Pengaruh Temperatur Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

Oleh : 2508100035

Suatu siang disalah satu ruang kerja perusahaan X.

Andi: Duh, ruangan ini makin lama berasa makin panas aja yah.

Rani: Iya, jam-jam segini mesti kita mandi keringat terus, mana bisa kerja dengan nyaman   kalau kondisi ruangannya seperti ini.

Diki: Seharusnya perusahaan kita paling tidak memasang AC atau minimal kipas angin agar kita semua dapat bekerja dengan nyaman di ruangan ini.

Andi: Betul sekali itu, dengan adanya AC atau kipas angin pasti kita dapat bekerja dengan lebih produktif lagi.

Rani: Setuju!!

Suatu malam disalah satu ruang kerja perusahaan Y.

Doni: Kalian merasa kedinginan tidak saat ini ?

Indri: Iya nih, makin malem makin dingin aja.

Santi: Tapi kita tidak dapat berbuat apa-apa, temperatur AC di ruangan ini khan sudah diatur oleh pihak sentral, jadi kita tidak dapat menaikkan ataupun menurunkan temperatur AC di ruangan ini.

Riko: Kalau kondisinya dingin-dingin seperti ini bikin kita ngantuk saja, jadi kurang konsentrasi melakukan pekerjaan ini.

Doni: Betul, seharusnya pihak perusahaan khan tau kalau dalam kondisi ruangan yang sedingin ini kita akan lebih mudah merasa ngantuk, dan membuat produktivitas kerja kita semakin menurun.

Sebenarnya, apakah temperatur di lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan perusahaan ?

Apakah suhu yang panas dapat menurunkan produktivitas pekerja dan suhu yang terlalu dingin juga dapat menurunkan produktivitas pekerja, dan bagaimana menetapkan suhu ruangan kerja yang pas agar dapat meningkatkan produktivitas pekerja ?

Hal-hal inilah yang akan dibahas disini.

Lingkungan kerja fisik, apa sih lingkungan kerja fisik itu ?

Lingkungan kerja fisik merupakan segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembannya. Lingkungan kerja fisik yang kondusif  akan memberikan rasa aman dan memungkinkan para karyawan untuk dapat bekerja lebih optimal. Jika seorang pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka karyawan tersebut akan betah berada di tempat kerjanya untuk melakukan segala aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan prestasi kerja karyawan tersebut juga akan meningkat.

Faktor-faktor lingkungan fisik ini mencakup suhu, udara, kebisingan, dan penerangan ditempat kerja. Faktor-faktor fisik inilah yang akan sangat mempengaruhi kinerja dari karyawan yang ada berada ditempat kerja tersebut. Salah satu faktor yang akan dibahas kali ini adalah masalah suhu atau temperatur lingkungan kerja.

Peningkatan suhu dapat menghasilkan kenaikan prestasi kerja, namun disisi lain dapat pula menurunkan prestasi kerja. Kenaikan suhu pada batas tertentu dapat menimbulkan semangat yang akan merangsang prestasi kerja, tetapi setelah melewati ambang batas tertentu kenaikan suhu ini sudah mulai mengganggu suhu tubuh yang dapat mengakibatkan terganggunya prestasi kerja.

Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan secara aktif untuk dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim. Misalnya saja kita dapat memakai pakaian kulit buatan/jaket bulu untuk mengatur isolasi termal ketika kita merasa dingin, apabila kita merasa panas kita dapat memakai penyejuk ruangan (AC). Yang terpenting adalah mengkondisikan ruangan kerja agar setiap pekerja didalamnya dapat merasa nyaman bekerja tanpa merasakan gangguan panas atau dingin.

Apa akibatnya bila bekerja dikondisi ekstrem ?

Apa akibatnya hanya kepanasan dan berkeringat saja atau hingga dapat menyebabkan kematian ?

