Job Shifting

oleh : 2508100092

Kerja merupakan segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam rangka mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Kerja memang salah satu aktivitas yang sangat penting, namun bagaimana jika pekerja mulai mengalami stress dalam bekerja? Apa yang menyebabkan timbulnya stress pada pekerja?  Akhir-akhir ini sering kita mendengar istilah job shifting. Ya, job shifting adalah salah satu upaya perusahaan untuk memaksimalkan produktivitas perusahaan.  Namun adanya job shifting ini malah berdampak negatif terhadap karyawan, salah satunya adalah kelelahan mental atau stress. Sebelum kita kenali lebih jauh tentang apa itu job shifting, apa saja dampak yang ditimbulkan dari job shifting dan sebagainya, mari kita ketahui dahulu lebih lanjut mengenai latar belakang  job shifting berikut ini.

Dalam bekerja, terdapat 2 macam aktivitas yaitu aktivitas fisik dan psikis. Aktivitas fisik meliputi pekerjaan yang melibatkan kerja otot, membutuhkan pergerakan dari anggota tubuh manusia, dan memerlukan energi. Sedangkan aktivitas psikis meliputi aktivitas yang melibatkan kerja otak, contohnya ketika brain storming ide, beradaptasi dengan lingkungan kerja, bersosialisasi dengan rekan kerja, bahkan ketika pekerja tersebut mengalami stress. Stress ini bisa disebabkan oleh waktu kerja yang terlalu lama, atau beban kerja yang terlalu berat. Apabila stress ini semakin berlanjut maka bisa saja menyebabkan kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja tentunya sangat dihindari oleh perusahaan manapun, karena dapat merugikan perusahaan. Bagaimana kecelakaan kerja ini dapat merugikan perusahaan? Ketika kecelakaan kerja terjadi, produk yang dihasilkan oleh perusahaan tentunya tidak akan maksimal. Diperlukan waktu untuk menangani kecelakaan kerja tersebut, akibatnya waktu pengerjaan produk akan tertunda. Penundaan waktu pengerjaan yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja ini dapat menambah leadtime pengiriman kepada pelanggan. Selain itu, kecelakaan kerja bisa mengakibatkan produktivitas karyawan menurun dan produk yang dihasilkan tidak maksimal. Hal-hal tersebut dapat menjadi faktor penyebab menurunnya permintaan. Penurunan jumlah permintaan inilah yang menyebabkan berkurangnya profit yang diperoleh perusahaan. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan berusaha untuk meminimalisir faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja. Secara umum, terdapat dua golongan penyebab kecelakaan antara lain:

faktor penyebab kecelakaan secara umum

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, faktor manusia menempati posisi yang sangat penting terhadap terjadinya kecelakaan kerja yaitu antara 80-85% (Suma’mur, 1993).  Salah satu faktor penyebab utama kecelakaan kerja yang disebabkan oleh manusia adalah stress dan kelelahan (fatigue). Kelelahan kerja memberi kontribusi 50% terhadap terjadinya kecelakaan kerja (Setyawati, 2007). Kelelahan bisa disebabkan oleh sebab fisik ataupun tekanan mental.

Angka keselamatan kerja di Indonesia masih sangat buruk. Pemerintah mencatat sepanjang 2009 telah terjadi sebanyak 54. 396 kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Angka tersebut mengalami tren menurun bila dibandingkan dengan tahun 2007 yang sempat mencapai 83.714 kasus, dan melorot pada 2006 yang hanya 58.600 kasus. Salah satu penyebab fatique adalah ganguan tidur (sleep distruption) yang antara lain dapat dipengaruhi oleh kekurangan waktu tidur dan gangguan pada circadian rhythms akibat jet lag atau shift kerja (Wicken, et al, 2004).

Circadian rhytms dan shift kerja (Job shifting). untuk istilah shift kerja kita mungkin semua pernah mendengarnya. Shift kerja merupakan pembagian waktu kerja dimana pekerja dijadwalkan untuk bekerja di jam tertentu. Namun apa itu circadian rhytms?

Circadian rhythms adalah proses-proses yang saling berhubungan yang dialami tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam” (Tayyari dan Smith, 1997). Circadian rhythms menjadi dasar fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian.

