Pengukuran Workload dengan pendekatan Subyektif menggunakan framework dari NASA-TLX

By: 2508100041

Apakah anda pernah mendengar istilah mental workload atau beban kerja mental? Berbeda dengan beban kerja fisik, beban kerja mental adalah beban kerja yang tidak hanya memanfaatkan kinerja fisik tetapi lebih dipusatkan pada pemikiran sehingga mempengaruhi mental si pekerja. Untuk lebih mudah membedakannya, berikut adalah contoh perbandingan beban kerja mental dan beban kerja fisik.

Beban kerja fisik bisa kita temui pada pekerja-pekerja yang lebih memanfaatkan fisik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Salah satu contohnya adalah seorang pelinting rokok. Dalam melaksanakan pekerjaannya, pelinting rokok akan merasa beban kerja mereka terpusat pada fisik tanpa terbebani tanggung jawab yang besar. Berbeda dengan seorang pilot yang memiliki beban kerja mental lebih besar. Pilot memiliki tanggung jawab dan beban yang besar dalam menjalankan pekerjaannya. Mental pilot akan terbebani bahwa ia harus menerbangkan pesawat dengan benar karena membawa banyak penumpang dan bertanggung jawab untuk menjaga mereka selamat sampai tujuan.

Selain pada pusat bebannya, perbedaan beban kerja mental dengan fisik bisa dilihat dari output yang dihasilkan. Hasil pekerjaan dari tipe beban kerja fisik bisa diukur dengan mudah. Sedangkan pada pekerjaan dengan beban mental, output sulit untuk diukur dan dibandingkan. Misalnya pada contoh pelinting rokok dan pilot. Antara pelinting rokok satu dengan lainnya bisa diukur seberapa besar beban fisik yang dihadapi berdasarkan jumlah lintingan rokok yang dihasilkan. Sedangkan pada seorang pilot, besarnya beban mental yang dihadapi tidak bisa terukur secara jelas. Misalkan beban mental seorang pilot pesawat Surabaya-Jakarta tidak bisa dikatakan dua kali lebih berat dibandingkan beban mental pilot pesawat Surabaya-Jogjakarta meskipun jarak Surabaya-Jakarta dua kali lebih jauh daripada Surabaya-Jogjakarta.

Pengukuran perbedaan beban kerja mental yang dialami oleh para pekerja bisa dilakukan dengan berbagai metode baik secara subyektif maupun secara obyektif. Contoh pengukuran beban mental secara obyektif adalah dengan mngukur denyut jantung sesorang ketika bekerja. Pengukuran ini digunakan untuk mengukur beban kerja dinamis seseorang sebagai manifestasi gerakan otot. Semakin cepat denyut jantung mengindikasikan bahwa beban mental yang dialami pekerja tersebut semakin berat. Namun, tingkat kecepatan denyut jantung tersebut tidak menunjukkan secara tepat besarnya beban kerja mental yang dialami. Misalkan Diansastro yang memiliki denyut jantung 100 kali per menit saat bekerja belum tentu memiliki beban mental yang sama besar dengan Luna Maya yang memiliki denyut jantung 100 kali per menit juga. Selain  itu masih ada pula beberapa pengukuran beban kerja mental secara obyektif yang lainnya antara lain pengukuran cairan dalam tubuh, kecepatan kedipan mata, dan sebagainya.

Pengukuran obyektif seperti telah disebutkan di atas jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk peralatan pengukurannya. Selain itu pengukuran ini juga dianggap tidak sebanding dengan hasilnya yang belum tentu akurat. Dari sini muncul alternatif lain yaitu pengukuran dengan menggunakan cara subyektif. Metode pengukuran beban kerja subyektif yang populer digunakan adalah metode NASA-TLX (NASA Task Load Index). Metode NASA-TLX dikembangkan oleh Sandra G. Hart dari NASA-Ames Research Center serta Lowell E. Staveland dari San Jose State University pada tahun 1981 (Hancock dan Meshkati, 1988). Metode ini berupa kuesioner dikembangkan berdasarkan munculnya kebutuhan pengukuran subjektif yang lebih mudah tetapi lebih sensitif pada pengukuran beban kerja. Metode NASA-TLX merupakan prosedur rating multi dimensional, yang membagi workload atas dasar rata-rata pembebanan 6 dimensi, yaitu Mental Demand, Physical Demand, Temporal Demand, Effort, Own Performance, dan Frustation. NASA-TLX dibagi menjadi dua tahap, yaitu perbandingan tiap skala (Paired Comparison) dan pemberian nilai terhadap pekerjaan (Event Scoring).

Metode pengukuran dengan NASA-TLX ini banyak digunakan dibandingkan metode obyektif karena cukup sederhana dan tidak membutuhkan banyak waktu serta biaya. Peneliti cukup membuat kuesioner dan menyebarkannya pada para pekerja dalam yang akan diukur beban mentalnya. Perlu digarisbawahi bahwa yang diukur disini merupakan beban kerja dari jenis pekerjaannya, bukan beban kerja yang dimiliki oleh masing-masing pekerja. Contoh sederhananya, beban kerja yang diukur bukan antara staf marketing 1 dengan staf marketing 2 melainkan antara staf marketing dengan staf accounting. Karena bersifat subyektif, data yang diambil harus lebih dari satu sumber untuk meminimasi subyektifitas. Selain itu dalam proses pengolahan kuesioner juga harus memperhatikan kevalidan dari data yang digunakan. Data yang dianggap tidak sesuai atau outlier harus dieliminasi agar tidak mengganggu hasil pengukuran.

