Environmental Assessment – Upaya Mengurangi Dampak Kebisingan di Pabrik bagi Pekerja

Oleh 2508100045

Sebuah pabrik biasanya memiliki beberapa mesin untuk menjalankan proses produksinya. Pada saat bekerja, mesin-mesin tersebut biasanya mengeluarkan bunyi yang sangat bising. Hal ini sangat mengganggu kinerja dari karyawan pabrik tersebut. Pekerja menjadi kurang berkonsentrasi dalam bekerja. Bahkan jika kebisingan terjadi dalam intensitas yang sangat tinggi dapat menyebabkan pengaruh yang buruk bagi para pekerja. Hal ini dapat berakibat menurunkan produktivitas pekerja sehingga perusahaan juga mengalami kerugian.

Kebisingan dapat diartikan sebagai bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan, serta dapat menimbulkan ketulian. Kebisingan dapat dihasilkan dari suara mesin yang sedang berproduksi, kendaraan yang berlalu lalang di pabrik, dan lain-lain.

Salah satu contoh perusahaan yang menghasilkan kebisingan dalam operasi kerjanya adalah PT Pupuk Kalimantan Timur. Berdasarkan penelitian tesis yang dilakukan oleh Agus Jaya Saputra dari program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang, dapat diketahui hasil kajian yang memeperlihatkan tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh pabrik tersebut. Diantaranya adalah tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh peralatan di area compressor house pabrik Kaltim-1 adalah 98,8 dBA, Kaltim-2 adalah 98,7 dBA, Kaltim-3 adalah 96,8 dBA, dan Kaltim-4 adalah 92,1 dBA. Padahal spesifikasi awal tingkat kebisingan yang diatur oleh perusahaan adalah 13,4 dB untuk Kaltim-1, 10,7 dB untuk Kaltim-2, 8,8 dB untuk Kaltim-3, dan 4 dB untuk Kaltim-4.

Sedangkan menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51/MEN/1999, lama kebisingan yang diperbolehkan setiap harinya adalah sebagai berikut.

Lama Kebisingan yang Diperbolehkan/hari (jam)

Tingkat Kebisingan Maksimum (dBA)

8

85

4

88

2

91

1

94

0,5

97

0,25

100

Di PT Pupuk Kalimantan Timur, setiap pekerja bekerja dalam satu shift setiap harinya. Satu shift kerja di perusahaan ini adalah 8 jam. Jadi, jika mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51/MEN/1999, seharusnya pabrik di perusahaan tersebut hanya menghasilkan kebisingan sebesar 85 dBA. Akan tetapi, berdasarkan data yang ada, dapat ditunjukkan bahwa semua pabrik melampaui batas wajar yang dianjurkan oleh pemerintah. Hal ini tentunya akan mendatangkan dampak yang buruk bagi para pekerja.

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh kebisingan yang melampaui batas kewajaran antara lain sebagai berikut.

1. Gangguan Fisiologis

Gangguan fisiologis merupakan gangguan yang menyerang keadaan fisik pekerja. Tubuh pekerja menjadi tidak dalam kondisi yang cukup baik untuk melakukan pekerjaannya. Jika diabaikan, maka akan berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan kerja baik bagi pekerja tersebut maupun pekerja lainnya.

•       Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.

•       Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala. Hal ini disebabkan bising dapat merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga dalam yang akan menimbulkan evek pusing/vertigo.

•       Perasaan mual,susah tidur dan sesak nafas disebabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ, kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan keseimbangan elektrolit.

2. Gangguan Psikologis

—  Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan lain-lain.

Jika gangguan psikologis ini dialami oleh para pekerja di pabrik, maka produktivitas dari para pekerja tersebut akan berkurang. Selain itu, faktor kurangnya konsentrasi juga dapat membuat pekerja tidak memberikan perhatian yang penuh pada pekerjaannya dan keselamatan kerjanya. Hal ini dapat menimbulkan kecelakaan kerja yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut dan pekerja lainnya.

3. Gangguan Komunikasi

—  Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan keselamatan seseorang, baik pekerja tersebut maupun pekerja lainnya.

4. Gangguan Keseimbangan

—  Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. Jika hal ini dibiarkan terjadi, maka akan mengganggu keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja tersebut maupun pekerja lainnya.

5. Efek pada pendengaran

—  Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara umum dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran adalah sementara dan pemuliahan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising dihentikan. Akan tetapi apabila bekerja terus-menerus di area bising maka akan terjadi tuli menetap dan tidak dapat normal kembali, biasanya dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan

—  Berikut adalah efek yang dapat ditimbulkan kebisingan pada pendengaran manusia.

1. Tuli sementara (Temporaryt Treshold Shift =TTS)

Diakibatkan pemaparan terhadap bising dengan intensitas tinggi. Seseorang akan mengalami penurunan daya dengar yang sifatnya sementara dan biasanya waktu pemaparan terlalu singkat. Apabila tenaga kerja diberikan waktu istirahat secara cukup, daya dengarnya akan pulih kembali.