Ilustrasi dari circadian rhytms dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Circadian rhytms

Job shifting memang menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar. Selain itu job shifting juga dapat mengatasi masalah yang dapat menyebabkan stress yang dialami karyawan dimana salah satu penyebab stress adalah waktu yang terlalu lama dalam bekerja. Namun di sisi lain job shifting justru berdampak negatif di berbagai aspek, salah satunya adalah aspek fisiologis yaitu mengganggu circadian rhytms. Dengan adanya job shifting tentu akan mempengaruhi siklus tidur dan bangun harian. Misalnya, seseorang terbiasa untuk tidur pada jam 9 malam dan bangun pada jam 5 pagi. Namun suatu hari ia ditempatkan untuk bekerja pada shift malam pukul 22.00-06.00. tentu dia tidak akan tidur pada waktu shift kerjanya, namun manusia tentu perlu tidur untuk mengistirahatkan pikirannya. Sebagai gantinya ia tidur pada siang hari, yang mana waktu tersebut bukan waktu dimana ia biasanya tidur. Selain dari aspek fisiologis, job shifting juga berdampak di berbagai aspek, antara lain:

  1. Aspek Psikologis
    Stress akibat shift kerja akan menyebabkan kelelahan (fatique) yang dapat menyebabkan gangguan psikis pada pekerja, seperti ketidakpuasan dan iritasi.
    stress yang ditimbulkan akibat shift kerja
  2.  Aspek Kinerja
    Kinerja pekerja, termasuk tingkat kesalahan, ketelitian dan tingkat kecelakaan, lebih baik pada waktu siang hari dari pada malam hari, sehingga dalam menentukan shift kerja harus diperhatikan kombinasi dari tipe pekerjaan, sistem shift dan tipe pekerja.
  3. Domestik dan sosial
  • Shift kerja akan berpengaruh negatif terhadap hubungan keluarga seperti tingkat berkumpulnya anggota keluarga dan sering berakibat pada konflik keluarga.
  • Secara sosial, shift kerja juga akan mempengaruhi sosialisasi pekerja karena interaksinya terhadap lingkungan menjadi terganggu.

Dalam melakukan job shifting, metode yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Berikut ini adalah berbagai macam metode shift kerja yang umum diterapkan oleh perusahaan.

1. 3 shift systems

Metode shift ini adalah metode yang paling sering digunakan pada perusahaan di Indonesia. Dalam sehari (24 jam) dibagi menjadi 3 shift  kerja. Terdapat 2 macam pembagian dari periode di setiap shiftnya, yaitu:

  • Mulai jam 00.00-08.00, Jam 08.00-16.00, Jam 16.00-00.00
  • Mulai jam 06.00-14.00, Jam 14.00-22.00, Jam 22.00-06.00

Biasanya shift kerja ini digunakan di perusahaan manufaktur, dimana setiap harinya mereka harus mengejar target produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

2. Four on, Four Off

Shift kerja 12 jam non stop selama 4 hari kerja dan hari libur 4 hari juga. Metode shift kerja yang seperti ini telah banyak diaplikasikan di United Kingdom, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Dengan metode shift kerja seperti ini didapatkan 48 jam kerja per minggunya (42 jam rata-rata per tahunnya) dengan periode waktu per shift yang panjang. Dengan begitu metode four on, four off lebih banyak disukai karena memperpendek 1 minggu (7 hari) kerja menjadi 4 hari, dan memberikan ekstra waktu untuk beristirahat bagi pekerjanya. Contoh : apabila karyawan kerja mulai hari sabtu maka dia mulai masuk lagi hari minggu di minggu depan.

3. Four On, Three Off

  • Metode Shift kerja ini memiliki pola 4 hari kerja, 3 hari libur.

4. Four On, Two Off

  • Seminggu hanya 2 hari libur kerja

5. Split shift

Biasanya digunakan pada pekerjaan seperti catering, hotel dan transportasi. Pelayan dan koki bekerja selama 4 jam di pagi hari (untuk menyiapkan makan siang) dan 4 jam pada malam hari (menyiapkan makan malam). Jam yang dipakai biasanya jam 10.00 – 14.00, dan jam 17.00-21.00.

6. Earlies and Lates

Biasa digunakan untuk pekerjaan seperti customer service dan toko-toko/mall. Contoh : jam operasional mall biasanya jam 10.00 – 22.00, namun para karyawannya datang lebih awal dari jam 10.00 dan pulang lebih lama dari jam 22.00.

