Beban Kerja Mental ( Mental Workload ) pada Karyawan

 Oleh 2507100116

Karyawan merupakan asset yang sangat penting bagi berbagai perusahaan. Sehingga penting bagi perusahaan untuk selalu mengetahui kondisi karyawannya dan selalu memantau standar kinerja mereka supaya tujuan perusahaan dapat tercapai. Tetapi akan muncul suatu permasalahan di perusahaan jika banyak karyawannya mengalami stress. Bahkan sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Yaman mengungkapkan bahwa lebih dari 20 %  anggaran dari institusi pelayanan umum telah dikeluarkan untuk menangani keluhan-keluhan yang berkaitan dengan stress karyawan. Oleh karena tingkat stress karyawan yang cukup terlihat signifikan maka perusahaan perlu mewaspadainya sebab hal tersebut akan menurunkan performance karyawannya.

Stress yang dialami oleh para karyawan menurut Sukmawati dapat disebabkan antara lain karena :

  • Frustasi, yaitu apabila ada halangan yang menghambat maksud dan tujuan yang diinginkan,
  • Konflik, yaitu terjadi jika tidak dapat memilih antara dua atau lebih kebutuhan / tujuan yang diinginkan,
  • Tekanan/ krisis, yaitu beban kerja mental dan fisik sehari-hari meskipun kecil tetapi menumpuk dapat menyebabkan stres yang hebat.

Berdasarkan point-point yang telah dikemukakan Sukmawati di atas dapat dilihat bahwa perusahaan berperan pula dalam peningkatan tingkatan stress karyawannya karena perusahaan yang menentukan beban kerja dari karyawannya. Terutama di sini beban kerja mental yang menyebabkan stress pada karyawan.  Jika perusahaan memberikan mental task yang berlebihan pada karyawannya, tentu akan akan meningkatkan beban kerja mental (mental workload) mereka dan kemudian dapat memancing timbulnya stress pada karyawan.

Adapun contoh-contoh dari mental task menurut Ridley antara lain :

  • Kewaspadaan
  • Mendeteksi permasalahan (Problem recognition and diagnosis)
  • Penyusunan dan pelaksanaan suatu rencana
  • Pemilihan prioritas
  • Mengingat hal-hal yang perlu dilakukan
  • Membuat keputusan yang cepat berdasarkan pada integrasi pengalaman dan pemahaman tentang situasi saat ini.
  • Mengatasi kejadian tak terduga

Dengan diketahuinya contoh-contoh mental task tersebut maka sebuah perusahaan akan dapat mengetahui beban kerja apa yang diterima oleh karyawannya. Apakah karyawan A memiliki beban kerja mental atau tidak dan seberapa besar beban kerja mental yang akan ditangggungnya. Dengan mengetahui beban kerja mental karyawannya maka perusahaan diharapkan lebih bijaksana dalam memperhatikan kebutuhan pekerjanya, analisis ergonomi, analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) hingga pada penentuan penggajian. Dan pada akhirnya dapat menjaga performance dari karyawannya.

Dalam hal ini salah satu contoh bidang pekerjaan yang memiliki situasi kerja dengan tingkat beban kerja mental yang tinggi adalah karyawan pada instansi kesehatan, khususnya perawat. Hal ini dapat dilihat pada pekerjaan yang harus mereka kerjakan diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam kerja.
  • Dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat dalam mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien
  • Menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan kondisi terminal.
  • Melaksanakan tugas delegasi dari dokter
  • Menghadapi tuntutan dari keluarga pasien

Dari beberapa jenis tugas yang harus dilaksanakan oleh perawat tersebut, terlihat bahwa mereka melaksanakan mental task yang memiliki beban kerja mental yang tinggi. Karena tugas-tugas mereka melibatkan mental task yang telah disebutkan Ridley.  Meskipun mereka juga melakukan tugas-tugas fisik tetapi mental task mereka juga cukup untuk menambah beban kerja mereka.

Pada awal pembahasan disebutkan bahwa performance karyawan akan menurun jika mereka menghadapi kondisi dengan tingkat stress tinggi karena beban kerja mental yang belebihan. Tetapi dengan beban kerja mental yang rendah yang diterima oleh karyawan, performance mereka juga akan rendah. Hal tersebut didasarkan pada  Yerkes- Dodson Law yaitu  hubungan antara beban kerja dengan kinerja  dapat digambarkan sebagai bentuk kurva U terbalik.

Kurva memperlihatkan bahwa dengan beban kerja yang yang terlalu rendah ataupun terlalu tinggi maka akan menyebakan performance pekerja rendah. Hal itu juga berlaku untuk beban kerja mental. Jika beban kerja mental seorang pekerja rendah, maka pekerja tersebut akan mudah bosan dan cenderung kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaan yang dilakukan dan menurunnya konsentrasi. Kejadian tersebut dapat dijelaskan dengan pendapat yang dikemukakan  Grandjean (1993) bahwa setiap aktivitas mental akan selalu  melibatkan unsur persepsi, interpretasi dan proses mental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensor untuk diambil suatu keputusan atau proses mengingat informasi yang lampau. Jadi menurunnya konsentrasi pekerja merupakan aktivitas mental dimana terjadi penurunan proses mental untuk menerima suatu informasi. Yang dapat diartikan dengan menurunnya aktivitas mental maka beban kerja mental pekerja menurun dan performance kerja menurun pula.

Oleh karena adanya dampak negatif bagi sebuah perusahaan jika memberikan beban kerja mental  terlalu tinggi ataupun terlalu rendah bagi karyawannya, maka diperlukanlah pengukuran  untuk mengetahui beban kerja mental yang tepat untuk karyawannya.

Sebagai penutup berikut merupakan salah satu video yang berkaitan tentang evaluasi mental workload pada sopir

Referensi

Ridley, Donald, ____ , Mental Workload Assesment, [online], ( http://homepages.uel.ac.uk/D.Ridley/PY303/MW%20hand%20outWEb.htm, diakses tanggal 20 Desember 2011)

Sukmawati,  Fitri, 2008, BEBAN KERJA YANG RANGKAP DAPAT MENYEBABKAN STRES KERJA, [online], ( http://www.bandiklat.kalbarprov.go.id/admin/upload/Beban%20Kerja.doc , diakses tanggal 20 Desember 2011)

________ , Manajemen Stress, [online], ( http://sanglahhospitalbali.com/informasi.php?ID=23 diakses tanggal 20 Desember 2011)

Nurrohim, Asep, _______,  [online], ( http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=96670, diakses tanggal 20 Desember 2011)

Husein, Torik, ________, Analisa & Perancangan  Kerja, [online], (http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/92005-13-403147254859.doc , diakses tanggal 20 Desember 2011)

About apligo

Kumpulan referensi Aplikasi Ergonomi
This entry was posted in Artikel Ergonomi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Beban Kerja Mental ( Mental Workload ) pada Karyawan

  1. 2509100088_Rozy Fatahurrohman says:

    “Sebagai tambahan referensi, untuk mengetahui bagaimana pembebanan kerja seorang karyawan atau pekerja, dapat juga dilakukan dengan menggunakan perhitungan Psychological Performance, dimana disana dapat diperhitungkan waktu istirahat dan waktu recorvery yang ideal bagi pekerja tersebut. Hingga akhirnya beban kerja yang berlebih dapat dihindari.”
    Untuk catatan, kurva yang dimaksudkan yaitu dari Yerkes-Dodson Law tidak tergambarkan dalam artikel ini, sehingga interpretasi datanya terlihat kurang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s