto : 2011)

Dalam teknologi virtual reality, harus ada dua syarat yang harus ada didalamnya, yaitu :

  1. Gambar atau grafis atau penglihatan 3D yang nyata menurut perspektif penglihatan pengguna.
  2. Kemampuan untuk mendeteksi gerakan-gerakan pengguna, seperti gerakan kepala dan arah bola mata, agar grafis yang dihasilkan pada dunia nyatanya sesuai.

Bedah saraf dengan virtual reality dilakukan dengan menggambungkan semua gambar yang berhubungan seperti MRI, CT scan, venografi dan angiografi dimasukkan ke dalam sistem dekstroskopi untuk membentuk hasil komputer 3D.

Fungsi dan Kelebihan Teknologi AR &VR dalam animimasi dibanding

Keunggulan bedah saraf virtual reality yaitu :

  1. Tempat kerja virtual menghasilkan landasan interaktif virtual 3-D bagi ahli bedah saraf untuk merencanakan pembedahan.
  2.  Peralatan penggabungan gambar, pengkodean warna dan transparansi, segmentasi struktur manual dan otomatis seperti tumor otak, pengukuran kurva, linier, volumentrik juga stimulasi pembuangan jaringan tersedia.
  3. Penggunaan peralatan canggih ini berdasarkan scan aktual dan gambar pasien memberikan informasi penting tentang hubungan spasial individual struktur relevan pembedahan, yang dapat diekplorasi dan distimulasikan dengan pendekatan yang berbeda untuk membantu keputusan perencanaan pembedahan terbaik.
  4. Hasil akhirnya adalah perencanaan pembedahan yang sesuai dengan pasien.
  5. Dapat meningkatkan perawatan pasien, hasil pembedahan dan keamanan dalam bedah saraf.

Perangkat

Head Mounted Display

Terdapat dua tipe utama perangkat Head-Mounted Display (HMD) yang digunakan dalam aplikasi realitas tertambah, yaitu opaque HMD dan see-through HMD. Keduanya digunakan untuk berbagai jenis pekerjaan dan memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.

Opaque Head-Mounted Display

Ketika digunakan di atas satu mata, pengguna harus mengintegrasikan padangan dunia nyata yang diamati melalui mata yang tidak tertutup dengan pencitraan grafis yang diproyeksikan kepada mata yang satunya. Namun, ketika digunakan menutupi kedua mata, pengguna mempersepsikan dunia nyata melalui rekaman yang ditangkap oleh kamera. Sebuah komputer kemudian menggabungkan rekaman atas dunia nyata tersebut dengan pencitraan grafis untuk menciptakan realitas tertambah yang didasarkan pada rekaman.

See-Through Head-Mounted Display

Tidak seperti penggunaan opaque HMD, see-through HMD menyerap cahaya dari lingkungan luar, sehingga memungkinkan pengguna untuk secara langsung mengamati dunia nyata dengan mata.

Virtual Retinal Display

Virtual retinal displays (VRD), atau disebut juga dengan retinal scanning display (RSD), memproyeksikan cahaya langsung kepada retina mata pengguna. Tergantung pada intensitas cahaya yang dikeluarkan, VRD dapat menampilkan proyeksi gambar yang penuh dan juga tembus pandang, sehingga pengguna dapat menggabungkan realitas nyata dengan gambar yang diproyeksikan melalui sistem penglihatannya.

Tampilan Berbasis Layar

Apabila gambar rekaman digunakan untuk menangkap keadaan dunia nyata, keadaan realitas tertambah dapat diamati menggunakan opaque HMD atau sistem berbasis layar. Sistem berbasis layar dapat memproyeksikan gambar kepada pengguna menggunakan tabung sinar katoda atau dengan layar proyeksi. Dengan keduanya, gambar stereoskopis dapat dihasilkan dengan mengamati pandangan mata kiri dan kanan secara bergiliran melalui sistem yang menutup pandang mata kiri selagi gambar mata kanan ditampilkan, dan sebaliknya.

Referensi:

  1. Grabowski, M., Merrick, J. R. W., Harrald, J. R., Mazzuchi, T. A., van Dorp, J. R., 2000, “Risk Modelling in Distributed, Large-Scale Systems”, IEEE Transactions on System, Man, and Cybernetics – Part A : Systems and Human, 30(6) : 651-660.
  2. Bariyah, Choirul, 2006, Aplikasi Human Reliability Assessment Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Benang pada PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Secang Magelang, Tesis, Jurusan Teknik Indutri FTI-ITS, Surabaya.
  3. Zhengjiang, Liu, 2001, Identifying and Reducing The Involvement of Human Element in Collision at Sea, Dissertation, Maritime Safety and Environmental Protection. World Maritime University, Sweden.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s