Hancock dan Meshkati (1988) menjelaskan langkah-langkah dalam pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan metode NASA-TLX.

1. Penjelasan indikator beban mental yang akan diukur

2. Pembobotan

Pada bagian ini responden diminta untuk melingkari salah satu dari dua indikator yang dirasakan lebih dominan menimbulkan beban kerja mental terhadap pekerjaan tersebut. Kuesioner NASA-TLX yang diberikan berupa perbandingan berpasangan. Dari kuesioner ini dihitung jumlah tally dari setiap indikator yang dirasakan paling berpengaruh.  Jumlah tally menjadi bobot untuk tiap indikator beban mental.

3. Pemberian Rating

Pada bagian ini responden diminta memberi rating terhadap keenam indikator beban mental. Rating yang diberikan adalah subyektif tergantung pada beban mental yang dirasakan oleh responden tersebut. Untuk mendapatkan skor beban mental NASA-TLX, bobot dan rating untuk setiap indikator dikalikan kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan 15 (jumlah perbandingan berpasangan).

4. Menghitung nilai produk

Diperoleh dengan mengalikan rating dengan bobot faktor untuk masing-masing deskriptor. Dengan demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD, CE, FR, EF)

Produk = rating x bobot faktor

5. Menghitung Weighted Workload (WWL)

Diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk

6. Menghitung rata-rata WWL

Diperoleh dengan membagi WWL dengan jumlah bobot total

7. Interpretasi Skor

Berdasarkan penjelasan Hart dan Staveland (1981) dalam teori NASA-TLX, skor beban kerja yang diperoleh terbagi dalam tiga bagian yaitu pekerjaan menurut para responden tergolong agak berat jika nilai >80, nilai 50-80 menyatakan beban pekerjaan sedang, sedangkan nilai <50 menyatakan beban pekerjaan agak ringan.

Output yang dihasilkan dari pengukuran dengan NASA-TLX ini berupa tingkat beban kerja mental yang dialami oleh pekerja. Hasil pengukuran ini bisa menjadi pertimbangan manajemen untuk melakukan langkah lebih lanjut, misalnya dengan mengurangi beban kerja untuk pekerjaan yang memiliki skor di atas 80, kemudian mengalokasikannya pada pekerjaan yang memiliki beban kerja di bawah 50 atau langkah-langkah yang lainnya.

Semoga bermanfaat  :)

Referensi L2H_607_022

referensi Pengukuran-Beban-Kerja-Mental

Referensi The Load of Mental Work – Final

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

13 Responses to Pengukuran Workload dengan pendekatan Subyektif menggunakan framework dari NASA-TLX

  1. eko says:

    apakah perlu di validitasi kalo menggunakan metode ini pak? pake cara apa pak?
    trimakasih pak

    • apligo says:

      Pengukuran menggunakan kerangka NASA-TLX mengacu beberapa parameter aspek mental yang cenderung subyektif dan coba didekati dengan menggunakan kuisioner. Hal ini tentu saja harus di validasi. Validasi dapat dilakukan mengikuti teknis standar dalam observasi, dapat menggunakan pendekatan statistik dengan membandingkan konsistensi dan variansi hasil yang didapat dari beberapa obyek pengukuran. Terimakasih

  2. eko says:

    apakah setiap indikator atau WWL saja yang perlu di validasi pak, maaf banyak tanya pak

    • apligo says:

      Betul,setiap faktor yang ingin kita dapatkan responnya dari obyek observasi mustinya harus divalidasi. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka validasi output yaitu WWL juga bisa dilakukan.

      • eko says:

        referensi untuk karya tulis yg bahasa indonesia apa ada ya pak?

      • apligo says:

        maaf kami belum mengetahuinya. kalau paper tentang NASA TLX, rasanya ada peneliti dari ITB yang sudah mengimplementasikannya. sementara itu info kami.

  3. 2509100124_Dina Aulia P says:

    Artikel ini cukup bermanfaat dalam pengetahuan merancang sistem kerja yang produktif,tetapi ada yang ingin saya tanyakan. Apakah terdapat metode subyektif lain untuk pengukuran mental workload ini? Dan jika dibandingkan dengan NASA-TLX ini apa kelebihan dan kekurangan masing-masing metode tersebut Pak? Terima kasih Pak.

  4. Tengku Fariz says:

    mas tally pada pembobotan tu bagaimana?

  5. apligo says:

    Tally menunjukkan frekuensi item penilaian dalam NASA TLX yang kemudian dijadikan sebagai bobot antar item penilaian yang menunjukkan tingkat kepentingan masing-masing item penilaian

  6. yunita says:

    pak, tolong jelaskan cara menghitung tally pembobotan, saya masih kurang mengerti.
    misalnya :
    dalam kuesionernya dia melingkari MD sebanyak 4 kali. apakah 4 X 15 atau 4 : 15

  7. Chivalrouz says:

    kelebihan dan kekurangan dari metode ini apa ya pak?

    • apligo says:

      Metode NASA-TLX secara praktis mudah dilaksanakan dengan kriterianya dan skala ukur yang ringkas. Namun subyektifitas dalam penilaian atau pengukuran tiap kriteria NASA-TLX cenderung membuat tingkat keyakinan hasil pengukuran kurang baik. Score card pada setiap level skala ukur perlu dirinci agar penilaian menjadi lebih yakin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s