Hierarchical Task Analysis in Your Activity and Your Life

Oleh: 2508.100.158

Dalam kesehariannya, manusia tidak akan pernah lepas untuk  “beraktivitas“. Apapun bentuknya, manusia akan senantiasa beraktivitas untuk berbagai tujuan, misalnya mencari nafkah (pekerjaan), menyelesaikan tugas (project), sekadar olah tubuh untuk menjaga kebugaran, dan sebagainya. Di dalam aktivitas tersebut, tentunya terjadi berbagai macam gerakan tubuh untuk menginterpretasikan tujuan yang ingin dicapai. Di dalam studi keilmuan ergonomi, aktivitas manusia berikut gerakan-gerakan tubuh yang dihasilkannya dipelajari dalam suatu topik khusus, yaitu “Hierarchical Task Analysis (HTA)”.

HTA (Hierarchical Task Analysis) dikembangkan pertama kali pada tahun 1960 oleh Annet & Duncan (Annet & Duncan, 1967; Annet, Duncan, Stammers, dan Gray, 1971: Cunningham & Duncan, 1967) yang bertujuan untuk mengatasi keterbatasan analisis kerja (task) dari metode pengukuran kerja motion-time-study. Keterbatasan tersebut terletak pada analisis pekerjaan (task) yang sifatnya non-repetitif kognitif. Pada awalnya, metode HTA ini digunakan sebagai pengendali proses kerja pada Industri Baja dan Petrokimia. Seiring berjalannya waktu, maka sampai saat ini metode HTA ini telah berkembang dan digunakan sebagai metode pengukuran kerja dalam berbagai bidang, misalnya Human Interface Design, analisis error (baik individu maupun kelompok) pada Industri Pembangkit Listrik (sebagai sistem kendali dan petunjuk), dan sebagainya (Ainsworth & Marshall, 1998; Kirwan &  Ainsworth, 1992; Shepherd, 2001).

Pada dasarnya, metode HTA merupakan proses untuk menguraikan (memecah) suatu task menjadi sub-task tertentu ke dalam beberapa level task secara detail. Setiap sub-task (atau dalam hal ini disebut operasi) dapat dispesifikkan lagi lebih detail untuk mencapai suatu tujuan (goal) tertentu, yang bergantung pada input kondisi yang akan mempengaruhi tujuan yang ingin dicapai. Action menjadi parameter untuk mencapai goal (tujuan), sedangkan feedback mengindikasikan pencapaian tujuan (goal) yang berhasil dicapai. Hubungan antara sub-task dan superordinat task dapat didefinisikan sebagai “plan” dan beberapa tipe “plan” dapat dibedakan menjadi suatu prosedur, aturan-aturan yang selektif, dan time-sharing. Pada dasarnya tujuan dari analisis dengan metode HTA adalah untuk mengidentifikasi kondisi aktual dari suatu task tertentu dan juga dapat menganalisis kecenderungan terjadinya error atas pengerjaan task tersebut, sehingga dapat diusulkan perulangan (remedial) dengan cara memodifikasi task tersebut melalui beberapa cara, misalnya redesign task dan atau proses training atas task tertentu. HTA mungkin lebih baik dapat dilihat sebagai strategi pembreakdownan task secara sistematis untuk dapat digunakan dalam berbagai konteks masalah dan tujuan yang berbeda yang masih dalam scope human factors enterprise (Shepherd, 1998). Sejarah asal mulanya HTA dapat digambarkan pada bagan sebagai berikut :

Gambar 1. Sejarah HTA

Beberapa tujuan dari HTA diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Memecahkan suatu task menjadi sub-task dalam level dan detail tertentu; serta
  2. Mengatasi keterbatasan metode pengukuran kerja klasik, yaitu timeandmotion study dalam menganalisis pekerjaan (task) yang non-repetitif kognitif.

Beberapa terminologi (Istilah) yang kemungkinan akan dikenal dalam HTA, diantaranya:

Analysis

 Analysis merupakan suatu prosedur yang bertujuan untuk :

–   Mengidentifikasi sumber kesalahan (error) dari masalah performansi task yang dikerjakan; dan

–   Mengusulkan solusi dari permasalahan performansi tersebut.

Description

Description merupakan daftar tindakan atau proses fisik (kognitif) yang terlibat dalam pelaksanaan suatu pekerjaan (task).

Task

 Task merupakan bagian dari aktivitas (pekerjaan) yang harus dilakukan.

Goals

 Goals merupakan ambisi atau usaha (effort) untuk menyelesaikan suatu pekerjaan (task) tertentu sesuai dengan target yang telah ditentukan.

Decompotition

Decompotition merupakan suatu proses yang mem-break down tujuan utama menjadi beberapa kegiatan yang bisa mencapai tujuan tersebut. Aktivitas ini meliputi beberapa hal sebagai berikut :

  1. Identifikasi tujuan dari suatu proses yang telah ditentukan oleh beberapa kriteria, contoh tiba di suatu tujuan (acara) dengan usaha yang minimum dan tanpa kecelakaan; dan
  2. Aktivitas yang terdiri dari identifikasi subtujuan dalam rute yang dapat diambil untuk mencapai tujuan proses secara keseluruhan.

