HARMONISASI ORGANISASI DENGAN MAKRO ERGONOMI

oleh : 2508 100 162

Mengapa organisasi perlu haronisasi ?

Dalam sebuah proses perancangan sistem kerja yang ideal dan menjamin keamanan, kenyamanan serta produktivitas merupakan suatu tujuan yang sangat penting bagi banyak organisasi/perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan karena faktor sistem kerja yang sesuai dan kondusif (fits for people) merupakan salah satu kunci produktivitas dan sekaligus daya saing suatu organisasi/perusahaan. Banyak organisasi yang telah berdiri tetapi kemudian harus mengalami kemunduran karena permasalahan sistem kerja yang tidak lagi relevan dalam membangun keberlanjutan organisasi (Sustainability) dan kebutuhan akan daya saing (Competitiveness). Disisi lain, pada hampir semua organisasi/perusahaan yang unggul selalu diimbangi dengan perancangan dan implementasi sistem kerja yang baik pula. Sistem kerja yang dimaksud tidak hanya dalam konteks aktivitas yang berikaitan dengan hal-hal teknis, lebih dari itu adalah aktivitas strategis perusahaan.

Apa yang perlu diperhatikan dalam menciptakan harmonisasi orgnaisasi?

Dalam konteks organisasi, terdapat beberapa fakta yang harus dipertimbangkan sekaligus dihadapi oleh perusahaan dalam rangka membangun sebuah organisasi yang berkelanjutan. Dimana fakta tersebut merupakan faktor yang berinteraksi secara langsung dengan keberadaan dan keberlanjutan suatu organisasi/perusahaan. Faktor tersebut adalah Task (pekerjaan), Organization, Tools/Technology (Peralatan dan Teknologi yang digunakan perusahaan) dan Environment (Faktor Lingkungan). Adanya faktor-faktor tersebut memberikan konsekuensi yang sangat penting bagi perusahaan. Bahwa perancangan sistem kerja saat ini tidak hanya dilakukan dan dianalisis dalam tingkat mikro saja, tetapi perlu diimplementasikan untuk menghadapi ligkungan organisasi yang lebih besar lagi. Hal inilah yang pada dasarnya melatarbelakangi pentingnya implementasi konsep ergonomi makro (macro-ergonomic).

Apa itu makro ergonomi?

Dalam pendefinisiannya, konsep ergonomi makro memiliki arti yang beragam. Tetapi berdasarkan pada pengertian yang diutarakan oleh Hendrick menytakan bahwa

Ergonomi makro merupakan metode pendekatan sosio-teknik dari tingkat atas ke tingkat bawah yang diterapkan pada perancangan sistem kerja dan memastikan sistem kerja tersebut berjalan dengan harmonis.

Tujuan utama dari ergonomi makro yang utama adalah untuk mengharmonisasikan sistem kerja secara utuh baik pada tingkat mikro maupun makro, meningkatkan kepuasan kerja yang berkomitmen pada kesehatan dan keselamatan pekerja, dan untuk meningkatkan produktivitas

Dalam penerapannya, egonomi makro memiliki 2 elemen utama yaitu Organizational dan Work System Design. Sedangkan dalam merancangan sebuah Work System Design yang terdapat didalam organisasi perlu mempertimbangkan beberapa hal antara lain :

  1. Relevan Personnel

Dalam rangka mengingkatkan daya saing sebuah perusahaan, salah satu faktor utama yang dipertimbangkan dalam Work System Design adalah aspek Personnel nya. Faktor ini merujuk pada pemilihan personil organisasi yang tepat berdasarkan kualifikasi yang diperlukan

2. Technological

Teknologi yang diaplikasikan dalam perusahaan menjadi sesuatu yang sangat penting. Karena teknologi saat ini menjadi salah satu kebutuhan perusahaan dalam rangka meningkatkan daya saingnya terhadap rival. Dengan demikian faktor ini merujuk pada aplikasi teknologi yang sesuai bagi perusahaan dengan mempertibangkan beberapa kebutuhan beserta konstrain yang dimiliki perusahaan

3. Environment

Faktor lingkungan merupakan elemen eksternal dalam sebuah perusahaan. Meskipun demikian, lingkungan merupakan sesuatu yang berpengaruh terhadap keberlanjutan suatu perusahaan. Kondisi lingkungan yang secara dinamis mengalami perubahan, mengharuskan perusahaan perlu melakukan beberapa penyesuaian agar operasional perusahaan tidak bertentangan dengan kebutuhan lingkungan

Jika digambarkan dalam sebuah bagan, keterkaitan antara Organizational dan Work System Design dengan ketiga faktor tersebut adalah sebagai berikut :

Image

Gambar 1 Work System Design dan Interaksi dengan Elemen

Bagaimana evolusi dalam perancangan Work System Design?

Sesuai dengan kondisi perkembangan waktu, maka kebutuhan akan perancangan sistem kerja juga mengalami perkembangan yang signifikan. Hal ini tergambarkan dalam sebuah fase orientasi perancangan yang meliputi :

  1. a.    System centered design

Merupakan proses perancangan yang berorientasikan pada bagaimana suatu sistem dapat bekerja dengan fungsi tertentu (Functionality). Jenis rancangan ini ditekankan untuk mempermudah pekerja dalam melakukan pekerjaan tertentu. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk dapat meningkatkan produktivitas fisik dari suatu proses.