2. Tuli Menetap (Permanent Treshold Shift =PTS)

Diakibatkan waktu paparan yang lama (kronis), besarnya PTS di pengaruhi faktor-faktor sebagai berikut :

a. Tingginya level suara

b. Lama paparan

Untuk mengurangi dampak yang dihasilkan akibat kebisingan di lingkungan kerja, dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut.

  1. Pengendalian pada sumber bising yaitu dengan mengurangi tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh suatu mesin. Misalnya dengan menggunakan mesin-mesin dengan tingkat bising yang rendah, menempatkan mesin-mesin yang menghasilkan suara bising jauh dari jangkauan manusia, atau menutup sumber bising tersebut.
  2. Pengendalian pada medium, yaitu yang menjadi perantara kebisingan. Misalnya merancang penghalang akustik, peredam suara, atau memutus jalur getaran melalui struktur dengan memasang vibration absorber.
  3. Pengendalian pada penerima, yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi dampak kebisingan secara langsung. Alat pelindung diri yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak kebisingan antara lain earplug atau earmuff.

Dampak kebisingan akan dapat benar-benar dikurangi jika ada kerja sama yang baik antara pekerja dan manajemen dari perusahaan tersebut. Manajemen dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait mesin produksi yang digunakan agar tidak menimbulkan kebisingan yang signifikan. Selain itu, perusahaan juga harus menyediakan alat pelindung diri yang aman dan nyaman dipakai oleh para pekerja sehingga kebisingan tidak akan mengganggu pekerjaan mereka. Sedangkan dari pekerja sendiri seharusnya memiliki inisiatif untuk selalu menggunakan alat pelindung diri di area yang memiliki tingkat kebisingan tinggi sehingga dampak kebisingan yang ditimbulkan dapat diminimalisisr. Dengan menggunakan alat pelindung diri, pekerja akan lebih berkonsentrasi dan keselamatan kerjanya menjadi lebih terjamin.

Referensi

Saputra, Agus Jaya. 2007. Analisis Kebisingan Peralatan Pabrik dalam Upaya Peningkatan Penataan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Pupuk Kaltim. Semarang : Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro

Anonimous. 1999. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-51/MEN/1999. Jakarta : Baku Tingkat Kebisingan.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Environmental Assessment – Upaya Mengurangi Dampak Kebisingan di Pabrik bagi Pekerja

  1. 2509100073_Rifatul Mufianah says:

    kebisingan lingkungan kerja memang dapat mempengaruhi kinerja orang di dalamnya.. mungkin ketika mengembangkan teknologi sebuah mesin kerja, perlu diperhatikan juga seberapa besar tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh mesin tersebut, dan kemudian perlu dikembangkan teknologi untuk meredam kebisingannya..

    dan mungkin artikel ini lebih bagus lagi apabila diperjelas upaya apa aja yang dapat mengurangi dampak kebisingan di pabrik bagi pekerja, contohnya alat pelindung diri apa saja yang seharusnya digunakan untuk mengatasi kebisingan lingkungan kerja, kemudian kebijakan apa yang seharusnya dikeluarkan perusahaan. bisa juga diberikan contoh perusahaan apa yang memiliki kondisi lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan yang baik dan apa saja kebijakan managemen mereka dan perlakuan apa saja yang dilakukan untuk mengatasi kebisingan di lingkungan kerja…

    CMIIW🙂

  2. Artikel yang cukup menarik menurut saya. Menurut saya, ada kesalahan baik dari segi manajemen perusahaan maupun dari segi karyawan/operator di pabrik. Yang pertama dari segi manajemen yang telah jelas-jelas melanggar kebijakan pemerintah terkait tingkat kebisingan yang diizinkan. untuk kasus ini mungkin perusahaan ingin menekan cost untuk investasi mesin pabrik yang menghasilkan kebisingan masih dalam standar yang diperbolehkan oleh pemerintah, oleh karena itu manajemen memutuskan membeli mesin yang tidak memenuhi standar. Mungkin menurut manajemen mereka telah melakukan hal yang benar dari segi biaya investasi (investasi yang lebih rendah dalam membuat fasilitas-fasilitas lain untuk menormalkan tingkat kebisingan), namun domino effectnya dapat dirasakan oleh pihak manajemen ke depannya karena mulai munculnya banyak keluhan pada karyawan yang dapat menurunkan produktivitas karyawan yang tentunya sangat merugikan perusahaan dan karyawan sendiri. Banyak biaya-biaya lain yang harus ditanggung oleh perusahaan. Menurut saya sebaiknya perusahaan mempedulikan kinerja dan kesehatan karyawannya dengan memenuhi satandar tingkat kebisingan yang diijinkan dan mematuhi kebijakan pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s