Terdapat beberapa macam cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesalahan dalam bekerja (Berger dan Hobbs, 2006) :

  1. Melakukan tidur siang pada pekerja shift malam
  2. Menghilangkan kerja lembur hingga lebih dari 12 jam
  3. Mengerjakan tugas sebelum jam 4 pagi untuk shift malam

Perusahaan juga dapat melakukan rekayasa untuk pekerja shift malam untuk mengurangi kesalahan, maupun kecelakaan kerja. Berikut adalah contoh rekayasa yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi kesalahan maupun kecelakaan yang terjadi pekerja :

1. Mengatur suhu AC pada shift kerja malam.

Suhu AC pada malam hari diusahakan untuk lebih tinggi dibanding dengan shift pagi atau siang. Karena biasanya manusia akan lebih mudah mengantuk saaat suhu udara dingin. Hal ini biasanya dilakukan oleh perusahaan manufaktur maupun jasa yang bekerja selama 24 jam non stop seperti minimarket Circle K, atau PT. Petrokimia Gresik.

2. Menyediakan fasilitas khusus bagi pekerja shift malam

Perusahaan dapat menyediakan fasilitas khusus bagi pekerja shift malam. Fasilitas tersebut contohnya radio, dan kopi. Radio dapat membantu pekerja untuk lebih berkonsentrasi dalam bekerja agar tidak mengantuk, terutama untuk pekerjaan yang melayani pelanggan selama 24 jam. Seperti yang dilakukan pada oleh PT. Jasa Marga, yang menyediakan radio di setiap loket gerbang tol. Maka tidak heran apabila kita melewati gerbang tol diatas jam 10 malam akan terdengar suara musik yang sangat keras dari dalam loket penjaga gerbang tol, karena ini adalah suatu usaha perusahaan untuk mengurangi kesalahan pekerjanya pada shift malam.

penjaga gerbang tol harus selalu siaga untuk melayani setiap kendaraan yang lewat

3. Mengatur intensitas pencahayaan di stasiun kerja

Pencahayaan pada malam hari biasanya diatur dengan Intensitas yang tinggi.  Manusia akan lebih berekonsentrasi untuk bekerja di tempat yang terang dibanding dengan tempat yang redup.

Berikut ini merupakan beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penyusunan shift kerja antara lain:

a. Penggantian shift kerja sebaiknya dengan pola rotasi maju dengan waktu rotasi kurang dari 2 minggu dan dengan waktu libur rata-rata 2 hari/minggu
b. Lama shift kerja sebaiknya tidak lebih dari 8 jam, jika lebih dari jam tersebut beban kerja sebaiknya dikurangi
c. Pada pekerja dengan shift malam dianjurkan ada waktu tidur siang sebelumnya dan bila melaksanakan pekerjaan dengan pertimbangan khusus sebaiknya dilaksanakan sebelum jam 4 pagi agar kesalahan dapat dikurangi
d. Aspek demografis seperti jenis kelamin dan umur perlu diperhatikan dalam penyusunan shift kerja

Sebagai penutup berikut ini merupakan link video mengenai fakta-fakta seputar shift worker, latar belakang dibutuhkannya shift worker, apa saja dampak yang dirasakan oleh adanya shift kerja, dan banyak lagi fakta tentang shift kerja yang dipaparkan pada link berikut ini :

http://www.youtube.com/watch?v=-7huzKi9-ls

Semoga bermanfaat🙂

Referensi:

Aryono, Ahmad.  2010. “2009, 54.398 Kasus Kecelakaan Kerja terjadi di Indonesia”. http://www.solopos.com/2010/channel/nasional/2009-54398-kasus-kecelakaan-kerja-terjadi-di-indonesia-11664 (diakses tanggal 20 Desember 2011)

unnamed. 2011. “Shift Patterns”. http://www.workingtime-solutions.com/expertise_shiftpatterns.htm. (Diakses tanggal 25 Desember 2011)

The Wake up Squad. 2011. “Its Time To Shift Our Asssumption About Shift Worker”. http://www.youtube.com/watch?v=-7huzKi9-ls (Diakses tanggal 20 Desember 2011)

Maurits, L.S.,  Widodo, I. D., 2008, “Faktor dan Penjadualan Shift  Kerja”, Teknoin, 11-22.

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s