Peranan Automatic Train Protection dalam Mengurangi Kemungkinan Kecelakaan Kereta Api Akibat Kelalaian Manusia

2511203704

Diawali dengan “Clapham Junction Rail Crash”  yang menyebabkan 56 manusia meninggal dunia (Glendon, A. Ian; Clarke, Sharon; McKenna, Eugene F. (2006)) dan dalam sehari terjadi dua kali collision crash (tabrakan antara dua bagian depan kendaraan, dalam hal ini lokomotif), maka tercetuslah suatu inspirasi akan suatu alat yang bermanfaat untuk menghindarkan manusia dari kecelakaan kereta api yang lebih parah. Kemudian terciptalah suatu alat perlindungan kereta api terintegrasi yang bernama Automatic Train Protection (ATP).

ATP (Automatic Train Protection) adalah suatu sistem yang melakukan relay terhadap informasi sinyal, kecepatan kereta yang secara otomatis dapat menurunkan kecepatan atau bahkan memberhentikan kereta jika batas kecepatan dicapai atau ketika mendekati sinyal STOP kecepatan kereta terlalu tinggi. (http://www.railsafe.org.au/section.jsp?id=8684). Pada prinsipnya,  ATP dapat menghentikan kereta api dengan otomatis, begitu sinyal tanda berhenti dilanggar. Baik oleh karena pelanggaran disengaja ataupun tidak disengaja. Otomatisasi ini terjalin melalui konektivitas antara perangkat di ruang kemudi di lokomotif, dan track balise atau sensor pergerakan kereta di lintas. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki manusia, alat ini diharapkan banyak membantu para pekerja di lini kereta api baik para operatornya dan para masinisnya.

Secara umum, sistem ATP dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Dengan proses-proses seperti dibawah ini:

—        Informasi umum tentang kereta api tersimpan di dalam ATP onboard equipment

—        Informasi terkirim dari ATP trackside equipment

—        Informasi trek kereta api diterima oleh ATP onboard equipment

—        Informasi kereta dan trek yang dilalui diproses oleh ATP onboard equipment

—        Jika kondisi bahaya terjadi, ATP equipment akan memberi tanda

(Sumber: A brief introduction to the RailCorp ATP system (NSW Transport RailCorp))

Keterbatasan-keterbasan manusia antara lain:

  1. Kurang cepatnya tangan masinis untuk mengubah sistem kontrol yang berisikan berbagai macam tombol yang juga terkadang ada kemungkinan dalam kesalahan penekanan tombol. Semisal kurang cepatnya responsi manusia untuk mengurangi kecepatan ketika hal tersebut diperlukan, seperti yang terjadi padaAmagasaki rail crash pada tahun 2005. (Japanese train crash kills dozens, http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/4480031.stm)
  2. Kurang familiarnya masinis, terutama masinis baru dalam pembacaan sinyal-sinyal yang terkait dengan lalu lintas kereta api. Dapat juga diakibatkan sinyal-sinyal tersebut sudah dalam keadaan kotor dan sulit untuk dibaca. Seperti yang terjadi pada Ladbroke Grove rail crash pada tahun 1999. (“Thames Trains fined £2m for Paddington crash”. The Guardian. 2004-04-05.)
  3. Keterbatasan dalam menyadari kemungkinan terkotorinya rel dengan tumpahan minyak atau pasir. Seperti yang terjadi pada kejadian Clementi train collision pada tahun 1993 (“Oil spillage led to MRT train collision: Panel”. The Straits Times. 20 October 1993.)

Dengan hadirnya sistem yang bernama ATP ini diharapkan tercapainya hal-hal berikut dibawah ini:

—        Berkurangnya ketergantungan kereta api di Indonesia pada faktor manusia, terutama untuk meningkatkan keselamatan (Pernyataan Direktur Keselamatan Ditjen Perkeretaapian Hermanto D, Rabu (29/2/2012))

—        Berkurang dan terkontrolnya kecepatan kereta ketika batas kecepatan tercapai

—        Memudahkan sang masinis melakukan setup terhadap kereta ketika kecepatan yang melebihi batas tercapai

—        Secara mental, dapat lebih menenangkan masinis karena ada alat yang bersifat preventif terhadap kecelakaan.

—        Meningkatkan kecepatan kinerja dari para operator dikarenakan sistem yang bersifat user-friendly pada ATP. Lebih sedikit tombol, lebih sedikit kemungkinan terjadi kesalahan pencet.

—        Terintegrasinya dengan lebih baik hubungan kerja antara operator dan masinis sehingga tercapai kesinambungan kerja yang lebih optimum dan lebih mengurangi kemungkinan kecelakaan.

Referensi

  1. Glendon, A. Ian; Clarke, Sharon; McKenna, Eugene F. (2006). Human Safety And Risk Management. CRC Press.
  2. A brief introduction to the RailCorp ATP system (NSW Transport RailCorp)
  3. G Riddington, M Beck and J Cowie.(2004) Evaluating train protection systems.
  4. http://www.railsafe.org.au/section.jsp?id=8684
  5. http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/4480031.stm
  6. “Thames Trains fined £2m for Paddington crash”. The Guardian. 2004-04-05.
  7. (“Oil spillage led to MRT train collision: Panel”. The Straits Times. 20 October 1993.)

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Peranan Automatic Train Protection dalam Mengurangi Kemungkinan Kecelakaan Kereta Api Akibat Kelalaian Manusia

  1. 2509100131_Mochamad Rifqi Alian says:

    Artikel yang informatif mengenai pencetusan ide ATP sebagai “program” preventive untuk antisipasi terjadinya kecelakaan KA. Latar belakang penggunaan ATP disampaikan dari kasus Clapham Junction Rail Crash yang membuat orang lebih aware, akibat terjadinya dua kali laka dalam sehari. Sayangnya pemahaman terkait kecelakaaan KA sebagai akibat kelalaian manusia belum mendapat fokus perhatian yang lebih serius. Kecelakaan KA tentunya dapat terjadi akibat berbagai alasan, dari lemahnya sistem hingga human error ini. Perlu pembahasan lagi yang kiranya menitikberatkan kasus-kasus laka akibat kelalaian di awal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s