Kondisi ekstrem pada lingkungan kerja sebaiknya dihindari, karena tekanan/terpaan panas yang mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan berbagai permasalahan kesehatan hingga kematian. Kematian tersebut diakibatkan oleh berbagai penyakit yang diakibatkan oleh terpaan panas pada tubuh. Berbagai penyakit tersebut meliputi:

  • Heat Rash merupakan gejala awal dari yang berpotensi menimbulkan penyakit akibat tekanan panas. Penyakit ini berkaitan dengan panas, kondisi lembab dimana keringat tidak mampu menguap dari kulit dan pakaian. Penyakit ini mungkin terjadi pada sebgaian kecil area kulit atau bagian tubuh. Meskipun telah diobati pada area yang sakit produksi keringat tidak akan kembali normal untuk 4 sampai 6 minggu.
  • Heat Syncope adalah ganggunan induksi panas yang lebih serius. Ciri dari gangguan ini adalah pening dan pingsan akibat berada dalam lingkungan panas pada waktu yang cukup lama.
  • Heat Cramp merupakan penyakit yang menimbulkan gejala seperti rasa nyeri dan kejang pada kakai, tangan dan abdomen banyak mengeluarkan keringat. Hal ini disebabkan karena ketidak seimbangan cairan dan garam selama melakukan kerja fisik yang berat di lingkungan yang panas.
  • Heat Exhaustion merupakan penyakit yang diakibatkan oleh berkurangnya cairan tubuh atau volume darah. Kondisi ini terjadi jika jumlah air yang dikeluarkan seperti keringat melebihi dari air yang diminum selama terkena panas. Gejalanya adalah keringat sangat banyak, kulit pucat, lemah, pening, mual, pernapasan pendek dan cepat, pusing dan pingsan. Suhu tubuh antara (37°C – 40°C).
  • Heat Stroke merupakan penyakit gangguan panas yang mengancam nyawa yang terkait dengan pekerjaan pada kondisi sangat panas dan lembab. Penyakit ini dapat menyebabkan koma dan kematian. Gejala dari penyakit ini adalah detak jantung cepat, suhu tubuh tinggi 40o C atau lebih, panas, kulit kering dan tampak kebiruan atau kemerahan, tidak ada keringat di tubuh korban, pening, menggigil, mual, pusing, kebingungan mental dan pingsan.
  • Multiorgan-dysfunction Syndrome Continuum merupakan rangkaian sindrom/gangguan yang terjadi pada lebih dari satu/ sebagian anggota tubuh akibat heat stroke, trauma dan lainnya.

Berikut akan ditunjukkan kondisi-kondisi manusia dimana suhu tubuhnya terlalu tinggi dan terlalu rendah.

Keadaan Kondisi Tubuh Saat Kondisi Panas:

  • 37°C (98.6°F) – Suhu tubuh normal (36-37.5°C / 96.8-99.5°F).
  • 38°C (100.4°F) – berkeringat, sangat tidak nyaman, sedikit lapar.
  • 39°C (102.2°F) – Berkeringat, kulit merah dan basah, napas dan jantung bedenyut kencang, kelelahan, merangsang kambuhnya epilepsi.
  • 40°C (104°F) – Pingsang, dehidrasi, lemah, sakit kepala, muntah, pening dan berkeringat.
  • 41°C (105.8°F) – Keadaan gawat. Pingsan, pening, bingung, sakit kepala, halusinasi, napas sesak, mengantuk mata kabur, jantung berdebar.
  • 42°C (107.6°F) – Pucat kulit memerah dan basah, koma, mata gelap, muntah dan terjadi gangguan hebat. Tekanan darah menjadi tinggi/rendah dan detak jantung cepat.
  • 43°C (109.4°F) – Umumnya meninggal, kerusakan otak, gangguan dan goncangan hebat terus menerus, fungsi pernafasan kolaps.
  • 44°C (111.2°F) or more – Hampir dipastikan meninggal namun ada beberapa pasien yang mampu bertahan hingga diatas 46°C (114.8°F).