Redescription

Redescription merupakan suatu cara untuk mencari sumber kesalahan (error) dari suatu sistem general, baik yang berupa potensi maupun yang sebenarnya terjadi, yang dapat mengakibatkan kegagalan dalam mencapai subtujuan tertentu.

Plans

Plans merupakan cara yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Apabila cara pertama dirasa masih belum bisa memenuhi tujuan secara maksimal, diperlukan suatu alternatif atau cara yang lain.

Stop Rule

 Stop Rule merupakan model (bentuk) penghentian dari aktivitas (kerja) yang sedang dilakukan. Ada dua kemungkinan (klasifikasi) stop rule (kegiatan penghentian) ini dapat dilakukan, yaitu :

–  Berhenti ketika semua informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan analisis telah dipenuhi; dan

–  Berhenti ketika probabilitas (peluang) kegagalan dan biaya kegagalan produk dinilai telah dapat diterima.

Berikut ini akan ditampilkan metodologi yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu aktivitas dengan pendekatan HTA (7 steps):

Gambar 2. Metodologi HTA

Beberapa kelebihan (keunggulan) dari HTA (Hierarchical Task Analysis) adalah sebagai berikut :

  1. Mudah dan sistematis dalam pengorganisasian informasi (task);
  2. Dijadikan dasar dalam mendeteksi adanya kecenderungan terjadinya error dalam task yang dikerjakan;
  3. Menyediakan konteks informasi untuk pendekatan task yang lain;
  4. Mampu memadukan task dengan orang yang melakukan task tersebut; dan
  5. Mempermudah koreksi (pengecekan) pada tiap-tiap elemen task yang dikerjakan.

Sedangkan kekurangan (kelemahan) dari HTA (Hierarchical Task Analysis) adalah sebagai berikut :

  1. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membreakdown task dalam beberapa level;
  2. Harus memiliki keahlian yang tinggi (expert) dalam melakukan breakdown dari sebuah task; dan
  3. Melibatkan banyak komponen (stakeholder), baik itu operator, manajer, maupun engineer.

HTA sangat berguna dalam berbagai bidang (disiplin keilmuan), misalnya bidang kesehatan (pharmacy). Berikut ini akan dijelaskan  penggunaan HTA dalam proses administrasi obat di suatu RS:

               Gambar 3. HTA Proses Administrasi Obat di RS

Contoh HTA di atas adalah proses administrasi obat di sebuah rumah sakit (RS). Tujuan utama dari HTA ini adalah untuk membreakdown segala aktivitas yang menyertai proses administrasi obat di suatu rumah sakit, berikut juga menganalisis kemungkinan terjadinya error (kesalahan) atas aktivitas tersebut. Aktivitas-aktivitas error yang mungkin terjadi ditandai dengan blok merah (pada gambar diagram HTA di atas). Untuk mencapai tujuan ini diperlukan beberapa langkah cara yang harus dipenuhi. Langkah-langkah serta pendetailan cara telah ditampilkan pada gambar diagram di atas.

HTA (hierarchical task analysis) pada prinsipnya merupakan tools atau metode yang dapat membantu menguraikan aktivitas (kerja) yang dilakukan manusia. Dengan bantuan HTA, maka kita akan memperoleh berbagai macam keuntungan, diantaranya :

-Memperoleh gambaran yang jelas terhadap aktivitas berikut elemen-elemen pendukung yang sedang dikerjakan;

-Mengetahui tujuan aktivitas secara detail;

-Mampu mencari alternatif-alternatif aktivitas  yang dapat dilakukan, terutama untuk mempermudah pekerjaan;

-Mampu menganalisis kecenderungan terjadinya kesalahan (error) atas aktivitas yang sedang dikerjakan; dan

-Mampu mengidentifikasi sumber kesalahan (error) yang terjadi.

      *****

Referensi :

[1] Ainsworth, L., & Marshall, E. (1998). Issues of quality and practicability in task analysis: Preliminary results from
two surveys. Ergonomics, 41(11), 1607–1617. Also in Annett and Stanton (2000) op. cit. pp. 79–89.

[2]  Annett, J. (1969). Feedback and human behaviour. Harmondsworth, Penguin.

[3] Annett, J., (2000). Theoretical and pragmatic influences on task analysis methods. In J.-M. Schraagen, S. F.     Chipman, and V. L. Shalin (Eds.), Cognitive task analysis (pp. 25–37). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

[4] Annett, J. & Cunningham, D. (2000). Analyzing command team skills. In J.-M. Schraagen, S. F. Chipman, V. L.
Stalin. Cognitive task analysis (pp. 401–415). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

[5] Annett, J., Cunningham, D., & Mathias-Jones, P. (2000). A method for measuring team skills. Ergonomics, 43(8),
1076–1094.

[6] Annett, J., & Duncan, K. D. (1967). Task analysis and training design. Occupational Psychology, 41, 211–221.

[7] Shepherd, A. (2001). Hierarchical task analysis. London: Taylor & Francis.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s