Hubungan IPAC (In-Plant Access Control) dengan Pekerja-pekerja yang berkaitan dengan Departemen Logistik

2511203704

Tingginya cycle time, terutama di dalam lingkungan pabrik, tidak adanya sistem kontrol untuk mengetahui posisi truk-truk yang akan mengirimkan barang ke pelanggan, tidak adanya pelaporan masalah keterlambatan yang terintegrasi dengan system dan pelaporan logistik yang masih diproses manual yang sering menimbulkan kesalahan merupakan masalah-masalah yang seringkali dialami oleh departemen logistik(Howie, et al, 2000). Masalah-masalah tersebut tentunya akan berimbas kepada performansi departemen-departemen yang lain, dan hal tersebut akan menyebabkan rendahnya tingkat kepuasan pelanggan akibat ketidaktepatwaktuan pengiriman barang.

Setelah ditilik lebih dalam dengan teliti, faktor manusia sangatlah berpengaruh dalam tidak tercapainya target-target yang diinginkan. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Ketidakteraturan para pekerja logistik (terutama dari pihak ketiga) dan ketidakmauan mereka untuk mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan perusahaan.
  2. Keengganan para transporters untuk melakukan antri sesuai kedatangan. Terkadang ada transporters yang tidak mau antri kedatangan atau mungkin merasa mereka datang lebih dulu karena memarkirkan mobil terlebih dahulu.
  3. Ketidakpatuhan transporters untuk mengambil barang sesuai tempat yang diperintahkan. Apabila ada suatu gudang 1 dan gudang 2 yang menyediakan barang yang sama dan suatu transporter ingin mengambil barang tersebut. Mereka sudah diperintahkan untuk mengambil di gudang 1, namun karena gudang 1 antrinya panjang, merka secara sepihak meminta barang di gudang 2. Hal ini dapat mempengaruhi neraca material di gudang-gudang tersebut.
  4. Kesalahan pencatatan data secara manual, karena manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Dapat diakibatkan kesalahan pembacaan data oleh mata, kurang terampilnya dalam pengetikan dan jumlah data yang banyak juga meningkatkan kemungkinan kesalahan yang dilakukan oleh karyawan-karyawan terkait.
  5. Kecurangan dalam perhitungan keluar-masuknya barang yang mungkin dilakukan oleh petugas yang berkaitan. Dengan tidak terdatanya keluar-masuknya material, ada kemungkinan petugas menambahkan atau mengurangi jumlah material yang dimasukkan ke dalam truk.

Sebuah sistem berbasis RFID (Radio Frequency Identification) yang bernama IPAC menawarkan suatu solusi yang bisa menyelesaikan masalah-masalah terkait. Sistem ini dapat mendeteksi keberadaan truk-truk ketika memasuki lingkungan pabrik dan melakukan pencatatan di enam titik utama Gate-In (pintu masuk), Check-In (tempat parkir/antrian), Weigh-In (tempat penimbangan berat kosong), Loading (tempat pengisian), Weigh-Out (tempat penimbangan berat isi) dan Gate-Out (pintu keluar) sehingga dapat mendeteksi daerah-daerah yang menghabiskan waktu paling banyak dan dengan diketahuinya masalah, maka prioritas tindak lanjut akan lebih mudah difokuskan.

Sistem ini terintegrasi langsung dengan SAP dan dapat meminimalisir kesalahan-ke.salahan yang bersifat manusiawi, terutama dalam hal pencatatan data (Plaisant, Catherine andShneiderman, Ben (2007)) Tak hanya itu, kemungkinan kecurangan-kecurangan yang dapat dilakukan oleh pegawai juga bisa ditekan karena penimbangan berat kosong dan berat bersih terintegrasi langsung dengan system, hal ini tidak dapat dimanipulasi. Sifat-sifat tidak mau antri atau mematuhi peraturan juga dapat dikurangi dengan adanya sistem ini, karena begitu kartu digesekkan, maka akan tercatat waktu masuk yang tidak dapat dipungkiri lagi dan mau tidak mau mereka harus antri. Dalam setiap penggesekan kartu juga akan memilihkan truk-truk terkait untuk menuju ke suatu tempat untuk pengambilan barang, jadi truk-truk tersebut tidak bisa seenaknya memilih tempat untuk mengambil barang, semisal menghindari antrian panjang da nada suatu tempat yang relatif lebih sepi yang memiliki barang serupa.

Semakineratnyajaringanlogistikdanteknologiinformasimeningkatkanefekketergantungan.Pentingsekaliuntukmelakukan backup data secaraberkaladanproteksi data yang tidakrentanakanpembajakan (Chatfield, Akemi Takeoka and Wamba, Samuel Fosso, (2009)).Kurangfamiliarnyaparapekerjaakansistemini, terutamapekerja-pekerja yang berpendidikantidakterlalutinggiatau orang lama yang kurang familiar dengansistemkomputasijugabisamenjadimasalahdalampenerapansistemini. Olehkarenaitu, pelatihan-pelatihanakansistemkomputasiterhadapkaryawan-karyawan yang masihlemahdalampengoperasiankomputerperludilakukansecaraberkaladanpemetaankaryawan-karyawan yang fahamkomputer di area inisangatperludilakukan, setidaknyauntuktahunpertama, dalamrangkamembantukaryawan-karyawan yang lemahpemahamannya.

Referensi

  1. Chatfield, Akemi Takeoka and Wamba, Samuel Fosso, (2009). AcontingencymodelforcreatingvaluefromRFIDsupplychainnetworkprojectsinlogisticsandmanufacturingenvironments.EuropeanJournalofInformationSystems (18), 615-636.
  2. Plaisant, Catherine andShneiderman, Ben (2007).Designing the User Interface: strategies for Effective Human-computer Interaction. International Journal of e-Collaboration, 3(2), 53-58.
  3. Howie, Edward;Sy, Sharleen;Ford, Louisa;Vicente, Kim J. Human – computer interface design can reduce misperceptions of feedback.System Dynamics Review; Autumn 2000; 16, 3; ABI/INFORM Complete.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s