Keadaan Tubuh Saat Kondisi Dingin:

  • 37°C (98.6°F) – Suhu tubuh normal (36-37.5°C / 96.8-99.5°F).
  • 36°C (96.8°F) – Menggigil ringan hingga sedang.
  • 35°C (95.0°F) – (Hipotermia suhu kurang dari 35°C / 95.0°F) – Menggigil keras, kulit menjadi biru/keabuan. Jantung menjadi berdegup.
  • 34°C (93.2°F) – Mengggil yang sanagat keras, jari kaku, kebiruan dan bingung. Terjadi perubahan perilaku.
  • 33°C (91.4°F) – Bingung sedang hingga parah, mengantuk, depresi, berhenti menggigil, denyut jantung lemah, napas pendek dan tidak mampu merespon rangsangan.
  • 32°C (89.6°F) – Kondisi gawat. Halusinasi, gangguan hebat, sangat bingung, tidur yang dalam dan menuju koma, detak jantung rendah , tidak menggigil.
  • 31°C (87.8°F) – Comatose, tidak sadar, tidak memiliki reflex, jantung sangat lamabat. Terjadi gangguan irama jantung yangs serius.
  • 28°C (82.4°F) – Jantung berhenti berdetak pasien menuju kematian.
  • 24-26°C (75.2-78.8°F) or less – Terjadi kematian namun beberapa pasien ada yang mampu bertahan hidup hinggan dibawah 24-26°C (75.2-78.8°F).

“Pengaruh temperatur sekitar terhadap fokus dan kinerja karyawan NASA”

NASA mempublikasikan sebuah studi tentang salah satu peyebab berkurangnya kemampuan fokus dan kinerja karyawan. Dalam majalah EHS Magazine, dikutip sebuah Studi NASA terhadap kinerja para operator telegraph key yang menunjukkan beberapa hasil yaitu:

  • Pada suhu 26°C, para operator membuat kesalahan 5 kali dalam satu jam dan 19 kesalahan setelah 3 jam
  • Pada suhu 32°C, para operator membuat 9 kesalahan per jam dan 27 kesalahan setelah 3 jam.
  • Pada suhu 35°C, para operator membuat 60 kesalahan per jam dan 138 kesalahan setelah 3 jam.

Walaupun kesalahan kesalahan operator tersebut tidak terlalu signifikan, namun lingkungan kerja dengan suhu panas tadi akan menghasilkan kesalahan yang setara dengan jenis pekerjaan sejenis.

Dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa ruangan kerja para operator harus dibuat senyaman mungkin agar para operator juga dapat menyelesaikan tugasnya dengan maksimal. Untuk menentukan suhu ruangan yang pas, memang tidaklah mudah karena semua itu juga bergantung pada kondisi tubuh masing-masing operator yang akan bekerja di ruangan tersebut. Tetapi paling tidak, pihak perusahaan dapat melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui suhu ruangan yang paling pas agar operator di ruangan tersebut dapat berkerja secara maksimal.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Pengaruh Temperatur Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

  1. mbah kuwu cakrabuana says:

    Mas Admin.. Numpang tanya, adakah standar mengenai lama waktu bekerja pada suhu udara tertentu (bukan isbb)..

    Jadi misalkan, dalam kondisi suhu ruanga 37 C, seorang karyawan hanya boleh melakukan pekerjaan selama sekian jam..

    • apligo says:

      Temperatur atau Suhu Udara pada ruang kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi energi seseorang. Ukuran berapa lama waktu kerja yang ideal sesuai dengan kehandalan seseorang dan konsumsi energinya. Beban kerja (fisik dan mental) seseorang menjadi salah faktor utama yg dipertimbangkan dalam mengukur waktu kerja. Jadi faktor suhu saja tidak cukup untuk mengukur waktu kerja optimal.

  2. Faly Arnando says:

    Kinerja karyawan memang benar dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Manusia pada dasarnya dapat beradaptasi dengan lingkungan namun ada batasnya. Apabila kondisi lingkungan tidak mendukung (misal suhu ruangan terlalu panas atau dingin), maka karyawan akan mengalami gangguan fisik seperti badan menggigil, berkeringat, jantung berdegup, dan lain-lain. Kondisi karyawan tersebut akan membuat karyawan tidak dapat fokus melakukan pekerjaannya sehingga berkemungkinan melakukan kesalahan. Pada Human Reliability, dilakukan analisa untuk melakukan seberapa jauh keandalan sumber daya manusia dan perancangan sistem agar lingkungan dapat disesuaikan dengan kondisi karyawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s