  1. b.    User centered design

Merupakan proses perancangan yang selain berorientasi pada cara kerja sistem, juga dengan mempertimbangkan sisi pengguna dari sistem yang ada (user). Proses ini dilakukan dengan melakukan beberapa penyesuaian terhadap interaksi antara manusia dengan sistem (Human Interface). Tujuan dari perancangan ini adalah agar sistem yang telah ada dapat dioperasikan dengan mudah oleh pengguna dalam melakukan fungsi kerja tertentu.

  1. c.    Socially centered design

Merupakan proses perancangan yang mempertimbangkan tingkat yang lebih luas lagi, yaitu tingkat organisasi/perusahaan. Hal ini dilakukan dengan cara menjadikan organisasi/perusahaan menjadi acuan dalam melakukan perancangan sistem. Sehingga perancangan sistem akan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan organisasi dan tidak sebaliknya.

Sebenarnya, bagaimana makro ergonomi memandang elemen-elemen organisasi serta apa tindakannya dalam menciptkan work system design yang ideal?

Dalam konsep ergonomi makro, fokus perhatian utamanya tidak hanya interaksi yang terjadi antara manusia dengan elemen-elemen yang ada dalam organisasi. Tetapi juga memperhatikan interaksi antar elemen organisasi dengan elemen yang lain termasuk elemen eksternal organisasi yaitu elemen lingkungan. Agar suatu organisasi dapat berjalan secara harmonis, maka perlu adanya langkah untuk menyeimbangkan interaksi-interaksi yang terjadi dalam organisasi (Balancing). Proses penyeimbangan ini selanjutnya diimplementasikan berupa model kesimbangan interaksi yang saling berpengaruh dan saling mendukunga satu sama lain dalam sebuah kerangka kerja perusahaan. Jika digambarkan dalam sebuah bagan, maka model kesimbangan ini akan berupa :

Image

Gambar 2 Balance Model dalam Ergonomi Makro

Apa akibat dari adanya interaksi yang tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi?

Keseimbangan yang dilakukan diantara elemen-elemen dan semua interaksi yang terjadi, memerlukan beberapa hal yang dipertimbangkan (Properties). Hal ini dilakukan agar hubungan yang terjadi baik antara manusia dengan elemen organisasi maupun antar elemen organisasi dapat berjalan sesuai dengan tujuan (fits). Interaksi yang tidak harmonis diantara faktor-faktor dalam model tersebut dapat menyebabkan suatu fenomena yang disebut sebagai kemungkinan ketidaksesuaian (Possible Misfits). Beberapa contoh Possible Misfits yang dapat terjadi antara lain :

  1. Ketarampilan pekerja yang tidak sesuai dengan kualifikasi pekerjaan
  2. Kebijakan manajemen yang tidak dipatuhi oleh pekerja
  3. Teknologi yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan pekerja/task/perusahaan
  4. Keberadaan perusahaan/organisasi mengancam keselamatan lingkungan
  5. Beberapa faktor luar yang mempengaruhi kerja\

Bagaimana makro ergonomi berperan dalam mengatasi misfits ?

Berdasarkan pada konsep ergonomi makro, maka terdapat beberapa langkah untuk mengatasi berbagai possible misfits tersebut sehingga diperoleh kondisi kerja yang ideal. Langkah tersebut meliputi :

  1. Analyze whole system, yaitu melakukan analisis yang menyeluruh terhadap faktor dan elemen yang terdapat didalam perusahaan. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat mengetahui semua permasalahan yang terjadi, posisi permasalahan dan dampak permasalahan terhadap sistem. Luaran dari aktivitas ini adalah berupa profil kondisi dari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perusahaan dan elemen-elemennya
  2. Determine ‘Fit’ for each element, yaitu merupakan langkah untuk menentukan penyesuaian terhadap elemen perusahaan agar sesuai dengan kebutuhan tujuan organisasi. Dengan demikian dapat secara efektif memberikan daya dukung bagi kelancaran organisasi.

Dengan demikian sangat penting adanya suatu mekanisme pengaturan sistem kerja yang diterapkan secara keseluruhan. Dengan adanya pengaturan secara keseluruhan ini diharapkan dapat memberikan dampak lebih terhadap upaya peningkatan optimalisasi dan solusi sistem (Global Solution Optimization).

—————————————————————————————————————————————————

[references]

Hendrick, H.W. & Kleiner, M.B. (2002). Macroergonomics Theory, Methods, and Applications. Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers, Mahwah, New Jersey.

Robertson, M.M (2001). Macroergonomics: A Work System Design Perspective. Prosiding of the SELF-ACE 2001 Conference – Ergonomics for changinwork.

Wignjosoebroto, Sritomo (2000). Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Guna Widya, Surabaya.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to HARMONISASI ORGANISASI DENGAN MAKRO ERGONOMI

  1. Rail Su says:

    wah jarang nih yg mbahas ergonomi makro / ergonomi organisasi, mantabz
    saya jg mau sharing ttg ergonomi organisasi di http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/01/ergonomi-organisasi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s